★Princess Arrogant 11★

238 22 6
                                        

-Happy Reading!💋

Malam ini aku sedang makan malam bersama Mama, Papa, dan juga kak Mico. Dalam hati aku merasa sangat bahagia karena memiliki mereka semua. Aku selalu bersyukur, aku sangat beruntung karena sampai detik ini aku masih diberi keluarga yang lengkap. Karena masih ada banyak mereka mereka yang tidak beruntung diluaran sana dengan konsidi keluarganya yang tidak utuh. Aku melihat kearah Mama... Selama ini aku sering sekali berantem sam Mama Cuma gara gara Leka. Aku sebenarnya nggak mau bertengkar dengan Mama. Tapi entahlah, rasanya aku sulit sekali mengendalikan emosiku jika Mama selalu memebela anak pembantu itu. Aku melihat kearah Papa, Beliau sangat menyayangiku. Tapi beberapa bulan terakhir ini kami jarang bersama karena Papa sedang sibuk dengan bisnisnya. Dan Kak Mico juga, dia juga sering menginap di kampus karena jadwal kuliahnya penuh.

Aku hanya bisa tertunduk lesu akan semua itu. Menghela napas pasrah dengan keadaan ini. Aku juga nggak akan menuntun mereka untuk selalu bersamaku. Selagi mereka bisa meluangkan waktu sedikit untuk keluarga, itu sudah kebih dari pada cukup.

“Lisa, selesai makan kamu tolong anterin makanan ini sama Bundanya Lian ya” kata Mama dengan merapikan rantang berukuran sedang. Aku mengangguk mengiyakan perintah Mama.

“Anak Papa sekolahnya gimana? Lancar?”

Aku tersenyum mendapati pertanyaan itu dari Papa.

“Lancar kok, Pa. Cuma kemarin waktu ulangan fisika aku dapat nilai delapan puluh” kataku dengan ekspresi sedih. Seperti biasa Papa akan tersenyum hangat menanggapi ucapanku.

“Delapan puluh juga sudah bagus. Kamu harus tetap bersyukur hm...”

Aku mengangguk senang menanggapi perkataan bijak yang dilontarkan Papa. Mama dan Papa bukanlah tipikal orang tua yang selalu menuntut nilai tinggi dari anak anaknya. Karena mereka mengerti, sejatinya jika seorang anak dipaksa untuk belajar dan mendapatkan nilai tinggi itu tidak baik bagi spikis anak itu sendiri. Namun aku dan kak Mico sadar diri, jika kami harus membuat Papa dan Mama bangga. Kami sama sama berjuang untuk mendapatkan nilai terbaik untuk dipersembahkan pada Mama dan Papa.

“Aku pinjam sepeda Kaka ya” kataku sambil menoleh pada Kak Mico, dan dia mengangguk.

“Pakai saja, itu juga sepeda kamu...” balasnya dengan tersenyum.

“Lisa pergi dulu ya, Ma” kataku sambil mencium tangan Mama. Lalu kuambil rantang yang berisikan makanan itu.

“Hati hati bawa sepeda nya” aku menoleh sekilas sambil mengangguk.

Malam ini udaranya lumayan dingin. Dan bodohnya aku hanya memakai kaos oblong dengan celana diatas lutut. Tentunya aku akan merasa dingin jika keluar malam malam begini. Aku menggayuh sepedaku dengan hati hati, sesuai dengan perintah Mama tadi sebelum pergi. Sebenarnya rumahku dan Lian tidak jauh sih, karena rumahku di blok A dan Lian di blok B. Setelah tiba dirumah Lian aku langsung memarkirkan sepedaku. Da saat aku berbalik ternyata disana sudah ada Lian.

“Li—“ belum juga sempat memanggil, namun Lian sudah langsung berbalik masuk kedalam rumahnya. Aku refleks cemberut karena melihat tingkah Lian. Aku pun bergegas masuk kedalam rumah Lian karena posisinya pintunya sedang terbuka lebar.

“Assalamualaikum...” ucapku saat memasuki rumah.

“wa’alaikumsalam... Lisa” jawab Bunda Lian. Beliau menatapku dengan tersenyum senang. Aku menghampirinya dan mencium tangannya.

“Lisa disuruh Mama buat kasih ini sama Bunda”

Aku menyerahkan rantanh itu pada Bunda. Aku memanggil ibu Lian dengan sebutan Bunda, sama seperti Lian. Karena sedari kecil memang aku sering main kesini, namun sejak Lian sekeluarga pindah ke Malaysia kami jadi berhubungan jarak jauh.

One Love [complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang