★ Princess Arrogant 21 ★

163 13 0
                                        

-Happy Reading!💋

Kepala Lian terus bergerak ke kiri dan ke kanan. Sesekali ia menatap jam tangannya. Sudah hampir satu jam ia menunggu Lisa di Cafe Janji, Tapi samapi sekarang belum juga ada tanda tanda ke datangan Lisa.

“Perasaan lokasi makam ke cafe ini nggak jauh jauh banget, tapi kenapa Lisa lama banget ya” gerutu Lian mengkira kira jarak anatara makam ke cafe. Lian pun mengambil handphone yang ada di meja, ia segera menelepon Lisa. Namun sayang, nomor telepon Lisa mati, tapi bukan Lian namanya kalau nggak keras kepala. Lian terus menghubungi nomor Lisa, dan pada akhirnya tetap sama, nomor Lisa tetap tidak dapat di hubungi.

“Lisa, kamu mana sih... Nomornya juga nggak aktif lagi” gumam Lian dengan jengkel. Lian pun menghela napas panjang, berusaha sabar menunggu ke datangan Lisa. Di bangku sebelah kanan dan kiri, terdapat sepasang cewek dan cowok yang lagi ngobrol. Lian merasa iba terhadap dirinya sendiri.  Semua orang nerpasang pasangan sedangkan dirinya masih sendiri.


★★★


Rasa pusing amat terasa di kepalaku. Cenat cenut di kepalaku membuat dahiku mengernyit merasa sakit. Perlahan kedua mataku mulai terbuka. Mataku menyapu seisi ruangan yang sama sekali tidak aku kenali. Sekilas aku teringat akan kejadian sebelum aku pingsan.

Aku dipukul orang!. Batinku.

Aku pun mencoba menggerakkan tubuhku, namun rasanya sangat sulit dan juga sakit.

“Ssstt! Siapa yang ngikat Gue disini sih?!” desisku kesal sekaligus merasa sakit dibagian punggung, “Ughh...” dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk melepaskan ikatan yang ada di tanganku. Melepaskan ikatan di tanganku sangat sulit, karena posisinya tanganku diikat di belakang tubuhku. Kakiku juga diikat, maka dari itu aku kesusahan untuk melepas tali ini. Aku menghela napas keras, punggungku terasa semakin sakit akibat pergerakanku untuk melepas tali di tanganku. Aku kembali menyapukan pandanganku keruangan ini.

“Kamar siapa ini?” gumamku. Mataku menyipit, menajamkan penglihatanku pada foto yang di pajang di dinding.

Dia??. Kejutku berbatin.


★★★


“Assalamualaikum...” Lian mengucapkan salam ketika ia memasuki rumah Lisa.

“Waalaikumsalam...” sambut hangat Si nyonya rumah. Lian menyabat tangan Qinar dan mencium punggung tangannya.

“Gimana kabar kamu, Li?”

“Baik, Tante. Tante sendiri gimana? Baik?”

“Alhamdulilla baik...” jawab Qinar tersenyum sambil mempersilakan Lian untuk duduk di ruang tamu.

“Bi!” panggil Qinar dengan nada tinggi untuk memanggil asisten rumah tangganya, “Tolong buatkan minum ya” perintah Qinar dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari pembantunya.

“Nggak usah repot repot, Tante”

“Nggak repot kalau Cuma minum... Ooh ya, kamu kesini kenapa? Cari Lisa?” tanya Qinar dan Lian mengangguk.

“Iya, Tante. Lisa nya ada nggak?”

Qinar diam, “Tadi sore sih dia pamit mau berziarah ke makam Alfin... Tapi kok sampai malam dia belum pulang ya” heran Qinar.

“Belum pulang, Tante?” ulanh Lian dan Qinar mengangguk.

“iya” jawab Qinar mantab. Karena sedari tadi Qinar duduk di ruang tengah, jadi ia tahu betul jika Lisa belum pulang dari sore. Art datang dengan membawa dua cangkir yang berisi teh hangat untuk di suguhkan pada Qinar dan Lian.

“Di minum dulu, Lian” pinta Qinar sambil menyesap tehnya, namun ia berhenti kala Lian hanya diam membengong.

“Lian?” panggil Qinar sedikit keras, “Diminum dulu” kaya Qinar mengulang ucapannya yang tadi. Lian pun langsung menurut dan mengambil cangkir teh itu untuk di minum.

“Assalamualaikum, Ma!” suara nyaring putranya meraung seisi rumah. Qinar tersenyum melihat putranya yang sudah pulang.

“Waalaikumsalam...” jawab kompak Qinar dan Lian. Mico mencium punggung tangan Mama tercintanya dengan penuh hormat.

“Udah mandi belum?” goda Qinar pada Mico yang tengah memeluknya dari samping.

“Udah tadi kampus... Mama curigaan banget kalau aku belum mandi” jawab Mico sebal namun menungingkan senyum di wajahnya.

“Tumben Lo kesini, cari Lisa?” tanya Mico pada Lian, dan Lian mengangguk.

“Bukan tumben, Lian memang sering kemari tapi kamunya aja yang nggak ada di rumah” koreksi Qinar pada ucapan putranya.

Mico cengengesan, “Aku sibuk belajar tahu, Ma” jawab Mico sekenanya.

“Belajar apa pacaran kamu?”

“Ih, Mama. Godain aku terus” sebal Mico yanh membuat Qinar tersenyum puas. Jika di kampus, Mico terkenal dengan sikap diam dan cueknya. Namun beda hal jika di rumah, sikap Mico seperti anak perempuan yang sering merajuk pada Mamanya. Sedangkan Lisa bersikap sama, tetap cuek di mana saja.

Mico menoleh pada Lian yang terlihat diam, “Woy! Ngelamun terus” gertak Mico dengan mengibaskan jaketnya pada Lian yang tengah terdiam.

“Iya nih Lian... Dari tadi diam terus. Mikirin apa sih? Lisa? Atau kamu lagi berantem ya sama Lisa?” tebak Qinar dan Lian menggelengkan kepalanya.

“Tante, sebenarnya Lian tadi telpon Lisa. Lian ngajak Lisa untuk pergi ke caffe Janji, Lisa bilang dia akan datang tapi... Sampai satu jam lebih Lian tungguin, Lisa nggak datang datang. Maka dari itu Lian cari Lisa kesini” cerita Lian penuh keseriusan. Ia mengingat jelas jika Lisa mau menemuinya di caffe Janji, dan bahkan Lisa mengatakan akan segera kesana.

“Lian khawatir ada sesuatu yang terjadi pada Lisa, Tante”

Keceriaan yang tadinya bersinar di wajah Qinar dan Mico, kini berubah total. Mereka saling memandang dengan tatapan khawatir. Mico dengan sikap merogoh sakunya dan mengambil handphone nya, ia mencoba untuk menghubungi handphone adiknya.

“Nomornya nggak aktif, Kak. Aku udah beberapa kali hubungi nomornya, dan handphone nya tetap mati sampai sekarang”

Mico menghentikan aktifitasnya kala mendengar perkataan Lian.  Semua orang terlihat tenggang dan khawatir karena Lisa.

“Jangan berpikiran buruk dulu... Kemungkinan Lisa pergi sama temannya dan lupa nggak kasih kabar. Bisa aja kan?” kata Qinar mencoba berpikir positif.

“Dia nggak akan pergi sama temannya, Ma” kata Mico menggelengkan kepalanya pelan, “Lisa tidak pernah punya teman” sambung Mico dengan suara paruh. Kebenaran yang sangat pahit. Selepas kepergian Alfin, Lisa tidak pernah bergaul atau berteman dengan siapapun.

“Jadi, Li-lisa dimana?” tanya Qinar dengan suara getar.

TBC.

-Regards

One Love [complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang