Keberhasilan Grace mendapatkan seorang Jeffrey Herrick yang mengajarkan bagaimana ketulusan cinta.
Tetapi kegagalannya adalah, dia juga ikut andil dalam kehidupan Jeffrey yang di mana mereka terpaut sangat jauh hingga perbedaan era zaman.
"Dia seseo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalimatmiring menandakan ucapan yang digunakan dalam bahasa isyarat
-•••-
Bola matanya masih terpaku pada sosok yang selama ini ia tunggu kehadirannya. Mengikat cinta saat perang bergemuruh membuat ketidakpastian pertemuan yang ditunggu. Namun kakinya seperti diikat oleh seutas rantai yang tertanam dalam tanah. Ingin menggapai badannya dalam pelukan, mengelus pipi sembari menghayati arti pandangan mata satu sama lain yang saling menatap ditemani angin yang berhembus di depan wajah.
Dalam diamnya, ia merasakan jantungnya bergerak kencang tanpa disentuh. Suasana hati yang tiba-tiba merubah segalanya. Satu tetes air mata lolos dari mata yang memerah.
Kakinya ia paksakan melangkah sesuai garis yang sudah ditandai oleh titik diujung sana. Objek itu yang menjadi titik langkahnya berakhir. Grace berjalan pelan tanpa melepas pandangan dari awal, meninggalkan wagner yang saat itu terdiam melihat tingkah aneh grace.
"Grace? Mau kemana? Mau mencoba berkenalan dengan mereka juga? Ayo aku antar" wagner mengiringi langkah grace tanpa tahu mengapa dia bertingkah seperti ini. Wagner tidak akan tahu apa yang terjadi nanti.
"Hey, sepertinya mereka ke arah kita. Apalagi yang mereka butuhkan? Ingin tahu bagaimana keadaan saat jerman menyerah? Oh bulshit. Kita saja sudah tertangkap disini" salah satu dari tawanan itu melihat dua orang yang akan menuju ke arah mereka
Temannya menepuk pundak jeffrey untuk memberikan tanda jika ada dua orang yang sedang berjalan ke arah mereka saat ia sedang menanamkan tiang kayu pada tanah yang sudah digali dalam. Jeffrey berhenti sejenak, menoleh pada temannya yang sedang berbicara padanya dengan jari yang bergerak menjadi sebuah kalimat.
"Ada yang datang, dia lagi. Tapi kali ini dia dengan seorang wanita. Apalagi yang mereka inginkan?"
Jeffrey menoleh masih sembari memegang tiang kayu yang belum tertanam. Jika ia melepasnya pasti tiang itu akan jatuh. Tolehan pertama tidak cukup membuatnya puas apa yang ia lihat saat ini. Ia membalikan badan dan terpaksa ia melepas tiang itu hingga jatuh, untung masih ada yang menahannya dengan sigap saat tiang itu dilepas oleh jeffrey karena ia melihat sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan terlebih dahulu. Dia memastikan tidak sedang bermimpi dihadapkan kenyataan ini.
"Jeffrey kau gila? Tiang itu hampir jatuh!" Temannya menggerakkan tangannya beserta bibirnya tanpa suara didepan jeffrey dengan cepat menandakan nada bicara yang sedang kesal. Tetapi jeffrey malah menggeser badan temannya yang menghalangi pandangannya pada seseorang yang mengarah kepadanya
Kaki jeffrey mulai melangkah pelan. Merentangkan tangannya rendah seperti sudah tahu ada seseorang yang akan masuk ke dalam dekapannya yang akan merengkuh dan menguncinya di dalam pelukan. Sungguh, sesakit sakitnya ia merasakan luka saat di medan perang, masih belum bisa mengalahkan sakitnya perasaan ini. Perasaan yang bahagia bercampur sakit. Bahagia karena tuhan masih memberi mereka jalan untuk bertemu, tapi sakitnya karena ia merasa bersalah meninggalkan wanitanya seorang diri tanpa kabar yang jelas. Entah kemana surat-surat yang selama ini ia kirim untuk grace, tidak pernah sampai kepada wanita itu.