Jaemin tengah menonton siaran film di televisi saat suara mobil terdengar dari luar gerbang rumahnya. Sejak tadi pagi ibu dan ayahnya pergi menghadiri pernikahan kerabat ayahnya di luar kota. Jadi mobil yang datang itu pasti milik Jaehyun.
Pemuda itu bangkit dari posisi berbaringnya untuk membukakan Jaehyun gerbang. Setelah mobil silver itu terparkir di carport Jaemin menutup sekaligus mengunci gerbangnya.
"Bawa apa itu Kak?"
"Pizza. Kemarin habis dapat voucher promo jadi tadi mampir dulu."
"Udah banyak duit aja masih suka cari promo."
Jaemin mengambil alih kantong plastik dari tangan Jaehyun dan meletakannya di meja depan televisi.
"Ayah sama Mama kemana? Tumben jam segini sepi."
"Kondangan ke luar kota."
Jaehyun duduk dan membuka kotak pizza di depannya saat sepupunya berlalu ke dapur untuk mengambil sebotol besar air dingin serta dua gelas kosong.
"Dih, ada tamu masa dikasihnya cuma air putih?"
Pemuda yang memakai hoodie hitam itu mencibir kepada tamunya, "ambil sendiri sana kalau mau yang macem-macem. Biasanya juga dateng-dateng langsung buka kulkas."
Setelah menghabiskan seloyang pizza kedua lelaki itu memainkan video game yang tempo hari Jaemin katakan. Sejak Jaehyun kembali ke kota ini delapan tahun yang lalu, Jaehyun selalu menjadi teman bermain Jaemin.
Ayah Jaehyun adalah paman Jaemin dari garis ibu, yang menjadi diplomat dan sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saat memasuki SMA Jaehyun berhenti mengikuti ayahnya dan memilih tinggal bersama keluarga Jaemin. Baru saat kuliah ia tinggal sendiri dengan menyewa apartemen bersama teman-temannya.
Jarum jam menunjukkan pukul satu dinihari saat Jaemin merapikan konsol dan menyimpannya di rak bawah meja televisi. Sebentar lagi ada tayangan bola dan Jaehyun ingin menontonnya. Jadi sebagai tuan rumah yang baik, Jaemin mengambilkan selimut dan bantal untuk mereka berdua.
Jaemin tidak begitu fanatik sampai harus menonton seluruh seri siaran pertandingan sepak bola seperti lelaki kebanyakan. Tapi ia hafal tim apa saja yang berlaga di Liga Inggris dan siapa saja nama pemainnya. Terkadang pun ia mengiyakan ajakan nobar atau bermain futsal bersama teman-temannya seperti masa-masa perkuliahan kemarin.
***
"Na?"
Jaemin mengangkat pandangannya dari ponsel.
Jaehyun membalik badan ke arah sepupunya dengan sebelah siku yang bersandar di sofa. Saat ini mereka duduk di karpet depan televisi. "Kamu lagi ada masalah?"
"Kata siapa?"
"Mama Yoona cerita kalau kamu jarang keluar rumah dan udah nggak pernah ke kampus."
"Aku keluar rumah, kok. Beberapa kali pergi konsultasi saat Mama sibuk di toko kue." kalimat terakhir Jaemin simpan dalam hatinya sendiri. "Kalau ke kampus, memang belum ke sana lagi."
"Kenapa?"
"Aku lagi pusing bimbingan. Malas ketemu dosenku."
"Kenapa?"
"Dosenku galak banget."
"Kenapa?"
Ini yang kadang Jaemin tidak suka dari sepupunya. Jaehyun adalah tipe orang yang sangat ingin tahu dan akan mengejar sampai ia mendapatkan jawaban. Tiga tahun selalu bersama Jaemin dari pagi hingga mau tidur –kecuali saat jam sekolah, membuat Jaehyun hafal bagaimana saudaranya itu menyembunyikan sesuatu.
"Aku nggak kenapa-kenapa, kok. Beneran." Lelaki itu mengangkat dua jari meyakinkan saudaranya jika tak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Jaehyun menghela napas. Ia tahu jika Jaemin bukan orang yang suka merepotkan orang lain dengan masalahnya dan memilih menyimpannya sendiri. Jika biasanya ia akan mendesak Jaemin, namun kali ini ia memilih bersabar sampai sepupunya itu mau terbuka.
Ada sesuatu yang berbeda di mata Jaemin ketika Jaehyun melihat sepupunya tengah membersihkan meja kafe seminggu yang lalu. Pandangannya tidak fokus seolah melihat sesuatu yang jauh yang tidak ada di tempat itu.
Jaehyun mengelus rambut sepupunya yang kini sudah nampak mengantuk.
"Sini tidur. Biar aku nonton bola sendiri aja." Jaehyun menepuk sisi yang kosong di sampingnya dan merapikan bantal untuk Jaemin.
Yang lebih muda beringsut masuk ke dalam selimut dan tidur membelakangi. Jaehyun mengalihkan pandangannya kembali ke televisi.
***
Di tempat lain, Mark tengah merapikan barang-barangnya ke dalam kotak. Jisung tidak ikut membantu tapi sedari tadi dia memperhatikan kakaknya mengemas sendiri.
"Bang lo yakin mau keluar dari rumah?" Jisung sedang tengkurap di atas kasur sambil membolak-balikkan salah satu koleksi hot wheels milik kakaknya.
"Seratus persen, Ji."
"Papa pasti nggak bakal suka sama ide lo."
Mark menghentikan kegiatan merekatkan lakban pada salah satu kardus bukunya. "Pasti suka. Bokap lo itu bakal lebih nggak suka kalau gue tetap di sini tapi nggak mau nurut kata dia."
"Bokap gue juga bokap lo kali."
Hening sejenak melanda kedua kakak beradik itu. Mark yang posisinya duduk di lantai membelakangi Jisung kini tak melakukan apapun selain memutar lakban di tangannya. Sedang Jisung berbalik telentang menghadap langit-langit.
"Udah bilang Mama, Bang?"
"Belum."
"Kalau mama sedih gimana? Kan dia sayang banget sama lo."
Mark berbalik menghadap Jisung dan menarik sejumput rambut adiknya –setengah menjambak. "Lo ngomongnya kaya gue mau pergi jauh aja. Wajar kali gue tinggal sendiri. Gue kan cowok dan udah kerja."
Jisung masih dalam posisi tidurannya malah menikmati perlakuan tangan Mark yang mengacak rambutnya. "Soalnya lo pergi pas lo masih berantem sama papa. Mama pasti tambah sedih kalo lo keluar rumah."
Mark terdiam memikirkan perkataan adiknya.
tbc
Double update soalnya besok mau pergi sampai malem heheh
Dari episode pertama mini game keluar selalu kesengsem sama looknya Baby Ji T.T
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.