14 - Teman Pertama

1.7K 287 37
                                        

Adhisti menolehkan kepalanya ke arah Gian yang terlihat begitu riang. Suasana hatinya sedang baik—tidak seperti terakhir saat Gian mengajaknya datang ke rumah—untuk menjemput kamera.

Hari itu, Gian tidak seperti ini. Ia lebih banyak diam dan seolah tak suka pulang ke rumah.

"Gi, emang di rumah lagi ada acara ya?" tanya Adhisti akhirnya untuk menyudahi rasa penasarannya.

Gian menoleh sekilas ke arahnya sebelum akhirnya memandang lurus lagi ke jalanan, "Acara apa?"

"Ya nggak tahu? Soalnya, lo kelihatan seneng banget. Ada sesuatu di rumah?"

"Nggak ada apa-apa," balas Gian, "Kecuali gue disuruh hadir sama pengacara Bokap untuk perceraian mereka."

Adhisti termangu. Kabar itu baginya tentu bukanlah sesuatu yang bagus—dan ia yakin kabar itu adalah kabar yang tidak baik untuk Gian.

"Terus... Kenapa lo kelihatan seneng banget? I mean, orang tua lo mau pisah?"

"Ya bagus dong, Dhis. Mereka nggak perlu ribut-ribut lagi. Kalau emang udah nggak saling cinta, buat apa harus bersama kan?"

"Gianjar, ini tuh—perpisahan loh. Dan lo seneng?"

Gian lalu kembali menatap Adhisti dan raut wajah yang menunjukkan kegirangan itu tak terlihat lagi di wajahnya.

"Siapa bilang gue seneng? Gue sedih,"

Adhisti mengerjap, tak habis pikir dengan perkataan Gianjar barusan. "Lo sedih? Tapi kayaknya lo tadi seneng—sumpah, Gianjar, gue bener-bener nggak ngerti sama lo."

Gian tiba-tiba terkekeh, "Gue seneng karena ketemu lo lah, Dhis. Bukan karena mau balik ke rumah."

Adhisti tidak tahu sudah berapa banyak ia dibuat tertegun oleh kata-kata yang Gian lontarkan. Adhisti terdiam dan merasakan detak jantungnya terpacu setelah mendengar apa yang Gian ucapkan.

"Gianjar... Lo tuh—"

"Kita udah sampai,"

Adhisti mendongakkan wajahnya dan menatap rumah besar di hadapannya itu. Gian memasukkan mobilnya ketika Mamang membuka pagar dan kedua orang itu sama-sama menurunkan kaki dari mobil.

Rumah ini memang besar. Bahkan berkali-kali lipat besarnya dari pada rumah keluarga Adhisti. Hanya saja, rumah ini terlihat begitu sepi. Pantas saja Gian lebih memilih untuk tinggal di kost bersama Antares—yah, selain jarak rumah dan kampus mereka jauh, sih.

"Mas Gian," sapa Mamang sambil bergegas menghampiri Gian. "Bapak sama Ibuk udah nunggu di dalem,"

Gian mengangguk paham lalu menoleh ke arah Adhisti, "Dhis, yuk masuk."

"Gi, gue di sini aja sama Mamang," ucap Adhisti. "Gue nggak enak masuk ke sana. Itu urusan keluarga lo."

"Gue justru lebih bisa tenang kalau ada lo, Dhis. Gapapa. Kita masuk ya?"

Adhisti menggelengkan kepalanya lagi, "Sumpah, Gi. Gue nggak enak. Gue di sini aja ya?"

Gian menatap Adhisti agak lama, hingga akhirnya ia menghela napas kasar dan mengalah. Gian kemudian membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam rumah.

"Mbak ini pacarnya Mas Gian, ya?" tanya Mamang tiba-tiba.

Adhisti dengan cepat menggeleng lagi, "Nggak, Mang. Sumpah, enggak."

Mamang tergelak, "Tapi, ajaib banget loh Mas Gian bawa temen pulang ke rumah. Cewek pula. Pantesan aja waktu itu Ibuk agak kaget, Mbak."

"Oh ya?" balas Adhisti ingin tahu.

Soundtrack : SomehowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang