Small talk at night

2.6K 470 82
                                        

Kami hanya duduk santai mengobrol dengan background musik yang berasal dari vinyl yang menyala di pojok ruangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kami hanya duduk santai mengobrol dengan background musik yang berasal dari vinyl yang menyala di pojok ruangan.

Lantunan musik khas era 1940an meresap bersatu bersama dengan suasana obrolan pada malam hari ini. Ditemani dengan dua cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uapnya.

Sungguh. Aku seperti tidak merasakan hidup di zaman ku. Prabotan antik, musik klasik yang dimainkan oleh sebuah vinyl.

Aku sangat menikmatinya. Dimana hidup terasa lebih nyaman ketimbang di zaman sekarang.

Suasana historis yang hanya sering aku lihat lewat film sejarah, buku, ataupun dokumenter semua terasa disini. Walaupun hanya didalam rumah.

"Sepertinya kamu sering banget ke makam ayah" Tanya jeffrey

"Emm.. kangen ayah aja" jawabku

"Lagi patah hati ya?" Jeffrey tersenyum setelah menyesap teh

"Eh enggak lah, siapa yang lagi patah hati" aku menggeser pandangan ku ke arah lain, tidak melihatnya.

"Sepertinya orang waras tidak akan memayungkan sebuah makam ketimbang dirinya sendiri. Karena dia tau makam itu benda mati. Sedangkan dirinya makhluk hidup"

Jeffrey menampilkan wajah puas dengan menyudutkan kebohongan ku. Dan aku kalah.

"Iya iya. Aku bohong"

Jeffrey hanya tertawa melihatku mengungkapkan kebohongan ku. Aku lihat dia tidak lepas menatap ku sejak awal percakapan dimulai. Tapi mataku hanya sekilas melihatnya, setelah selesai berbicara mata ku pun memandang ke arah lain. Merasa gugup jika pandangan kita terus bertemu.

"Apa yang membuat mu patah hati hm?"

Kami duduk berhadapan yang dibatasi oleh meja kayu yang biasa di tempatkan di ruang tamu. Tetapi ini untuk diruang tengah.

Badannya yang tadi bersender di sofa tiba tiba memajukan dirinya, menopang badannya dengan siku yang ia taruh di atas pahanya dan jari tangan yang menyatu menopang dagunya.

Menatapku lekat seakan ingin tahu apa yang terjadi pada kisahku. Jujur, tatapan tajamnya membuatku tidak kuat memandang ke depan. Sesekali aku menundukan wajahku.

Dia terlalu..

Tampan.

"Kenapa nunduk? Coba liat aku. Siapa yang buat kamu sakit hati?"

Kata katanya seakan memaksaku menatapnya dengan cara halus. Aku tidak terbayang jika mempunyai pasangan yang mempunyai sifat seperti dia.

Padahal aku bukan menunduk karena sedih. Masalah itu sudah benar benar aku buang jauh jauh. Tidak lagi menempatkan kisah buruk itu pada masa lalu ku. Yang sekarang ku kejar adalah masa depan.

Aku hanya tidak ingin melihatnya karena tatapan yang ia berikan. Tapi jika seperti itu yang dia katakan, aku menurutinya.

Aku mendongakkan wajahku ke arahnya.

Hello My SoldierTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang