DelapanBelas.

6.2K 894 61
                                        

Jeno merutuki kebodohan nya malah parkir mobil nya di sembarang tempat, udah tau tempat ini pada berkeliaran anak buah dari pabrik itu.

'mampus gue, astaga' batin jeno. Dia bergegas memutar otak mencari solusi disaat genting seperti ini.

Dua orang dengan tubuh kekar berbalut kaos hitam itu mendekat ke arah mobil jeno, mencoba mengintip dari jendela gelap.

"Kosong nih mobil, punya siapa?"

"Gak tau, apa jangan jangan punya tamu yg tadi datang?"

"Masa sih? Ah kalo gitu jangan diganggu mobil nya, yuk cabut!"

Jeno bernapas lega, dua orang itu sudah menjauh. Syukur dia membawa tikar bekas piknik dengan jaemin, jadi bisa menutupi tubuh nya dan bersembunyi di bagasi belakang.

Jeno rasa tak aman mobil nya disini, di rasa sudah tak ada lagi orang lalu jeno segera menjauhkan mobil nya ditempat yang aman.

~~~

Chenle terus saja melamun, ntah arah mana mata nya. Jaemin yang melihat nya merasa iba. Jaemin membawakan coklat panas dan beberapa cemilan.

"Mmm chenle?" Chenle tersadar dan menatap jaemin yang sudah duduk disisi ranjang bersama nya.

Mata chenle memerah, wajah nya juga memerah seolah menahan tangis.

Jaemin lalu mendekap chenle, menyamankan posisi pelukan nya agar chenle nyaman.

"Nangislah chenle. Jangan kamu tahan!" Tak disadari jaemin juga ikut menangis.

Hikss.. hikss.. hiks..

"Jisung bakal selamat kan?" Lirih chenle, air mata nya tumpah di bahu jaemin.

"Percaya sama jeno, kita cuma perlu berdoa"

Hikss.. "ini pasti karena papa."

"Sstt kamu ga boleh gitu, Ulululuu sayang.."

.

Jeno sudah berhasil masuk ke pabrik, tampak tenang dan seperti pabrik bekas biasa. Mengedar pandangan ke setiap sudut dengan hati hati.

"Jisung dimana? Beneran dia disekap disini?" Gumam jeno.

"Woyy lu siapa hah!?"

Jeno bergegas kabur, ada seseorang mengetahui nya. Tapi dia malah terjebak di ruangan buntu.

Tak ada pilihan lain selain, bergelud.

Jangan lupakan bahwa jeno juga memiliki otot yang hampir sempurna, tubuh nya juga kekar dan sehat. Memiliki tenaga yang tak kalah kuat dan mungkin bisa menjatuhkan seseorang dihadapan nya kini.

Orang itu mulai menyerang dengan melemparkan pukulan ke perut jeno, tapi berhasil dihindari. Kini jeno yang melesatkan tinjuan ke wajah orang itu dua kali, dan terakhir ke leher.

Orang itu terasa berdenyut tatkala leher nya di tinju kencang oleh jeno, jeno pun berkesempatan menendang perut orang itu dan menyudutkan nya ke dinding dengan tangan terkunci oleh jeno ke belakang.

"Tangan lo patah sekarang atau kasi tau jisung disekap disana? Cepat kasi tau!!"

"Si-siapa jisung?"

"Anak buah bodoh! Masa gak tau?? Tadi siapa yang disekap disini hah?"

"Apa remaja yang kaki nya ditembak itu?"

Jeno melotot kaget, apa maksud nya dengan 'kaki ditembak?'.
Jeno menguatkan kuncian nya dan hampir mematahkan tangan besar orang itu.

"Akh!" Pekik orang itu, dada nya sudah sesak karena tersudut ke dinding.

"Kasi tau dia disekap dimana?? Atau gue beneran pecahin kepala lo ke dinding??!"

"Ja-jangan! Gue punya anak cewek, kasi gue kesempatan idup."

Jeno melemah, ternyata anak buah ini seorang ayah. Tapi jeno tetap waspada.

~~~

"Ji-jisung?"

"Jen-jeno?? Jeno lo ngapain kesini? Chenle??"

"Chenle aman, dia di---"

"Cepat kalian kabur, kayak nya bos bakal kesini." Kata orang itu.

Jeno mengangguk paham, dan sigap memapih jisung. Ada pintu keluar belakang yang sudah disiapkan dan mereka berhasil kabur karena bantuan salah satu anak buah yang diancam tadi.

Jeno dan jisung sudah keluar pabrik, tapi malah ketahuan dan mereka kejar kejaran. Sangat sulit berlari karena jisung ini berat, badan nya lebih besar dari jeno :(

Mereka sempat bersembunyi disemak semak, dengan jantung berdegup kencang.

"Arrhh mereka gaada disini, cepat cari sebelah sana! Kita bisa mati di tangan boss kalo gak ketemu."

Dua anak buah itu pergi, dan jeno kembali memapih jisung. Jisung meringis sakit, luka nya ini masih basah dan belom diobati. Ngilu sangat terasa sampai membuat jisung ingin pingsan karena kehabisan darah.

Dengan pantang menyerah, mereka berhasil ke mobil jeno yang terparkir jauh tadi. Dan membawa jisung ke klinik terlebih dahulu.

Jeno menunggu diruang tunggu, sambil bersender dengan nafas terengah dan bulir keringat mengucuri tubuh nya. Ini seperti olahraga malam, gumam nya.

Drrrtt..

Drrrtt....

Ponsel jeno berdering.

Nama Nana🍭 terpampang di layar ponsel itu. Jeno yang dingin bisa alay juga ternyata. Ya cuma karena Na Jaemin.

"Halo Na? Ada apa?"

"Ehem! Halo?"

Jeno melotot kaget, dia kenal suara berat ini. Rasa nya dia ingin mengumpat.

"Lo? B*ngst!!! Dimana nana??"

"Lo mau denger?"

Selang beberapa detik..

"Hikss.. jeno! Tolong gue sama chenle---"

"Lo udah dengar? H.m?" Kembali ke suara berat itu, tampak mengintimidasi.

"Ini akibat nya kalo lo ikut campur Lee jeno! Jangan salahkan gue kalo Nana mu juga akan ku sakiti!"

Tutt...

Jeno bungkam, hati nya sakit begitu bodoh meninggalkan jaemin disana. Apartemen bukan tempat yang sangat aman ternyata.

Ingin dia membanting hp dan menghancurkan apa saja dihadapan nya. Jeno sangat terpuruk sekarang, dia frustasi dan stress.

Bagaimana sekarang?

Jeno berusaha tenaga, mengatur jalan otak nya. Menunggu jisung setelah diobati.

Apapun itu, jeno dan jisung akan menyelamatkan milik mereka yang berharga.

.
.
.
.
.
.

Vote juseyo~
👇

Love friend [ ChenJi ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang