TigaPuluhEmpat.

4.9K 492 38
                                        

Chenle masih tenang, memasuki mansion mewah itu. Disambut beberapa asisten rumah tangga, chenle nyelonong masuk dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.

"Sayang~" ucap mama zhong, memeluk erat anak nya karena sedari malam tidak pulang dan tidak ada kabar.

"Papa dimana, ma?" Mama zhong melepas pelukan nya, mengusap pipi gembil chenle.

"Papa my seperti biasa ke kantor, bahkan dia Bilang sudah meminta anak buah nya untuk mencari mu."

"Chenle pamit." Chenle segera pergi, kembali dan menarik jisung. Bahkan jisung belum sempat menyapa mama zhong.

Mama zhong ikut terkejut melihat tingkah tak biasa anak bungsu nya.

Chenle dari tadi meremas tangan nya sendiri, merasa gugup jika dia mengetahui sebuah fakta sebenarnya. Chenle memang tau pekerjaan ayah nya sebagai pebisnis, tapi disisi lain chenle tidak pernah bertanya lebih jauh.

"Apa yg mau lo tanyain nanti?"

"Semua nya." Jawab chenle cepat.

Mereka sudah sampai ke gedung besar itu, tinggi dan tersedia lift transparan. Chenle bergegas masuk dan disambut beberapa karyawan disana, chenle sangat jarang berkunjung ke salah satu cabang perusahaan ayah nya. Karena dia memang tidak terlalu tertarik.

Chenle dan jisung menaiki lift, menekan angka 8 dan menunggu sampai ke lantai tujuan. Tangan besar jisung menggenggam erat tangan mungil chenle, memastikan chenle tidak terlalu khawatir.

"Apa kita gak terlalu lancang? Seharusnya kita tanya karyawan di lobby agar memastikan papa lo ga sibuk." Chenle tak menggubris itu.

Chenle tanpa mengetuk langsung membuka pintu ruangan papa, memperlihatkan tuan zhong dan sekretaris nya. Dua orang berjas rapi tersebut tampak kaget dan kebingungan dengan datang nya chenle.

"Bawa saja berkas nya nanti-" ucap tuan zhong, sekretaris nya pun meninggalkan ruangan sambil menunduk pada chenle. Sekretaris itu juga sudah menutup pintu ruangan.

"Ada apa chenle?? Kenapa tiba tiba-"

"Papa! Apa papa yg kerja sama yuna biar bawa aku ke USA lagi??"

"Huh?"

"Papa, jangan bohong! Hiks-" jisung segera mendekap chenle.

"Wah.. seperti nya benar bahwa pengaruh orang berandal seperti mu tidak baik untuk anak ku." Ucap datar tuan Zhong, kembali menduduki kursi kerja nya dan menautkan jari nya.

"Maksud papa? Jadi benar??" Chenle melepas pelukan jisung dan kembali menghadap papa nya.

"Sedari awal, papa tidak suka dengan dia. Dia berandal, dia anak kotor, tidak cocok dengan mu Zhong chenle."

"Papa?"

"Itu alasan papa kerjasama dengan yuna, kebetulan dia memerlukan uang untuk menghidupi keluarga nya. Papa beri dia pekerjaan di studio mu, dia juga menyukai jisung. Seharus nya jisung cocok dengan yuna, mereka sama sama rendahan!"

"Tuan Zhong?!!" Ujar jisung, telinga nya panas dan hati nya sakit.

"Papa ingin sekali memisahkan mu dengan dia. karena lihat sekarang, dia banyak mempengaruhi mu. Dia dekat dengan hanya karena uang dan harta!!"

"Papa ga tau apa apa!" Tegas chenle.

"Papa harus tau yang seperti apa? Dari kecil dia sudah terlahir miskin! Sampai ayah nya seorang buruh saja tidak mampu membayar secuil hutang. Ck."

Jisung melotot kaget, dia semakin emosi ketika semakin jelas rekaman ingatan ketika ayah nya sendiri dihajar habis habisan oleh 2 manusia berhati iblis.

"Jadi tuan zhong?"

"Yaa, aku yang meminjamkan uang ku pada orang tua mu." Jisung langsung melesatkan tinjuan nya ke rahang papa nya chenle.

"Aku akan membunuh mu!" Jisung menghempaskan tubuh itu ke meja dan mencekik tuan zhong. Chenle melihat nya hanya shock dan menutup mulut karena kaget.

"S- sudah jisung. Tolong lepaskan papa." Lirih chenle.

Wajah jisung sudah memerah menahan amarah yang bergejolak hebat. Cekikan itu semakin erat membuat tuan zhong terbatuk dan kehabisan nafas.

"Jisung, tolong jangan lakukan itu." Lirih chenle kedua kali nya.

Suara lembut chenle adalah kelemahan jisung, jisung pun melepas cekikan itu. Tampak leher papa nya chenle memerah dan sedikit biru.

Uhuk uhuk uhuk...

Kembali jisung mencengkram kerah kemeja tuan Zhong.

"Aku melepaskan tua bangka seperti mu karena anak mu, aku mencintai nya dan karena itu lah nyawa mu masih selamat." Jisung langsung membawa chenle pergi dan meninggalkan gedung perusahaan ini.



~~~

Hanya ada suara tipis jangkrik yang menemani malam rumah jisung, tampak tenang dan senyap dalam gelap nys temaram malam.

Hening seketika rumah jisung, tv sudah dinyalakan tapi mata chenle bertatap kosong ke depan.

"Ada apa?" Tanya jisung, yang sedari tadi bersender di pundak chenle.

"Hmm apa papa gue sejahat itu sampai--"

"Shh.. udah gausah dibahas." Jisung mengusap usap pipi gembil itu, merasa gemas.

"Gue ga mau tinggal sama papa lagi,"

"Lalu?"

"Gue tinggal sama lo aja." Chenle menatap serius jisung, tapi jisung hanya terkekeh melihat betapa gemas nya seorang Zhong chenle.

"Serius, hm?" Chenle mengangguk cepat tanda yakin.

"Ada syaratnya-"

"Apa?"

Chup!

"YA!! Park jisung!!!" Jisung segera kabur ke dapur, membawa toples kosong yang akan diisi ulang cemilan.

(Ternyata pipi nya di cium guys) 😭




.
.
.
.
.
.
.
.
.
.


Next chapt adalah episode terakhir di season 2 ini 🥺💚💚

Makasih banyak readers, support kalian bener bener Precious banget buat author 💚💚💚




Oh ya, bakal ada soon work baru ya. Clue nya kabar baik untuk Nomin shipper 😁💚 Siap siap para penumpang kapal nomin ~~





Vote juseyo~
👇

Love friend [ ChenJi ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang