Happy Reading! 💋
DOR!
“AAAA!!!”
Jantungku seakan berhenti berdetak. Napasku terasa sesak, saat suara tembakan keras terdengar di telingaku. Mulutku melongo merasakan nyeri di hatiku. Mataku yang melebar mengeluarkan cairan bening.
“LEKA!!” teriakku dengan Arra bersama.
Brughh... Tubuhnya tumbang dengan perlahan. Dengan jelas aku melihat ada cairan merah yang keluar di bagian pahanya. Aku berlari mendekati Leka yang tumbang dengan rasa sakit yang mendalam itu. Aku meletakkan kepala Leka di pahaku, aku menepuk nepuk pelan pipi Leka.
“Leka... Leka...” panggilku merasa takut. Mata Leka terbuka dan tertutup dengan sayu. Aku sangat merasa takut. Aku menangis menatap Leka yang hanya diam karena kesakitan. Sedangkan Ayu bergeming di tempat dengan menatap Leka tidak percaya. Tidak lama Polisi datang bersama dengan Mama dan Papa.
●●●
“Bagaimana dengan pelakunya?” tanya Mama saat Papa datang.
“Mereka sudah di tangkap. Dengan kasus perencaan pembunuhan. Proses persidangannya akan sangat panjang, tapi tidak apa apa. Mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Karena kita punya bukti serta saksi yang kuat untuk bisa memberatkan hukuman mereka” penjelas Papa.
“Syukurlah kalau begitu, mereka harus dapatkan hukumannya” jawab Mama merasa lega. Aku sendiri hanya bisa diam tidak bisa berkata apapun. Rasa sakit di tubuhku sama sekali tidak ada bandingannya dengan rasa sakit yang Leka terima karena menolongku. Waktu penembakan itu aku bisa melihat dengan jelas jika Leka menempis pistol yang Ayu arahkan kepadaku. Namun sialnya pistol itu justru mengarah pada paha Leka, dan Leka tidak bisa menghindari serangan itu. Hingga peluru itu menanca tepat di paha Leka.
“Lisa...” panggil Kak Mico lembut seraya jongkok di depanku. Tangan besarnya membelai pipiku dengan sayang.
“Bersihkan dirimu, setelah itu kakak akan bawa kamu bertemu Dokter” ujarnya, dan menggeleng pelan. Untuk saat ini aku tidak mau mementingkan diriku sendiri. Karena aku Leka terbaring di brankar ruang obrasi yang ada di Rumah Sakit ini.
Usapan lembut jatuh di atas kepalaku, “Kakakmu benar, Lis. Ayo bersihkan tubuhmu... Lihat luka memar di tangan dan kakimu. Ini parah, Nak” kata Mama yang khawatir akan kondisi fisikku.
“Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan Leka sekarang, Ma... Kalau saja dia tidak menolongku, pasti aku sekarang yang terluka” rilihku.
“Heii... Lihat Papa” pinta Papa dengan mengangkat daguku perlahan, “Leka terbaring di sana sebab ia ingin kamu selamat dan baik baik saja. Balaslah pengorbanannya itu dengan mengobati luka luka ini. Di saat Leka tersadar nanti, dia bisa melihat kondisimu yang baik baik saja, dia pasti bahagia melihatnya... Kamu pulanglah bersama Mama, Papa yang akan urus semua di sini bersama Mico”
Ucapan Papa benar, Leka mau aku baik baik saja. Aku harus mengurus diriku sendiri dengan mengobati luka luka ini, dan setelah itu aku akan menemui Leka dengan wajah segar tanpa luka. Leka pasti senang melihat diriku yang lebih baik.
Mama pun mengajakku pulang. Arra dan Lian juga di ajak. Namun Lian memilih pulang ke rumahnya sendiri, sedangkan Arra pulang ke rumahku. Mama sudah memanggil Dokter untuk datang ke rumah. Jadi setelah mandi aku langsung mendapatkan perawatan dari Dokter itu. Luka memar di kaki dan di tanganku terasa sakit sekali. Namun aku merasa tidak pantas meringiskan kesakitan yang ku rasakan sekarang. Karena Leka jauh lebih tersakiti dari pada aku.
“Gimana keadaan kamu?” tanya Arra setelah menutup pintu kamarku.
Aku tersenyum tipis, “Lebih baik” jawabku sekenanya. Arra duduk di tepi ranjang sambil melihat luka di tangan dan kakiku.
“Makasih ya, Ra. Lo udah mau datang selamatin Gue” ujarku, karena aku tahu Arra adalah cewek pendiam dan tidak banyak tingkah. Untuk datang menolongku dalam kejadian itu, pasti dia akan melawan rasa takut pada dirinya sendiri. Karena aku tahu, melawan ketakutan diri sendiri itu lebih susah dari pada melawan keburukan orang lain. Seorang cewek yang selalu mendapatkan tindakan kekerasan seperti Arra, dia pasti akan merasakan guncangan besar pada dirinya saat melawan sesuatu hal yang berhubungan dengan kekerasan.
“Kita kan teman, Lis. Udah jadi ke wajiban Aku buat nolongin kamu” balas Arra tulus, “Namun aku sedih... Aku nggak nyangka jika Raka dan Ayu bisa berbuat sekejam itu. Aku tahu, Ayu itu Cewek nakal. Tapi aku juga nggak nyangka dengan kelakuannya yang bisa melebihi batas kenakalannya. Apalagi Raka, Si ketua kelas yang penuh dengan tanggung jawab. Dia bisa melakukan hal yang menjijikkan seperti ini” ujar Arra dengan menggeleng gelengkan kepalanya. Sebenarnya aku sepemikiran dengan Arra, aku juga tudak habis pikir dengan jalan pikiran Ayu dan Raka. Kita masih SMA, tapi kenapa bisa mereka melakukan tindakan di luar pemikiran anak SMA.
“Ini semua murni salah Gue, Ra.... Kalau saja aku mau menerima Ayu jadi temanku. Kalau saja Aku bisa menolak Raka dengan kata kata yang baik, mungkin kejadian ini nggak akan pernah terjadi... Karena Gue, karena tingkah konyol Gue... Leka yang menajdi korbannya” aku menunduo merasa malu akan tindakan ku sendiri. Sejak kepergian Alfin semua hal dalam diriku berubah. Aku tidak percaya dengan pertemanan dan cinta. Semua orang yang datang dengan niat ingin berteman denganku semua aku tolak mentah mentah. Semua laki laki yang menyukai ku juga aku menolak mereka semua. Aku menolak semua perasaan mereka dengan tegas.
“Tapi aku bingung, Lis. Bukannya Leka nggak suka sama kamu? Tapi kenapa dia justru menolong kamu?” tanya Arra. Dan sebenarnya aku juga heran akan hal itu. Kenapa juga Leka tiba tiba melakukan hal itu?. Permusuhan sengit selalu ada di antara aku dan Leka. Tapi kenapa Leka menyelamatkan aku.
“Gue juga bingung, Ra. Padahal dari kecil Gue sama Leka sudah jadi musuh” kataku sambil teringat akan masalalu.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian, kenapa kalian bermusuhan dari kecil? Bukankah kalian tumbuh besar bersama?” tanya Arra.
“Hm, Lo benar. Gue sama Leka emang tumbuh bersama di rumah ini. Tapi selama itu juga Gue sama Leka nggak penah dekat. Sekalinya kita bicara, pasti berujung pada pertengkaran dan pertengkaran.” Kataku, “Cerita ini panjang, Ra. Gue juga belum pernah cerita ini kesiapapun. Tapi sekarang Gue akan ceritain ini sama Lo. Karena Gue percaya sama Lo, dan Gue juga udah anggap Lo sebagai teman Gue”
“Waktu Gue masih berusia lima tahun. Gue dan Leka seperti saudara, meskipun Leka itu sebenarnya anak pembantu Gue, Gue sama sekali tidak pernah mengungkit hal itu. Gue juga punya teman lain, mereka adalah Lian dan Alfin. Suatu ketika Gue nggak sengaja dengar obrolan Mama sama Papa yang membahas Ibu Leka. Ternyata Ibu Leka bukanlah orang yang baik. Ibu Leka berniat menghancurkan keluarga Gue, Ibu Leka juga berniat untuk membunuh Mama. Tapi sayang, bukannya Mama yang terbunuh, tapi justru dia sendiri yeng meninggal. Sejak saat itu Gue benci sama Leka” aku ingat benar kejadian di masa itu. Aku bercerita kepada Arra sambil mengingat masa laluku.
TBC.
Vote dan komen jangan lupa 😚
-Regards
KAMU SEDANG MEMBACA
One Love [complete]
Teen FictionTidak ada yang berubah dari Lisa. Sifat angkuhnya tetap bertahan hingga ia dewasa. Hingga Lian kembali pulang ke Indonesia pun sifat Lisa tidak berubah. Akankah Lian mampu menaklukkan hati Lisa yang sudah mengeras? mungkinkah Cinta Lian akan di bala...
![One Love [complete]](https://img.wattpad.com/cover/208758922-64-k490673.jpg)