Assalamualaikum, mohon maaf karena jarang update belakangan ini. Kesibukan sebagai panitia selama seminggu, membuat Cia nggak sempet nengok hp. Jadi....
Happy Reading
🍓🍓🍓
Hari pernikahan Kenzo dan Cia akhirnya tiba, di kamar milik Deeva terlihat tiga sahabat yang sedang dirias dengan sederhana.
Walaupun pernikahan karena sesuatu, akan tetapi Deeva dan Cristy harus tetap terlihat bahagia agar Cia tidak ikutan sedih dan kembali murung. Cia juga sudah ikhlas menerima jalan hidupnya yang menikah dalam keadaan seperti ini.
“Halo calon keluarga baru yang sama pembawa sialnya dengan calon iparnya!” kalian pasti tau kalimat itu datang dari mana, siapa lagi kalau bukan si Pretty yang melenggang masuk bersama kedua teman barunya.
“Jaga ya mulut lo!”
“Mulut lo yang seharusnya dijaga Cristy, di sini lo bukan siapa-siapa! Lo cuma anak kesasar yang main sama anak yang sok alim di dekat lo itu,” ujar Melisa kepada Cristy.
“Memang situ Tuhan main doktrin segala, kalau lo lupa? Lo semua juga bukan siapa-siapa di sini, kalian diundang Pretty yang juga bukan siapa-siapa di rumah ini,” ujar Deeva dengan nada yang sedikit ditekan.
Tak sopan memang? Tapi keadaan yang memaksanya untuk berkata demikian, kalau banyak yang bertanya kenapa sikapnya tak seperti sang Ibunda yang selalu berfikir sebelum berkata? Maka ia dengan lantang menjawab, “Aku ya aku! Jangan samakan aku dengan Bundaku, aku bukan orang yang mudah untuk ditakhlukkan dengan kalimat kosong tak berguna.”
“Lo memang persis yang diceritakan Kenzo, nggak punya perasaan dan nggak berakhlak. Tak salah pepatah mengatakan jangan nilai dari tampilan luar, nggak salah lo sama sahabat lo punya banyak musuh,” timpal Arsen yang datang bersama Revan.
“Kejadian ini bukan hanya salah Kenzo, akan tetapi ini semua karena kau memang pembawa sial,” lanjut Revan dengan senyum yang membuat Cristy ingin maju dan memberinya sedikit pelajaran, namun Deeva menahan lengannya dengan kuat.
“Kalian siapa memangnya? Sok-sok’ an memutuskan siapa salah dan benar, kalian bukan Tuhan? Kita ini sama di mata Tuhan, nggak kurang nggak lebih! Jangan berlaku seakan-akan kalian lebih dari manusia biasanya,” ujar Cia dengan nafas yang kini sedang memburu karena amarah.
“Kalian adalah senior kami, lebih pandai dan telah lama mengenal dunia mahasiswa. Orang pandai dan besar daripada siswa, tapi kelakuan kalian nggak lebih baik dari seorang anak Tk,” sindir Cristy dengan sunggingan miring di wajah cantiknya.
“Kalau kalian sudah selesai, silahkan tinggalkan kamar ini. Kalian nggak berhak menghakimi yang benar dan salah karena kalian bukan pemilik alam semesta, bahkan pemilik semesta pun tak pernah menghakimi umatnya.” Kalimat terakhir Deeva sembari menunjuk pintu keluar untuk keempat orang yang dari tadi masih terdiam dan menatap tajam ke arahnya.
****
Ijab qabul dilakukan di ruang tamu keluarga Mahda yang mana hanya dihadiri oleh beberapa kerabat dekat, mata Deeva pun menangkap keberadaan ‘Kakaknya’ yang lain dengan pandangan seakan mengadu.
Mata Deeva bahkan berkaca-kaca saat menatap mata tajam sang ‘Kakak’, ia juga sangat terharu dengan momen yang ada di depannya hingga ia juga teringat bahwa sebentar lagi tanggungan dosanya akan berpindah.
“Saya nikahkan engkau Kenzo Abraham Bin Al-furqon Jamal Mahda dengan ananda Velicia Rahma Binti Yusuf Ali Firdaus, dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai,” ujar Furqon yang saat ini menjadi penghulu nikah dari anak laki-lakinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fille Forte
Teen FictionSquel ZEVANA ❤❤❤ JANGAN DIBACA PERINGANTAN!!! WARNING!!!⚠⚠⚠ Fille Forte adalah bahasa Prancis yang artinya gadis kuat atau dalam bahasa inggris strong girl ❤❤❤ Kisah ini 'B' aja, jadi kalian mau mampir ya silahkan😇 Kalau pun nggak mau, ya udah sih...
