Sakit hati√

3.9K 161 6
                                        

Setelah kejadian berduka kemarin, Alea hanya mengurung diri di dalam kamar. Ia tak mau makan, tak mau keluar, bahkan tak memiliki semangat sedikit pun untuk melakukan apa pun. Wajahnya pucat, matanya sembab akibat terus menangis, dan suaranya berubah serak.

Luna dan David segera kembali ke Indonesia setelah mengetahui Christ dan Inez telah tiada. Sejak tiba, Luna tak henti-hentinya membujuk Alea agar mau makan. Namun hasilnya tetap sama. Alea selalu menolak hingga Luna kebingungan harus melakukan apa lagi agar keponakannya itu mau mengisi perutnya.

"Alea sayang... makan ya. Dari kemarin kamu belum makan sama sekali. Walaupun cuma sedikit, perut kamu harus diisi," bujuk Luna sambil menyodorkan semangkuk bubur hangat.

Alea menggeleng pelan.

"Gamau, Tan... Alea nggak lapar," ucapnya lirih dengan suara yang serak.

Luna mengembuskan napas panjang. Hatinya terasa sesak melihat kondisi Alea yang terus menyiksa dirinya sendiri.

"Alea... Tante mohon. Jangan nyiksa diri kamu kayak gini. Tante nggak tega lihat kamu terus nangis dan nggak makan."

Alea hanya menunduk.

Luna mengusap kepala Alea dengan lembut sebelum kembali berbicara.

"Dari kecil Tante selalu diajarin sama kakek Tante buat belajar mengikhlaskan sesuatu yang memang nggak bisa kembali lagi."

"Tapi awalnya Tante juga nggak bisa nerima. Tante marah, kecewa, bahkan nyalahin keadaan. Sampai akhirnya Tante sadar... ada hal-hal yang memang udah jadi takdir Tuhan."

"Apa yang Alea alami sekarang memang berat, sangat berat. Kehilangan Mamih sama Papih bukan hal yang gampang buat diterima."

"Tapi Tante percaya... pelan-pelan nanti kamu bisa bangkit. Bukan buat ngelupain mereka, tapi buat nerusin hidup yang pasti mereka pengen kamu jalanin."

Mendengar itu, air mata Alea kembali pecah. Ia langsung memeluk Luna erat sambil menangis sesenggukan.

"Hiks... Tante..."

Luna membalas pelukan itu sambil mengusap punggungnya.

"Nangis aja, sayang. Nggak apa-apa. Tapi setelah ini... makan ya? Sedikit aja."

Alea mengangguk kecil.

"Iya, Tan."

Luna tersenyum tipis lalu menyuapi Alea perlahan. Walaupun hanya beberapa suap, setidaknya Alea akhirnya mau mengisi perutnya.

Sementara itu...

"Kamu tenang aja, Andrew," ucap David sambil menepuk pundaknya. "Om yang bakal ngurus perusahaan Papih kamu untuk sementara. Kamu fokus aja sama perusahaan pribadi kamu."

Andrew mengangguk pelan.

"Makasih banyak, Om. Kalau nggak ada Om... mungkin semuanya bakal kacau."

David tersenyum menenangkan.

"Om juga nggak nyangka Christ sama Inez bakal pergi secepat ini. Tapi mau gimana lagi... semua udah jadi takdir."

Andrew menghela napas.

"Semoga aja... lama-lama Andrew bisa ikhlas."

"Pasti bisa."

Di rumah sakit.

"B-bright?" Aksa membelalak saat melihat Bright bersama seorang perempuan.

"Itu cewek siapa, anjir?" tanya Edwin.

"Gila, Lu punya simpenan sekarang?" sahut Devan.

"Jangan-jangan selingkuh, nih."

Bright langsung mengangkat tangan.

POSSESIVE BOYFRIEND[END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang