Disconnected

747 179 82
                                        

Katherine Hathaway tidak tahu dan tidak ingin tahu kenapa Ansell Jeon meminta maaf padanya hari itu. Ia tak punya cukup banyak keberanian untuk sekedar mencari tahu. Sebutlah ia pecundang, ia tak akan menyanggahnya. Bukankah memang ada kalanya ketidak tahuan menjadi perisai yang paling baik untuk menghindari rasa sakit?

Suara itu, pelukan itu, dan kalimat itu membebaninya dan menyakitinya seperti luka yang tertabur garam. Katie memiliki tendensi untuk menyelamatkan dirinya sejak tuhan tahu kapan dan karena itu ia menghindari Ansell seperti wabah penyakit. Walau lebih dari apapun ia tahu bagaimana hal itu justru sangat menyakitinya.

"Apa ini perihal Ansell Jeon lagi?"

Suara lembut Irene Harington membuat lamunanya terbuyarkan. Ia mengerutkan dahi, tidak menyadari sejak kapan gadis itu sudah berdiri disana, dengan sekeranjang bunga segar yang Katie yakini akan berubah menjadi dekorasi cantik di atas meja makan sebentar lagi. "Apa kau akan merangkai bunga itu?"

"Ya, sekaligus mencari inspirasi rangkaian buket untuk Granny nanti." Irene mendesis tidak suka ketika menyadari Katie baru saja mengalihkan topik utama mereka dan ia dengan mudah teralihkan. "Bukan untuk itu aku mencarimu. Jawab saja pertanyaanku tadi?"

"Yang mana ya?"

"Kau tahu maksudku." Irene meletakkan keranjang bunga itu didekat kakinya, melipat tangan di dadanya, dan memicingkan mata pada Katie dengan tidak sabar. "Mari tidak bertingkah pura-pura bodoh satu pada satu sama lain."

Katie melenguh, Irene yang dikenalnya selama beberapa minggu terakhir ini adalah gadis manis, lembut, dan pengertian. Siapa sangka ternyata dalam satu sosok yang sama, ada begitu banyak hal yang berbeda. Salah satunya adalah tendensi untuk terlihat superior dan begitu mengintimidasi. "Baik, aku menyerah. Kau benar, semuanya memang ada implikasinya dengan si menyebalkan itu."

"Dia yang membuatmu murung sejak kemarin?" Irene mengaitkan alisnya, otaknya memutar kilas balik kejadian tempo hari. Diliriknya si lawan bicara yang terlihat tak nyaman dihadapannya. "Bukankah kalian kemarin kabur dengan cara yang lovely dovey, sekali?"

Katie merengek. Dari semua topik, kenapa Irene justru membahas hal terakhir yang paling ingin ia bahas saat ini? Ia menggelengkan kepala. "Aku tak ingin membahasnya, Rene. So sorry, this is beyond my limit ."

"Well...."  Pandangan mata Irene melayang pada sosok pemuda yang mendekati mereka di belakang si gadis pirang. Seketika ia tersenyum kecil, rumit sekali, pikirnya. Ia mengambil keranjang bunganya yang terbengkalai dan menepuk bahu Katie dengan lembut. "Tidak dengan ku, Kate. Tetapi kau harus membahasnya dengan dia."

Dengan itu Irene melangkahkan kaki menjauh sambil bersenandung riang. Katie mengerutkan dahinya, dan ingin menyusul gadis itu, rasanya ingin meminjam sedikit saja keceriaannya.

"Katherine."

Suara itu dan sebuah genggaman yang melingkari pergelangan tangannya membuat Katie berjengit. Ia menghela nafas, tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang melakukannya, toh eksistensi Ansell Jeon selalu begitu terasa.

"Demi tuhan, apa kau sedang berusaha menghindariku sejak kemarin?" Ansell Jeon terdengar sedikit tidak sabar. Tidak ada hal lain yang ia inginkan melebihi eksistensi Katie di dekatnya. Ia dengan cepat menghentak gadis itu untuk berbalik sehingga mereka berdiri berhadapan. "Katakan padaku."

"Ternyata kau menyadarinya." Katie mendengus, ia begitu ingin melarikan diri saat ini. Diliriknya wajah rupawan Ansell Jeon, dan merasa begitu frustasi. Dalam hitungan hari ia akan terpisah ribuan mil dari pemuda itu, ia tak akan menahannya lagi. Desisi untuk mengungkapkan semuanya sudah mencapai akhir, persetan dengan hal lain. "Aku tak bisa berada didekatmu terus menerus. Itu... Itu, terasa salah, Jeon."

Juliet's Little AnswerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang