-Happy Reading!💋
Mataku yang terpejam kini mulai terbuka dengan perlahan. Pertama kali yang aku lihat adalah jam dinding yang terpampang tepat didepanku, yang menunjukkan pukul dua belas. Aku memegangi perutku yang terasa lapar. Makanan yang di siapkan Arra pagi tadi sudah lenyap aku makan, dan sekarang aku mulai lapar lagi. Aku pun mencoba untuk beranjak bangun dari tidurku. Kepalaku terasa berat dan juga nyut nyutan.
“Ish!” aku berdesis sambil memegang kepalaku. Dengan sekuat tenaga aku mencoba berdiri dan melangkah keluar kamar. Perutku yang lapar membuatku turun tangan untuk mengacak acak isi dapur Arra. Saat tiba didapur aku pun menoleh menatap kulkas Arra. Aku berharap ada makanan disana.
Aku membuka pintu kulkas dengan pelan. “Ah! Sial” kesalku lalu kembali menutup pintunya. Harapanku hilang seketika karena melihat kulkas yang kosong melompong.
“Ish!” aku kembali berdesis dengan tangan kanan memegang kepalaku dan tangan kiri memegang meja untuk menahan berat badanku.
Kenapa pusing banget!.kesalku dalam hati.
“Lisa” panggil seseorang yang nggak suaranya nggak asing bagiku. Aku pun mendongak pelan lalu menoleh. Cowok itu berdiri tepat didepan tangga, dengan menatapku intens. Ada sorot kecewa sekaligus khawatir dimatanya. Aku melongo tidak percaya melihatnya ada disini.
“Kamu kok disini?” tanyaku heran, Lian berjalan mendekatiku dengan ragu. Ia letakkan kresek putih ukuran sedang diatas meja. Langkahnya terhenti tepat satu langkah didepanku.
“Dari mana kamu tahu aku disini? Dan bagaimana kamu bisa masuk?” tanyaku membeo sambil terus menatapnya yang juga menatapku. Dia hanya diam, tidak bersuara apapun. Tatapannya intens terarah padaku.
“Apa yang kamu lakukan?”
Aku diam, selang beberapa detik aku menjawab. “Memang apa yang aku lakukan?”
“Kabur dari rumah, apa itu tindakan yang benar?” tanyanya. Aku hanya diam lalu menunduk, aku sedang menahan rasa sakit dikepalaku yang terus terasa.
“Aku bukannya kabur, tapi aku pergi” ralatku.
“Bedanya apa?? Intinya sama, kamu pergi dari rumah”
Rasa sesak didadaku kembali menguap. Pandanganku menurun, rasanya aku tidak sanggup melihat mata hitam itu lagi. Aku pikir, semua yang telah aku lakukan sekarang adalah tindakan yang benar. Hingga aku merasakan Lian sudah mendekat dengan tangannya yang terulur mengusap Puncak kepalaku dengan lembut. Atas perlakuannya aku kembali mendongak, menatap wajahnya dari dekat. Dan tanpaku sadari Lian semakin mendekat kearah wajahku, hingga bibir menempel tepat di keningku. Kupejamkan mataku saat mendapatkan kecupan di keningku. Hatiku merasa meleleh dengan hawa panas yang mulai terasa duwajah sampai leherku.
“Kamu sakit, Lisa” bisik Lian setelah melepaskan bibirnya dari keningku, aku kembali membuka mataku dengan mengangguk pelan. Lian mengusap pipi dengan pelan, seakan ia tidak ingin menyakitiku. Aku bisa merasakan kenyamanan saat ia melakukan hal itu. Tatapannya begitu tulus kepadaku, hingga aku berpikir.
Apa Lian benar benar sangat menyayangiku?. Batinku.
“Duduklah, aku akan siapkan makan buat kamu. Kamu pasti lapar kan?” tanya Lian sambil mengiringku untuk duduk dikursi makan. Aku hanya diam mematuhi apa yang dia katakan tanpa protes. Selanjutnya Lian berjalan mendekati kresek yang ia bawa, ia mengeluarkan isi dalam kresek itu. Terlihat ada buah, susu, serta makanan ringan lainnya. Dengan cermat aku menatap setiap pergerakan dari Lian.
“Kamu beli bubur juga?” tanyaku pada Lian yang memindahkan bubur dari wadah fom ke bangkuk. Lian mendongak lalu berjalan mendekat.
“Iya, tadi Arra bilang kamu lagi sakit” Lian menaruh mangkuk buburnya didepanku, lalu ia duduk disampingku.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Love [complete]
Teen FictionTidak ada yang berubah dari Lisa. Sifat angkuhnya tetap bertahan hingga ia dewasa. Hingga Lian kembali pulang ke Indonesia pun sifat Lisa tidak berubah. Akankah Lian mampu menaklukkan hati Lisa yang sudah mengeras? mungkinkah Cinta Lian akan di bala...
![One Love [complete]](https://img.wattpad.com/cover/208758922-64-k490673.jpg)