Entah kapan Katherine Hathaway menyadari sepenuhnya bahwa diantara keterpurukan yang ia alami, ada begitu banyak hal baik dan menyenangkan yang terhampar di hadapannya. Pergi seorang diri ke Verona memang beresiko dan impulsif tapi melihat bagaimana kondisinya saat ini Katie sama sekali tidak menyesal.
Bohong rasanya jika ia bilang ia sudah melupakan kisah cintanya yang bubar di tengah jalan, Hell! empat tahun bukan waktu yang sebentar sama sekali, hatinya pun rasanya masih retak disana-sini. Tapi kali ini Katie sadar bahwa ia mampu untuk menghadapinya dan dengan semua keindahan disekitarnya saat ini, Katie tahu lebih baik dari pada menangisi si pemuda brengsek yang mematahkan hatinya, ia punya lebih banyak hal yang dapat mengalihkan atensi serta membuatnya bahagia.
Salah satunya adalah duduk sambil menghirup cokelat panas di Piazza dei Signory yang sudah pasti akan masuk ke daftar hal-hal baru yang sangat ia sukai. Bangunan-bangunan tua dengan bata kecoklatan yang sudah termakan usia namun masih kokoh dan megah, patung-patung dengan pahatan luar biasa bak dewa dewi Yunani, serta deretan kafe dan restoran disepanjang alun-alun itu pun tidak kalah cantiknya, ditambah alunan lagu-lagu klasik berbahasa Itali yang sedari tadi terdengar entah dari mana.
Ah semuanya begitu sempurna,rasanya Katie tidak ingin kembali ke New York.
Katie melirik pemuda di hadapannya, mungkin diantara banyak keindahan yang disajikan di depan matanya, Ansell Jeon, pemuda itu adalah objek nomor satu yang selalu berhasil menarik atensinya.
Demi apapun Katie bersumpah rasanya sekarang ia sangat ingin membedah otaknya dan mengeluarkan Ansell Jeon dari dalam sana. Saat ini pemuda itu bukan hanya distraksi yang membuat otaknya sibuk memikirkan kata-kata makian tapi pemuda itu berada di dalam otaknya bahkan saat ia tidak berniat memikirkan apapun, dan itu jelas membuatnya bingung dan risih.
Ansell Jeon memang sangat menawan. Sudah sejak jauh-jauh hari Katie menyadarinya, walau kelakuan bak badebah yang kerap ia terima dari pemuda itu membuatnya mencoret fakta itu dari kepalanya. Langit dengan semburat oranye dan keunguan indah yang menaungi mereka saat ini bahkan tampak seperti dipesan khusus sebagai latar belakang untuk memperindah tampilan Ansell Jeon dimata Katie Hathaway.
Namun fisiknya yang rupawan bukanlah poin utama yang membuat Katie nyaman dan merasa hatinya hangat, demi tuhan Katie bekerja di instansi yang membuatnya bisa kenyang jika hanya melihat wajah rupawan. Entah akan seberapa besar kepala di badebah jahil itu jika tau tentang apa yang di pikirkan Katie tentang dirinya saat ini.
"Heh kenapa kau tersenyum sendirian begitu," Katie yang sudah mati-matian mengalihkan pandangannya dari Ansell, langsung menoleh ketika pemuda itu bersuara. "Sudah mulai gila ya?" Lanjutnya.
Sialan.
Tarik lagi semua pikiran rupawan dan menghangatkan hati. Katie merengut melihat Ansell yang menaikan sebelah alisnya. Ugh, menyebalkan sekali.
Gadis itu mendelik, "Minta dipukul ya?." Katie menopang wajahnya dengan telapak tangan, "Aku serius, kosa kata badebahmu mungkin yang membuat kekasihmu kesal."
Ansell memutar matanya, jelas tidak setuju. "Aku tidak pernah bicara seperti itu padanya," mengikuti gestur Katie, menopang wajahnya dengan satu tangan menghadap gadis itu, "Dia kekasihku bukan temanku."
"Cih tidak jadi diri sendiri rupanya." Katie mencibir pemuda itu sedangkan pemuda itu menatapnya dengan tanda tanya, "Tidak bicara bahasa badebah, tidak makan yang kau sukai, tidak bisa marah walau ia dekat dengan banyak lelaki."
Ansell melenguh dan menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi, "Alisa tidak akan menyukai bila aku melakukan hal-hal itu."
Katie menghela nafas, "Harusnya dia menerima mu seperti kau menerimanya," gadis itu mengacak rambut pirangnya frustasi, "Cinta memang memusingkan. "
KAMU SEDANG MEMBACA
Juliet's Little Answer
FanfictionWell, Berniat melarikan diri sejenak dan melupakan segala rutinitasnya yang memusingkan serta kisah cintanya yang baru saja berakhir dengan tragis, justru membuat Katie terjebak dalam kisah lain bersama si pemuda menyebalkan dan kurang ajar yang sia...
