★Princess Arrogant 19★

214 18 7
                                        

-Happy Reading! 💋

Aku berdiri didepan pintu kamar kak Mico dengan bengong. Sebelumnya aku tidak pernah merasa ragu untuk mengetuk pintu itu, tapi lain hal dengan kali ini. Jangankan mengetuk, memanggil Sih pemilik kamar aja aku ragu. Aku menghela napas beratku lalu memutar tubuhku. Mataku terhenti kala melihat Mama yang tengah berdiri tidak jauh dariku. Entah sejak kapan Mama sudah berdiri disana.

Seulas senyum terbit di wajah Mama. Meskipun jelas kentara jika senyum itu terlihat kaku, tapi aku tahu jika senyum itu sangat tulus. Mama bejalan kearahku, Beliau menatapku dengan penuh kasih. Aku hanya diam termangu didepan Mama.

“Sudah makan?” aku diam mendengar pertanyaan itu, namun didetik berikutnya aku menggelengkan kepalaku. Sejak tadi disekolah hingga saat ini aku memang belum makan apapun.

“Pergilah ke dapur, Mama tadi masak makanan kesukaanmu”

“Hm” jawabku singkat lalu melangkahkan kakiku, namun sebelum itu Mama mencekal tanganku.

“Lisa” aku menoleh, “Makan yang banyak ya, Mama lihat kamu kurusan” setelah mengatakan itu Mama melepaskan tangannya dariku. Merasa sudah tidak ada yang perlu diomongkan, aku pun kembali melangkah menuruin anak tangga untuk segera sampai kedapur. Saat tiba di meja makan, aku melihat ada makanan kesukaanku. Yaitu ayam bakar khas bikinan Mama. Makanan itu selalu membuatku ingin makan dan makan. Namun kali ini, aku merasa tidak berminat untuk makan apapun. Belakangan ini memang aku sering telat makan, atau bahkan aku memang tidak makan. Entahlah... Terlalu banyak masalah akhir akhir ini, yang sampai sampai membuatku tidak nafsu untuk makan.

Tes. Aku mengernyit, mendengar suara gemerisik air, lantas aku menoleh kearah kolam renang yang jaraknya sedikit jauh dari dapur. Aku pun melangkahkan kakiku mendekati kolam renang, ayunan kakiku terhenti. Aku melihat seorang laki laki paruh bayah yang masih sangat gagah dan tampan sedang berwajah murung. Tangannya Papa terus terayun pelan mendorong air kolam agar bergerak, tatapan matanya terfokus pada air itu, namun pikirannya tidak terfokus pada air itu.

Apa yang bisa aku lakukan untuk mengembalikan senyum keluargaku. Batinku dalam hati.

Aku tahu, setiap Papa menghadapi sebuah masalah. Beliau pasti akan datang kekolam untuk memainkan air, dengan harapan Beliau akan mendapatkan ketenangan. Sudah menjadi kebiasaan Papa melakukan hal itu setiap menghadapi masalah. Aku berjalan mendekat dan duduk disamping Papa. Aku mencelupkan kakiku hingga lutut, seperti halnya Papa yang juga melakukan hal itu. Papa menoleh kearahku, menatapku dengan berkedip pelan.

“Papa mau tanya sesuatu?” tanyaku yang mengerti apa yang sedang Papa pikirkan. Sedangkan Papa tersenyum mendengar pertanyaanku. Tangannya terulur untuk memgusap puncak kepalaku.

“Enggak, Papa nggak mau tanya apapun. Papa Cuma mau minta maaf sama, Lisa... Karena Papa belum bisa kasih yang tebaik untuk keluarga kita. Papa gagal menjadi pemimpin di keluarga ini...” aku nggak tahu harus menanggapi perkataan Papa dengan apa. Hatiku terasa terhantam melihat wajah seseorang yang selama ini menjadi panutanku tertunduk dengan senyum getirnya itu. Aku menyerka air mataku dengan cepat sebelum Papa berhasil melihatnya.

Tanganku terulur menyentuh pundak, Papa, “Papa ngomong apa sih? Papa itu Papa yang hebat, Papa juga sudah berusaha untuk menjadi pemimpin yang terbaik untuk aku, Mama, dan juga Kak Mico. Jadi Papa berhenti ngomong dan berpikiran seperti itu, Lisa nggak suka, Pa”

Meskipun dalam hati terasa teriris, tapi aku mencoba membuat Papa ku kuat, dengan cara melupakan pikiran psimisnya. Aku nggak mau melihat Papaku dengan keadaan terpuruk seperti ini. Sebagai panutan untuk keluargaku, Papa harus tegar, harus lebih kuat dari kami semua.

One Love [complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang