"Are you ready, Kate?"
"No, I can't breath!" Katherine Hathway meletakan telapak tangannya tepat di atas dada, merasakan campuran sebal dan jenaka ketika ia merasa jantungnya bertalu-talu dengan keras. Sebenarnya sejak ia merasa sama sekali tak bisa tidur semalam suntuk, hingga pagi ini ia bercermin dengan kantung hitam di bawah matanya, Katie sudah merasa bodoh. Padahal lebih dari siapapun di dunia ini, Katie bersumpah ia sudah mengharapkan datangnya hari seperti ini sejak tuhan tahu kapan. "Sial, rasanya aku ingin muntah."
"Kau pasti bercanda."
Katie merengut mendengar kalimat singkat dengan bumbu sarkasme yang begitu kentara itu. Ia mendelik sebal pada perempuan dengan gaun merah muda yang sedang menggendong bayi kecil itu. Oh ayolah, dia bukan satu-satunya yang gugup di hari seperti ini. Bahkan sosok yang baru saja menyelanya terang-terangan itulah yang hampir melarikan diri di hari pernikahannya sendiri. "Setidaknya aku tidak berniat melarikan diri dari pesta pernikahanku sendiri, Rene."
"Come on! Semua orang tahu aku tidak melarikan diri, itu hanya usaha menenangkan diri." Irene Harington meringis dengan jengkel. Andai saja tak ada bayi mungil, imut, dan menggemaskan di gendongannya ia pasti akan mengumpat. Sudah terjadi lama sekali, topik yang satu itu bak tetap menjadi perihal kesukaan Katie dan kekasihnya yang badebah untuk meledeknya. "Jadi berhenti membual."
Usaha memperbaiki suasana hati dengan membuat Irene sebal memang tak pernah gagal. Melihat sahabatnya yang cantik itu merengut dengan pipinya yang tembam sehingga persis sekali dengan bayi yang ada di gendongannya membuat hatinya sedikit lebih tenang. "Apa menurutmu aku akan menginjak gaunku nanti? Aku tak akan tersandung kaki ayahku, kan?" Katie menyentuh gaun putih panjangnya yang menutupi keseluruhan kakinya dengan hati-hati, bibirnya mengulas senyum kecil sebelum menatap Irene dengan sorot khawatir. "Riasanku tak akan menempel di tudung ini, kan?"
"You will be fine, mark my words." Irene menghela napas dan satu tangannya yang bebas terjulur untuk menepuk punggung lawan bicaranya dengan afeksi yang tidak berusaha ditutupinya sama sekali. "Kau hanya perlu menatap Ansell yang menunggumu, dan ketika badebah itu menggapaimu, kau tahu kau akan baik-baik saja."
Katie terkekeh mendengar ucapan Irene, walau ucapannya penuh kelembutan, mengganti nama Ansell Jeon dengan sebutan badebah dalam berbagai kesempatan sama sekali tak pernah ia lewatkan. Katie menatap binar lembut di mata perempuan itu, dan ia mengangguk dengan yakin kali ini. Maka ketika ayahnya menyeru dari ambang pintu, ia tersenyum dan menjulurkan tangan pada pria itu sambil tersenyum. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, ia menoleh ke belakang dan terkekeh ketika Irene menggerakan tangan bayinya untuk melambai padanya.
"Dad, Please don't let me fall."
Katie menghela napas, tangannya yang berada pada lengan ayahnya kini mulai gemetar. Ia menatap pintu kayu besar dengan ukiran-ukiran klasik di depannya. Jika perasaan gugup macam ini yang dirasakan Irene dulu, maka Katie menyesal sudah meledeknya. Karena jelas kini ia merasa kepalanya berputar dan perutnya melilit. Ia menghela napas dan menguatkan kepalan tangannya pada buket bunga mawar merah muda yang ada di pelukannya.
"Aku akan memastikan kau sampai pada Ansell tanpa gaun yang terinjak, tersandung kakiku, atau riasan yang menempel di tudung."
Katie mengerjap, dan tak lama ia terkekeh saat beradu tatap dengan pria paruh baya yang masih tampan itu. Tanpa perlu ditanya, ia tahu ayahnya mendengar obrolannya dengan Irene beberapa saat lalu. Lantas, ia membagi senyum dan menganggukan kepala saat ayahnya memberi gestur padanya untuk bersiap saat daun pintu besar itu mulai terbuka.
Ketika kakinya menapak menuju altar, Katie merasa langkahnya seringan bulu. Ia pun terkejut dengan fakta yang satu itu, mengingat beberapa detik lalu ia masih merasa terlalu gugup sampai ingin pingsan. Ia melirik dan tersenyum pada deretan kerabat dan sahabat-sahabatnya yang kini berdiri dan menyambutnya. Ia menemukan Joy, Sophia, dan Jayden berada di deret yang sama melempar lambaian padanya. Di sisi lain ia melihat para sekretaris Juliet dan Granny yang melihatnya dengan senyum dan mata berkaca-kaca. Ia terkekeh kecil dan mengedipkan satu mata pada wanita-wanita itu. Di deret depan ia bertemu pandang dengan Lisa, Irene, dan Darren yang kini mendapat giliran menggendong bayi kecil tampan bernama William itu. Bayi kecil itu melihatnya dan tersenyum lucu, hingga ia tak tahan untuk tak melambaikan tangan dengan buket bunganya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Juliet's Little Answer
FanfictionWell, Berniat melarikan diri sejenak dan melupakan segala rutinitasnya yang memusingkan serta kisah cintanya yang baru saja berakhir dengan tragis, justru membuat Katie terjebak dalam kisah lain bersama si pemuda menyebalkan dan kurang ajar yang sia...
