14. The Date for Wedding

151 16 0
                                        

Assalamualaikum, jadi part ini belum pernah ke publis dan part ini terlupakan. Jadi, ...

Happy Reading
🍓🍓🍓🍓

A

rsen menatap Deeva seakan akan meremukkan tulang-tulangnya, ia menjadi sangat benci dan marah kepada Deeva yang sedari tadi menampakkan wajah tenangnya.

Para orang tua menjadi senang dan lansung membicarakan tanggal pernikahan yang tepat bagi keduanya.

“Dasar ya lo!? jangan bilang gua nggak pernah memperingatkan elo!” tunjuk Arsen kepada Deeva dengan wajah murkanya, sedangkan para orang tua hanya memandang Deeva untuk menunggu reaksi yang disodorkan ledakan emosi.

“Gua kan udah bilang, neraka itu nggak ada di tangan seorang Arsen. Gua nggak akan takut sama seorang yang menyimpang kayak, lo! lo pikir dengan ngancem, gua bakalan mundur gitu dari jawaban yang dikirimkan Allah. Ck... jangan mimpi, lo,” ujar Deeva dengan tenang bahkan amat tenang.

“Jangan bawa-bawa Tuhan lo yang nggak ada wujudnya, Tuhan lo ....”

Ucapan Arsen lansung dihentikan oleh Deeva, “Tuhan gua adalah Tuhan lo juga, cepat atau lambat hati lo yang ketutupan debu itu bakalan bersih dari yang namanya ketimpangan. Lo itu laki-laki, seharusnya lo lebih berprinsip dan gua nggak nyangka gara-gara cewek lo kayak gini. Sana jadi banci!”.

Arsen tidak bisa mengembalikan jawaban Deeva yang amat tajam baginya, sedangkan yang lain melihat mereka dengan ekspresi berbeda.

Para orang tua terlihat senang, Kenzo terlihat mengepalkan tangan marah, Pretty memandang Deeva seakan yang ia pandangi adalah penjahat nomor satu di dunia, dan Sinta melihat pertengkaran itu sebagai ladang untuk melancarkan rencana balas dendamnya.

Menurutnya pernikahan ini akan membuat si Iblis kecil itu semakin menderita dengan kebencian dari suaminya kelak.

“Kenapa diem? Skakmat ya kakak senior yang terhormat, makanya jadi orang jangan terlalu merasa di atas! Sadar diri!” lanjut Deeva dengan senyum mengejek miliknya sedang Arsen hanya mengepalkan tangannya.

“Aduh calon mantunya gua memang the best deh!” ujar Senja dengan ucapan yang mulai keluar dari bahasa formalnya.

“Anak siapa dulu dong, anak gua gitu loh,” ujar Zevana menimpali ucapan Senja yang disambut tawa bahagia ke empat orang tua tersebut.

“Jadi kapan waktu yang tepat untuk acara baik ini?” tanya Furqon pada akhirnya.

“Acara yang baik ini tidak boleh di tunda terlalu lama, bagaimana kalau setelah Arsen lulus?” ujar Arkan ayah Arsen.

“Kalau kami sih setuju saja, bagaimana dengan calonnya?”  tanya Zevana kepada calon pengantin.

“Kalau Deeva terserah kalian saja gimana baiknya,” jawab Deeva singkat dengan raut kembali tenang.

Malam itu hanya kelima orang tua sangat senang dengan kabar ini dan tentu saja orang kelimanta adalah Jenny. Jenny beranggapan kalau mereka menikah, maka ia akan lebih mudah menguasai segala hal yang ada di rumah ini.

Kenzo masih menatap Arsen untuk meminta penjelasan, sedang Arsen hanya berguman lirih, “nanti gua cerita.”

Pretty sendiri tengah menatap tajam ke arah Deeva yang terlihat tenang, ia sangat iri dengan nasib Deeva yang mujur.

*****

Setelah malam itu, kebencian Arsen semakin menjadi terhadap Deeva.

Malah hari ini ia terlihat membolos kuliah bersama ke dua sahabatnya, Revan menatap dua sahabatnya yang terlihat berbeda dari biasanya.

Fille ForteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang