-Happy Reading! 💋
“Mama...” rilihku merasa nyeri dibagian dada. Semuanya terasa hancur, dengan Mama mengingatkan jika kak Mico bukanlah bagian dari keluarga ini. Ya, meskipun benar jika Kak Mico bukanlah anak kandung dari Mama dan Papa. Tapi Kak Mico sudah menjadi bagian penting dalam keluarga kami. Kak Mico sudah di adopsi, dan dia resmi menjadi anak Mama dan Papa. Tapi dengan Mama kembali mengingatkan status Kak Mico seperti ini, tentu Kak Mico akan sakit hati.
“Kakak....” panggilku yang sudah berderai air mata. Aku menyentuh tangannya, namun Kak Mico hanya diam membisu. Wajahnya terlihat pucat pasi dengan kedua mata yang berkaca kaca. Aku tahu, dia pasti sangat hancur saat ini.
“kakak!” panggilku dengan sedikit mengguncang tubuhnya, tapi tetap saja tidak ada pengaruh apapun dari Kaka Mico, dia hanya tetap diam. Aku bergerak memeluk Kak Mico erat erat.
“Jangan dengerin omongan Mama Kak. Mama lagi marah, jadi jangan masukin hati omongannya!” seruku menggebu sambil mendongak menatap wajah Kak Mico yang terlihat sangat kacau.
“Mama, Mama!” aku memutar tubuhku, “Mama, ngomong Ma. Mama udah kelewat batas dengan ngomong seperti itu” rengekku mengguncang tubuh Mama. Cairan bening menetes membasahi pipi Mama. Terlihat jelas jika Mama menyesali perkataan laknat yang keluar dari bibirnya.
“M-mico, Nak. Maaf, m-maaf... Mama benar benar tersulut emosi tadi, maaf ya Mama nggak bener bener kok ngomongnya” ujar Mama yang merasa bersalah. Tapi bagaimanapun juga nasi sudah jadi bubur. Begitu pula dengan perasaan Kak Mico yang udah hancur, meskipun Kak Mico tahu jika Mama mengatakan itu dalam keadaan emosi. Tapi tetap saja, rasa sakit akan statusnya yang menjadi anak adopsi tetap melekat pada dirinya.
“Kak, maafin Mama ya. Mama tadi emosi, ini nggak bener, Kak. Kakak itu anak Mama dan Papa! Kakak itu Kakaknya aku, kak jangan diem gini. Hiks...” baru pertama kali aku melihat wajah Kak Mico yang terlihat hancur, senyum yang biasa terulas manis diwajah tampannya kini telah lenyap. Aku menangis memeluk tubuh Kak Mico.
“Mico, Mama mohon... Jangan masukin hati, Mama tadi emosi Mico. Jangan... Jangan masukin hati ya” pinta Mama yang juga tak kuasa menahan tangisnya, “ Mama mohon... Maafin Mama, kamu anak Mama. Mama sayang kamu” begitu pula dengan Mama, Beliau sama sama memeluk Kaka Mico.
“Kakak ngomong! Jangan diem aja!” teriakku frustasi melihat Kaka Mico yang hanya diam dengan mata kosongnya. Kak Mico pun bergerak, melepas pelan pelukan kami. Aku dam Mama saling menatap ketika Kak Mico melepas pelukannya. Langkah Kak Mico mundur.
“Kak” panggilku pelan, karena suaraku terasa tercekat di tenggorokan.
“A-aku minta maaf... Aku salah, aku nggak tahu diri. Maaf...” setelah mengucapkan demikian Kaka Mico memutar tubuhnya dan pergi kedalam kamarnya. Kaki merenggang lemas, aku pun terperosot duduk dilantai. Menangis, aku hanya menangis merasakan sakit yang dirasakan Kakakku.
“Hiks... Hiks...” aku menangis dengan membungkam mulutku. Aku menoleh kearah Mama, beliau hanya diam dengan air mata. Aku tahu, jika Mama sangat menyesali perkataannya. Mama menunduk dengan suara isakan yang mulai terdengar. Aku merasa semakin miris mendengar suara isak tangis Mama.
“Leka!” gumamku paruh, dengan menahan rasa amarah yang bercampur dengan kesal dan juga sedih. Aku hanya bisa menodongkan semua kekacauan ini kepada Leka, hanya Leka. Kalau bukan karena manusia biadap itu, Mama dan Kakaku nggak akan bertengkar seperti ini. Yang sampai sampai membuat Mama mengingatkan status kakakku. Semua sudah kacau berantakan! Aku benci semua ini! Dulu Ibunya pernah membuat kekacauan, dan sekarang anakanya.
“Assalamualaikum. Papa pulang—“ seruan Papaku terhenti, aku menoleh kearah Beliau, “Lisa??” papa melihatku dengan dahi yang mengernyit, melihatku yang terduduk dengan menangis lantas membuat papa langsung berjalan cepat kearahku.
“Papa!” aku bangkit dari dudukku dan langsung berhamburan ke pelukan hangat papaku.
“Kamu pulang? Hah, Papa seneng banget” kata Papa senang dengan semakin mengeratkan pelukan kami.
“Eh, tapi kenapa kamu manangis?” merasa ada yang ganjal karena aku menangis. Papa lantas mendongakkan wajahku. Sedangkan aku menatap Papa dengan wajah mewek. Papa menatapku, lalu menatap kearah Mama secara bergantian. Mama yang merasa dilihati Papa langsung mengayunkan kakinya kearah kamarnya.
“Ada apa ini?” tanya Papa bingung, dan aku semakin terisak dengan melihat kepergian Mama.
“Kak Mico mengusir Leka. Mama nggak terima, Mama dan Kak Mico adu debat sampai, hiks... Sampai Mama mengingatkan status Kak Mico yang hanya anak adobsi”
Aku memberanikan diri untuk mendongak. Aku melihat wajah syock Papaku, tatapannya kosong. Seperti sedang menerawang sesuatu. Papa bergerak langsung melangkahkan kakinya menyusul Mama. Sedangkan aku sendiri merasa pusing yang tiba tiba menyera kepalaku.
★★★
“Kamu sendiri yang minta untuk mengadopsi anak, dan kamu sendiri juga yang buat perjanjian untuk tidak mengungkit jika Mico anak adopsi. Kamu sendiri yang ngomong kalau kita tidak akan pernah menganak tirikan Mico. Kamu sendiri yang pernah ngomong gitu, tapi kenapa kamu sendiri juga yang mengingkari janji itu! Dengan kamu ngomong hal sensitif itu... Mungkin hubungan kita dan Mico akan beda setelah ini. Kamu ngerti nggak sih” cerocos Dika dengan mengusap kasar wajahnya. Sedangkan Qinar terduduk dikasur sambil berderai air mata.
“Aku khilaf, tadi aku dikendalikan emosi...” sesal Qinar dengan sesenggukan. Mendengar itu, Dika lantas menjongkokkan tubuhnya didepan Qinar sambil menggenggam tangan Qinar.
“Heii...Aku tuh benar benar capek, Qinar. Capek banget... Kamu tahu sendiri kalau aku selalu sibuk bekerja, dan kamu juga tahu sendiri jika Mico lah yang bertanggung jawab mengatur keluarga ini jika aku tidak ada. Kamu tahu kan?” tanya Dika lembut, dan Qinar mengangguk.
“Aku tahu... Aku salah, salah banget”
“Aku ngomong gini bukan bermaksud untuk menyalahkan kamu. Aku ngomong gini karena aku rasa apa yang dilakukan Mico terhadap Leka itu benar. Jika aku nggak berat sama kamu, kemungkinan besar aku udah suruh Leka pergi dari rumah ini udah dari dulu” mendengar nama Leka disebut sebut membuat Qinar menatap Dika.
“Kamu tahu... Karena kasih sayang kamu terhadap Leka, kamu jadi jauh dari anak anak kamu sendiri. Jujur aku nggak melarang kamu berbuat baik kepada siapapun, termasuk Leka. Tapi tolong, tolong kamu ringanin beban pikiran aku Qinar. Kamu sangat tahu sebagaimana sibuknya aku dikantor, kamu tahu itu. Aku juga melarang kamu berhenti berkarir juga bukan karena apa apa. Aku takut anak kita kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Maka dari itu, seenggaknya jika tidak ada aku disamping mereka, tapi masih ada kamu yang selalu ada buat mereka... Tapi semua yang aku pikirkan nggak berjalan dengan baik, karena kamu lebih mementingkan anak orang lain dari pada anak kita sendiri. Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak melarang kamu untuk menyayangi anak orang lain. Aku hanya mau kamu pikir ulang aja, kamu renungin semua ini. Karena dimata aku apa yang kamu perbuat selama ini salah terhadap Lisa, terutama sama Mico yang sampai sampai kamu mengingatkan status dia” ucap Dika panjang lebar, mencoba memberi pengertian kepada istrinya. Namun Qinar hanya diam, entah arti diamnya itu dia mengerti atau nggak ngerti.
“Cobalah untuk mengerti, Lisa. Aku nggak mau dengan keadaan seperti ini, justru malah membuat mentalnya kembali memburuk” ujar Dika berdiri sambil memberi usapan pelan pada Puncak kepala Qinar.
Sepergian Dika. Qinar masih diam dengan sisa sisa air mata yang masih membasahi pipi mulus tanpa jewat dan keriput itu. Dengan perlahan tangannya terangkat dan mengusap kedua pipinya yang basah. Jika saja dia saat ini sedang merasakan sakit pada hatinya. Lantas apa yang dirasakan putra dan putrinya selama ini?? Jujur saja Qinar tidak pernah membandingkan antara Lisa dan Leka. Dilihat dari segi manapun, Qinar pasti lebih menyayangi Lisa ketimbang Leka. Tapi setelah mendengarkan perkataan Suaminya tadi, justru malah terdengar sebaliknya. Yang seakan akan Qinar lebih sayang Leka ketimbang Qinar.
Dan Dika. Apa yang di katakan suaminya tadi juga benar. Jika Qinar lah yang mau mengadopsi Mico. Bernjnji jika ia akan merawat Mico seperti anaknya sendiri, dan tidak akan pernah mengungkit status Mico yang sebenarnya. Tapi semua janji itu telah sirna akibat Qinar kemakan emosinya sendiri.
“Semuanya salah...” rilih Qinar dengan kembalinya cairan mening yang kembali menetes.
TBC.
Buruan vote dan komen aku tungguin 🤭
-Regards
KAMU SEDANG MEMBACA
One Love [complete]
Novela JuvenilTidak ada yang berubah dari Lisa. Sifat angkuhnya tetap bertahan hingga ia dewasa. Hingga Lian kembali pulang ke Indonesia pun sifat Lisa tidak berubah. Akankah Lian mampu menaklukkan hati Lisa yang sudah mengeras? mungkinkah Cinta Lian akan di bala...
![One Love [complete]](https://img.wattpad.com/cover/208758922-64-k490673.jpg)