★ Princess Arrogant 26 ★

129 17 0
                                        

-Happy Reading! 💋

Flashback On

“Mama! Mama! Ayo, Ma. Kita harus bertemu Alfin!” seruku sambil menarik narik tangan Mama.

“Tidak bisa sayang, Mama harus menemani Leka. Lihat dia, keadaanya sedang tidak baik baik saja” kata Mama panik lalu masuk ke dalam ruang inap Leka. Papa datang dengan tergesa gesa, aku pun berlari menghampiri Papa.

“Papa! Papa!” aku berlari menghampiri Papa.

“Lisa sayang, gimana dengan keadaan Leka? Dia baik baik saja bukan?”tanya Papa panik, “Mama dimana? Di dalam?” tanya Papa lagi sambil melihat pintu kamar inap Leka yang tertutup.

“Iya, di dalam” jawabku sambil mengangukkan ke palaku, “Tapi, Pa. Alfin—“ ucapku terpotong sebab Papa langsung pergi masuk ke dalam ruang inap Leka tanpa mendengarkan ucapanku terlebih dahulu. Aku menggeram kesal sambil menangis. Tidak ada yang mau mendengar keluhanku. Mama dan Papa sibuk mengurusi anak pembantu itu.

“Lisa! Lisa!” aku menoleh saat mendengar suara Kak Mico. Aku segera menghapus air mataku.

“Ada apa, Kak?” tanyaku saat Kaka Mico berada di depanku.

“Kakak tahu di mana keberadaan, Alfin”

Aku membulatkan mataku senang, “Di mana? Dimana dia?” tanyaku kegirangan.

“Dia di rawat di Rumah sakit ini juga. Ayo cepat, Kakak akan bawa kamu menemui Alfin!” dengan semangat aku langsung meraih tangan Kak Mico. Kami sama sama berlari untuk segera sampai di kamar Alfin. Seiring dengan langkahku, dadaku berdebar kencang. Antara senang karena bisa bertemu dengan Alfin dan juga merasa sedih akan berita kecelakaan yang menimpa Alfin.

“Lian!” teriakku saat melihat Lian yang menangis sesengukkan di kursi panjang, “Lian, Alfin di mana?” tanyaku, namun Lian hanya diam sambil terus menangis. Aku menatap Lian sambil cemberut. Aku pun menoleh pada Bundanya Lian.

“Bunda, Alfin di mana?” tanyaku. Bundanya Lian menoleh sambil mengusap pipiku.

“Dia berada di dalam, bersama Dokter dan kedua orang tuanya...”

“Lisa boleh masuk nggak? Lisa mau bertemu Alfin” pintaku dengan wajah polos.

“Masuklah...”

Senyumku mengembang karena mendapatkan izin dari Bunda Lian, “Kak Mico, Lisa mau masuk. Kakak tunggu di sini ya” perintahku pada Kakakku. Perlahan kaki kecilku mulai melangkah ke dalam ruang inap Alfin. Hal pertama yang aku lihat adalah Mama Alfin dan Papanya yang tengah menangis.

“Alfin” panggilku saat berada di sampingnya. Aku menutup mulutku terkejut karena wajah Alfin banyak darahnya. Sedangkan Dokter dan Susternya sibuk membersihkan darah yang terus keluar dari kepala Alfin. Aku melongo sambil terus melihat Alfin.

“Adik, Adik kenapa di sini? Adik tidak boleh di sini ya. Ayo ayo keluar...” usir salah satu Suster dengan menuntunku untuk pergi dari ruangan itu. Namun aku hanya menurut saja, aku keluar dengan wajah sedih.

“Lisa, bagaimana dengan keadaan Alfin?” tanya Kak Mico sembari jongkok di hadapnnku. Aku menunduk sedih saat teringat begitu banyak darah yang keluar dari kelapalnya.

“Lisa duduk sini ya” kak Mico menggiringku untuk duduk di samping Lian yang sudah tak menangis lagi. Sedangkan Bunda Lian sudah tidak ada di sana.

“Kakak” panggilku pelan.

“Ada apa?” tanya lembut kak Mico.

“Kepala Alfin banyak darahnya, Kak... Sepertinya kepalanya bocor deh, abis darahnya nggak mau berhenti” aduku pada Kak Mico yang terlihat terkejut. Aku pikir sebaiknya dokter segera mencarikan lakban deh untuk kepala Alfin. Soalnya kejadian kepala bocor Alfin sama persis sama balon milikku dulu. Dulu aku bermain balon yang di isi air, terus ternyata balonnya ada yang berlubang sehingga air di dalamnya terus keluar. Kak Mico dulu menembel balonnya dengan lakban. Dan seharusnya Dokter juga melakukan hal yang sama terhadap Alfin, karena jika tidak segera di lakban, itu darahnya pasti akan keluar terus.

“Kepalanya bocor di bagian mana?” tanya Lian. Aku menoleh melihat Lian yang hidungnya berwarna merah karena habis menangis.

“Lihat aja sendiri! Aku nggak mau kasih tahu kamu. Karena kamu aku kemarin jatuh. Lihat!” seruhku sambil memperlihatkan siku tanganku, “Tangan aku kecet karena ke bodohan kamu”

Kemarin Lian memaksaku untuk naik sepeda bersama dengannya. Awalnya aku menolak, karen Lian sangat bodoh saat naik sepeda, dia selalu saja terjatuh. Namun gak tahu dorongan dari mana aku jadi mau di boncengin sama Lian. Dan akhirnya ya gini, terjatuh karena Lian menabrak pot besar yang jelas jelas memang ada di deoannya. Bukannya menghindari pot itu, Lian justru dengan sengaja menabrakkan diri ke sana. Dasar bodoh!.

“Habisnya sih kamu berat, aku kan oleng waktu nyetir sepedahnya” elak Lian yang justru menyalahkan aku.

“Alasan aja kamu!”

“Eh eh, sudah dong... Ini kan di rumah sakit, kalian tidak boleh bertengkar” sela Kak Mico menengahi.

★★★

Aku berdiri du samping Alfin yang masih memejamkan matanya. Mata yang selalu terbuka dengan Indah itu sudah lama sekali tertutup. Sudah satu jam aku menunggu Alfin membuka matanya, tapi sampai sekarang tidak ada tanda tanda Alfin ingin membuka matanya. Aku menunggu di sini hanya bersama Lian. Orang tua Alfin pergi menemui Dokter, sedangkan Kak Mico pergi menemui Mama.

“Lis...” panggil Lian yang berada di depanku.

“Apa?”

“Aku ngantuk, boleh tidur nggak?” pertanyaan itu membuatku memutar bola mataku malas. Lian yang melihat reaksi ku malah mengerutkan dahinya.

“Lisa kamu sakit mata ya? Kok matanya bisa muter muter gitu?” tanya polos Lian.

“Em...” suara geraman kecil itu membuatku menoleh. Matanya yang terpejam bergerak gerak, tanda jika Alfin sudah mulai sadar.

“Alfin!” panggilku senang, “Alfin sudah bangun, Lian” senangku, dan Lian mengangguk.

“Lisa? Lian?” panggil Alfin tanpa suara. Aku tahu dia pasti sangat lemah saat ini. Wajah nya terlihat sangat pucat.

“Aku senang kamu bangun, aku sama Lian nungguin kamu sejam di sini” aduku dan Alfin hanya tersenyum samar.

“Masih sakit ya, Fin?” tanya Lian menatap kepala Alfin yang terbalut perban dengan bercak darah di sana. Alfin menganggukkan kepalanya.

“Leka di mana?” senyumku pudar mendengar pertanyaan itu. Sudah lama aku menunggu Alfin membuka matanya. Namun ketika bangun dia malah bertanya tentang Leka. Padahal aku sudah memberitahunya untuk tidak dekat dekat dengan Leka lagi, tapi kenapa sekarang dia bertanya tentang Leka.

“Leka sakit lagi” jawab Lian, aku langsung mempelototi Lian. Sudah tahu jika aku bete tapi Lian malah membalas ucapan Alfin.

“Kamu nggak perlu perduliin dia Alfin, dia kan bukan teman kita lagi” ucapku cepat sebelum Alfin kembali bersuara.

“Dia temanku, Lisa” elak Alfin dengan suara paruh.

“Dia itu anak penjahat, kamu tidak boleh bermain dengan anak penjahat. Aku tidak suka!” sanggahku yang masih menolak keras jika Leka adalah teman Alfin. Buah jatuh tidak jauh dari pohonya, bisa saja Leka nantinya perbuat hal buruk seperti apa yang di lakukan ibunya.

“Tapi aku suka sama, Leka” balas Alfin tulus. Bibirku bergetar menahan tangis, mataku juga sudah berkaca kaca. Di saat hanya aku yang paling menomor satukan Alfin, tapi kenapa Alfin justru menomor satukan Leka. Hatiku terasa di gigit semut, sakitnya terasa mengerubungi hatiku.

“Aku benci kamu kalau kamu suka Leka!” marahku, aku berlari pergi meninggalkan ruangan Alfin. Alfin jahat, aku sudah sayang Alfin tapi Alfin selalu saja memikirkan Leka. Padahal Leka jahat, ibunya juga jahat.

Flashback of


TBC

Vote dan komennya di tunggu lho 😍


-Regards

One Love [complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang