Kehilangan√

3.7K 134 1
                                        

"Eungh..."

Alea mengerang pelan. Kelopak matanya terbuka perlahan. Kepalanya masih terasa berat, sementara pandangannya berusaha fokus pada langit-langit kamar rumah sakit.

"Alea... kamu udah bangun?" tanya Lisa yang sedari tadi duduk di samping ranjang.

Perlahan Alea menoleh. Dalam hitungan detik, ingatannya kembali pada kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya.

Matanya langsung membesar.

"Kak Lisa..."

"Iya, Al. Jangan banyak gerak dulu. Infus kamu masih terpasang."

Namun Alea mendadak bangun hingga selang infusnya tertarik.

"Kak Lisa... hiks... tolong... mamih... papih... tolong..." ucapnya sambil menangis histeris.

Lisa buru-buru memegang bahu Alea.

"Iya, Al. Kakak tahu. Tapi kamu masih syok. Kamu nggak boleh ke mana-mana dulu."

"Gamau, Kak! Hiks... Alea nggak bisa tenang sebelum tahu kabar Mamih sama Papih."

"Tenang dulu ya. Andrew juga lagi ke lokasi buat ngecek semuanya."

"Hiks... gimana Alea bisa tenang kalau orang tua Alea lagi dalam bahaya?"

Tangannya mulai berusaha melepas infus.

"Alea!"

Lisa menahan tangannya.

"Kakak paham perasaan kamu. Tapi kondisi kamu juga nggak memungkinkan buat ke sana. Lokasinya jauh, dan dokter juga belum ngizinin kamu keluar."

Alea menangis semakin keras.

"Hiks... terus Alea harus gimana, Kak?"

Lisa mengusap kepalanya pelan.

"Kamu berdoa ya. Minta sama Tuhan supaya Mamih dan Papih baik-baik aja. Kak Lisa juga ikut doa."

Alea mengangguk kecil.

"Mereka luka? Apa mereka juga di rumah sakit? Alea mau ketemu Mamih sama Papih."

Lisa menahan air matanya sendiri sebelum menggenggam kedua tangan Alea lebih erat.

"Al, kakak di sini. Kamu nggak sendirian."

"Aku takut, Kak..." isak Alea pecah.

"Aku takut kenapa-kenapa sama mereka. Tolong... jangan bohongin Alea."

Lisa memeluk Alea dengan hati-hati agar tidak mengenai infusnya.

"Ssst... Kakak janji bakal nemenin kamu. Tapi sekarang kamu harus tenang dulu, ya."

Alea menangis di bahu Lisa, sementara matanya terus menatap pintu kamar, berharap kedua orang tuanya tiba-tiba muncul.

Brak!

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

"Aleaaa! Lo nggak apa-apa?" teriak Aurey sambil berlari masuk.

"Aureyyy..."

Alea langsung memeluk sahabatnya erat.

Aurey mengusap punggungnya pelan.

"Cup... cup... tenang ya, Al. Jangan kosongin pikiran lo. Kita doa terus. Percaya ya."

Lisa mengambil segelas air putih.

"Nih, minum dulu."

Dengan tangan gemetar, Alea menerima gelas itu.

"Mamih... Papih..." lirihnya sebelum kembali menangis.

"Shhh... doa terus, Al," bisik Aurey. "Jangan nyerah."

POSSESIVE BOYFRIEND[END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang