"Katie!"
Katie nyaris melompat dari posisi duduk bersilanya, terkejut setengah mati. Ia lalu mendelik pada gadis bersurai coklat yang kini sedang terkekeh.
"Apa?" Irene mengendikan bahunya, "siapa suruh kau tidur begitu saat aku sedang bercerita." Gadis itu memerotes lawan bicaranya yang kini memasang tampang konyol yang membuat Irene sebal namun juga ingin tertawa.
Katie membuang nafasnya keras, "Maaf," Ia lalu memilin kepangan rambut pirangnya, "Aku tidak bisa tidur semalam."
Irene, dilain sisi hanya bisa menghela nafasnya. Sepertinya ia harus benar-benar memarahi Ansell Jeon kali ini. Sejauh yang ia tahu, Ansell yang saat ini secara mengejutkan menjadi seperti Best Friend Forever dengan Katie mulai menularkan kebiasaannya meminum Ice Americano di sore hari pada Katie dan yang membuat Irene sebal adalah Katie melakukannya ketika toleransi cafein gadis itu seperti bayi.
"Hentikan saja lah Katie," Katie mengerjap bingung pada Irene yang melenguh, "toleransi cafeinmu rendah sekali tahu. Minum sedikit saja kau sudah tidak bisa tidur semalaman"
Katie mengerjap sebelum terkekeh, "Salahkan si badebah jahil yang membuatku suka minum kopi."
Irene memutar matanya malas, "Jadi aku bisa lanjut bercerita tidak?"
Katie memasang wajah polos sambil meminum sekotak susu strawberry di tangannya, "Yes, of course you can. Tolong lanjutkan"
"Kau tahu kan dia sudah jelas-jelas menolakku?" Irene melenguh saat Katie mengangguk,"Tapi aku tidak bisa menjauhinya. Demi tuhan dia cinta pertamaku, loncengku berbunyi ketika bertemu dengannya."
"Well, bagian itu kau sudah cerita setidaknya empat ratus sembilan puluh sembilan kali." Katie menyeka noda susu di bibirnya dengan canggung ketika mendapat pelototan Irene, "Silahkan lanjutkan."
"Jika kau mau tahu sejujurnya aku sudah kenal dengannya beberapa tahun yang lalu, yah tidak secara langsung sih memang, tapi kali ini aku yakin dia adalah belahan jiwa ku. Kalau tidak, bagaimana mungkin kami kembali bertemu disini secara kebetulan. Pasti itu takdir."
Katie diam dan melenguh, gagasan tentang belahan jiwa dan takdir sama sekali sudah tidak pernah mampir di kepalanya sejak Jayden yang ia kira belahan jiwa dan takdirnya ternyata bukan sama sekali.
"Well Jadi apa yang mau kau lakukan sekarang Irene?"
"Tidak tahu," Irene mendesah berat, "Kalau saran Ansell aku maju saja terus, tidak ada alasan baginya menolakku sejujurnya. Yah aku mengerti sih aku terlalu sempurna untuk ditolak."
Katie mengangkat tangannya seolah akan memukul Irene dan membuat gadis itu tertawa. Kalau dipikir-pikir Irene dan Ansell memang mirip sekali. Jahil, cerewet, menyebalkan namun manis disaat bersamaan, dan tentu saja punya urat percaya diri yang lebih panjang dari orang lain.
"Sorry Sorry," Irene terkekeh lalu menggeser posisi duduknya di lantai lebih dekat pada Katie, Mengabaikan puluhan amplop berwarna pink yang menjadi sedikit berantakan ketika terkena kakinya. "Kalau kau sediri bagaimana?"
Katie mengerutkan keningnya, "Aku? Apanya yang bagimana?" Katie kembali menegak susunya sebelum mendelik pada Irene dan memunguti amplop amplop itu lalu memasukannya ke keranjang disisi kanannya.
Irene nampak tidak sabar, "Ya dengan Ansell. Bagaimana?"
Katie menoleh pada Irene dengan kecepatan yang mungkin akan membuat lehernya patah, "Demi tuhan Irene, apa yang kau bicarakan?" Katie menyenderkan tubuhnya pada kaki sofa di belakang mereka, "Dia temanku, sama sepertimu."
Irene ikut menyenderkan tubuhnya, "Yah kalau dipikir-pikir Ansell lebih cocok denganmu." Ia nampak berpikir, di kepalanya sekarang terdapat gadis cantik dengan tubuh tinggi semampai yang selalu menggerutu tiap kali Ansell Jeon telat menjemputnya di gerbang kampus mereka. " Yah secara teknis Lisa itu temanku juga sih, tapi dari awal aku sudah bilang ia tak cocok dengan Ansell."
Katie merengek, "Tidak cocok dengan Lisa bukan berarti cocok denganku. Berhenti berpikiran aneh Rene, Ansell tidak akan suka kalau tau kau membahas hal seperti ini."
"Yah hati-hati saja, kau tau kalian sudah seperti amplop dan perangko beberapa hari ini," Irene mengakat sebuah amplop pink dengan perangko kecil tepat di depan wajah Katie yang langsung ditepis Katie dengan sebal "Bisa-bisa kau jatuh cinta padanya nanti."
"Jatuh cinta dengan siapa?"
Suara berat itu membuat Katie dan Irene menoleh, Ansell jeon berdiri di ambang pintu dengan sebuah paper bag ditangannya.
Katie ingin mengumpat pada Irene saat ini, untung saja Ansell tidak dengar percakapannya dengan Irene, kalau dengar Katie tidak tahu harus ditaruh mana wajahnya.
Ansell melangkah masuk dan melirik keranjang-keranjang penuh amplop merah muda itu sebelum menaruh paper bag itu dipangkuan Irene. "Granny memasak untukmu."
Gadis bersurai coklat itu nampak bersemangat, nyaris membuka paper bag itu ketika gerakannya terhenti. "Kok hanya aku? kan ada Katie?" Irene memerotes.
Ansell Jeon menyerigai padanya, "Tidak perlu. Karna Katie akan makan denganku."
Tepat setelah itu Ansell menggamit lengan Katie menariknya berdiri, "Nah Irene, kau bisa mengirim surat itu sendirian kan? sudah saatnya aku berwisata dengan Katie."
Irene nampak ingin memerotes namun ketika melihat raut wajah Katie yang panik dan bingung, ia tekekeh meledek dan melambaikan tangan pada kedua orang itu. "Bye Katie, Have fun."
Dasar menyebalkan.
Katie kali ini benar-benar ingin merengek ketika Ansell Jeon menariknya keluar Chamber of Secrets, bahkan ketika mereka sudah keluar Cafe jemari pemuda itu masih berada dipergelangan tangannya.
"Mau kemana sih?" Katie memerotes sedangkan pemuda itu terkekeh.
"Tidak tahu."
Ugh, bahkan jawabannya pun tipikal dengan Irene, mereka benar-benar seperti saudara.
"Makan es krim sambil berjalan kaki di sore hari bukan ide buruk menurutku." , Ia menoleh pada Katie "So, Miss Hathaway. Bersedia menemaniku makan es krim sambil menikmati senja?"
Katie terkekeh sebelum melingkarkan lengannya di lengan pemuda itu dan menariknya, "Asal kau yang teraktir."
Ansell tertawa dan mengikuti langkah Katie, "Lain kali Kau yang teraktir."
"Aye Captain."
Ansell tersenyum, "Senang berteman dengan mu Katie."
Gadis itu membalas senyum si pemuda, "Me too."
Katie mengalihkan pandangannya kedepan, bersyukur pada fakta bahwa Ansell Jeon menganggapnya teman, dan selalu mengingatkannya pada fakta itu. Tidak, ia tidak setuju dengan Irene. Katie Hathaway dan Ansell Jeon adalah teman, tidak akan lebih tidak akan kurang.
Sudah cukup dengan Jayden Maxwell, dan dia tidak lagi mau merasakan cinta bodoh yang hanya akan menyakitinya.
Tetapi ketika ia menoleh dan mendapati Ansell Jeon sedang menoleh singkat padanya sambil tersenyum, ia melenguh dalam diam. Katie Hathaway tidak akan terjebak dalam kisah cinta bodoh lainnya kan?.
*_**_**_*
Haiii kembali lagi bersama Ansell dan Katie yang sudah agak lama ga update hehe soalnya kerjaan aku didunia nyata sedang mecekik banget.
Oh yaa aku bikin spin off buat mba Irene yang cantik beserta book jungri lain yang ku publish ulang hehe kalau berkenan bisa tolong dibaca yaaa.
Vote and comment juseyooo
(っ´▽')っ
Love, 💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Juliet's Little Answer
FanfictionWell, Berniat melarikan diri sejenak dan melupakan segala rutinitasnya yang memusingkan serta kisah cintanya yang baru saja berakhir dengan tragis, justru membuat Katie terjebak dalam kisah lain bersama si pemuda menyebalkan dan kurang ajar yang sia...
