★Princess Arrogant 17★

194 19 2
                                        

-Happy Reading! 💋

“Udah sarapan belum?” tanya Lian lembut sembari mengumbar senyumannya.

“Kenapa emangnya? Mau beliin aku makanan?”

“Emangnya kamu mau dibeliin makanan? Biasanya kan kamu nggak mau. Tapi kalau kamu mau aku beliin sekarang juga” jawab Lian senang.

Aku berdengus geli menatap wajah girang Lian.

“Kenapa malah senyum senyum? Mau dibeliin apa enggak nih?” tanya Lian antusias mau pergi beli makanan.

“Enggak usah, tadi aku udah sarapan kok”

“Bener?” tanya Lian yang masih belum percaya. Aku mengangguk mantap kepadanya.

“Iya, bener”

Lian mengulurkan tangannya kearah pipiku dengan mengusap usap pipi kananku dengan tangan kirinya. Aku diam menikmati usapan lembut dipipiku dengan tersenyum malu. Pasalnya sebelum ini aku nggak pernah diperlakukan manis oleh laki laki manapun selain Kak Mico. Apalagi dengan ditatap intens oleh Lian, membuatku merasakan desiran aneh pada tubuhku. Wajahku merasa mendidih dengan sentuhan dan tatapannya, tidak mau berlangsung lama aku pun meraih tangan Lian agar berhenti mengusap pipiku.

“Sudah” kataku sambil menunduk malu.

“Kenapa? Malu?” tanya Lian dengan sedikit mencondongkan tubuhnya padaku.

“Jelas aku malu,  karena Aku rasa nggak pantes berperilaku seperti itu disekolah” jawabku yang masih menunduk dengan meremas remas tangan Lian yang sedang aku genggam.

“Memang kita melakukan apa?” goda Lian. Yang semakin gencar membuatku semakin malu sekaligus gugup, aku mengigit kecil bibir bawahku dengan gemas.

“Lian” cicitku, karena Lian semakin mendekat kearahku.

“Aku suka wajah malu kamu. Terlihat sangat imut” bisiknya, dan refleks aku menahan napasku karena jarak kami yang hanya beberapa senti saja.

“Btw, kapan kamu akan pulang?” tanya Lian setelah beberapa menit terdiam. Aku menoleh, dia menatapku dengan raut serius.

“Aku nggak tahu...” jawabku ala kadarnya. Lian mengernyit lalu kembali bertanya.

“Kok nggak tahu?”

“Ya, aku nggak tahu aja...”

Aku jadi bingung sekarang. Satu sisi aku ingin segera pulang dan menyeret Leka jauh jauh dari rumahku. Ingin segera menampar keras pjpi Leka agar dia sadar, jika dia sudah setres dengan merusak kebahagiaan keluargaku. Tapi disisi lain ada Mamaku... Yang sangat mempercayai sih biang kerok Leka itu. Entah, aku harus berbuat apa untuk membuat mama membuka matanya lebar lebar, jika orang yang ia bela itu iblis yang kabur dari neraka!!!.

“Om Dika tadi telvon aku” mendengar itu aku langsung menoleh pada Lian, “Beliau nanyain kamu, dan aku jawab jujur aja dimana kamu tinggal sekarang. Aku jawab jujur, karena aku nggak mau Om sampai kepikiran terus”

“Apa yang aku lakukan ini udah kelewatan?” tanyaku. Lian hanya diam, mungkin kediamannya itu artinya ‘iya’. Aku menunduk, merasa bersalah atas tindakkan ku. Aku sadar, dengan pergi dari rumah, bukan malah menyelesaikan masalah. Tapi justru menambah masalah baru.

“Lisa” panggil Lian lembut sembari menggenggam tangan kananku. “Apapun yang kamu lakukan, aku nggak tahu, itu benar atau salah. Karena pada dasarannya saja aku nggak tahu, persoalan apa yang membuat kamu dan Leka terus saja berseteru. Tapi yang pasti... Sudahi ini secepatnya, sebelum ada banyak hati yang terluka. Aku nggak nyalahin kamu atau gimana, tapi coba untuk menoleh kebelakang. Lihat Mama, Papa, dan juga kakak kamu. Mereka sangat menyayangi kamu, Lis. Dan aku yakin sekali, dengan perginya kamu dari rumah seperti ini akan membuat mereka terpukul” ujar Lian, mencoba memberi pemahaman padaku.

One Love [complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang