Setidaknya ada seribu satu alasan memusingkan mengapa Katie ingin sekali meninju Ansell Jeon tepat di wajah, dan ia juga memiliki alasan yang sama banyaknya untuk merengek serta mati-matian menghindari bertatap muka dengan pemuda itu.
Rasanya seperti memiliki alter ego dadakan yang membuatnya frustasi setengah mati. Katie yang ini harus berusaha tidak mencekik Ansell, sedangkan Katie yang itu harus menahan diri untuk tak memojokkan pemuda itu dan memeluknya erat-erat.
Akan mendengarkanmu nanti?
Akan mendengarkannya nanti?!
Akan mendengarkan Ansell Jeon nanti?!
Sebuah pernyataan bodoh, sinting, dan tentu saja impulsif.
Katie melihat pantulan wajahnya di cermin, ia meringis ketika melihat tampangnya yang kacau. Rambutnya berantakan, peluh menetes di dahinya, nafasnya memburu. Sebenarnya apa yang ia pikirkan saat melarikan diri dari Ansell Jeon? Memangnya akan ada hasilnya? Tentu saja tidak. Ia akan bertemu pemuda itu setelah ia keluar dari kamar mandi, satu-satunya tempat dimana ia bisa berpikir jenih tanpa dibayang-bayangi si 'sahabat' yang memiliki hobi membuatnya kalang kabut.
Ia membasuh wajahnya dengan air, menumpukan kedua tangannya pada wastafel. Tidak bisa begini, pikirnya. Ia Menggelengkan kepala dan menarik nafas dalam-dalam. Katie bukan pengecut, lagipula ia tahu cepat atau lambat ia harus menghadapi Ansell, mendengarkan apa yang mau dikatakan si dungu itu. Benar ia bukan pengecut, tapi astaga dia hanya belum siap!
Sial! sial!
Katie mengumpulkan tekatnya sedemikian rupa dan membuka pintu, menaikkan dagunya. Setelah ini, ia bersumpah bagaimanapun caranya ia akan membabat habis perasaannya kalau-kalau Ansell membuatnya semakin patah hati - yang mana peluangnya adalah seratus persen.
"Aku kira kau pingsan di dalam sana."
Katie melonjak kaget, melayangkan tatapannya pada Ansell yang tengah bersandar pada dinding di samping pintu. Ia ingin memaki atau apapun selain berdiri menatapi pemuda itu seperti kehilangan akal. Tapi itulah yang ia lakukan sedangkan pemuda itu menatapnya dengan senyuman kecil.
"Apa yang kau lakukan disini?" Katie menahan desakan untuk kembali ke dalam kamar mandi dan menggulung dirinya di dalam bathup. Bahkan walaupun ia sudah menetapkan hati untuk berani menemui Ansell Jeon, tetap saja pikirannya kalut sekali. Beberapa saat yang lalu ia baru saja mengungkap perasaannya dan lari tunggang langgang karena takut ditolak. Ia merengut, rasanya jadi seperti tuan putri Disney versi dungu dan pantas di cemooh. "Kau mengikutiku?"
"Well, tidak juga. Aku hanya kembali ke rumah dan boom! aku pasti bertemu lagi denganmu." Ansell berjalan mendekatinya, menyibakkan rambut Katie dan menyelipkannya di belakang telinga gadis itu. "Masih belum ingin dengar apa yang ingin ku katakan?"
Katie ingin merengek. Berharap mati-matian semoga wajahnya tidak memerah karena gestur tak familiar itu. "Beberapa menit saja belum cukup untuk merubah pikiranku, Jeon."
Ia kira perkataanya sudah cukup menyinggung pemuda itu. Namun dilihatnya ekspresi tenang Ansell, menatapnya begitu teduh sampai-sampai Katie merasa tenggelam dalam iris mata gelap pemuda itu. Ia menggelengkan kepalanya dengan agresif. Tidak boleh begini, ia harus tangguh dalam menghadapi berbagai pesona Ansell Jeon yang mematikan. "Apapun itu simpan saja untukmu sendiri. Aku belum tertarik."
Gadis itu menggerling kesal sebelum berbalik dan meninggalkan Ansell. Memekik ketika pemuda itu tiba di sampingnnya, berjalan bersisian dengannya - cukup dekat hingga bahu mereka bersinggungan. Pada kondisi lain, Katie tidak akan ambil pusing, tapi setelah pernyataan cinta tak teorganisir yang dia lakukan sebelumnya, ia bagai tertelan pusaran rasa canggung. "Siapa bilang kau boleh menempeliku?"
"Tidak ada." Ansell menggerdikan bahunya, sebuah serigaian kecil menari-nari di bibirnya. "Tapi aku tak sedang minta izin padamu."
"Apa kebetulan saat kau menyusulku, kepalamu terbentur sesuatu hingga otakmu terlepas?" Katie mendesis. Apa Ansell Jeon sedang mencoba bermain-main dengannya? Bukannya pemuda itu selalu mendorongnya jauh-jauh sebelum ini? Ia menghela nafas dan menghentikan langkah. "Ada apa denganmu? Kalau pernyataanku membuatmu melakukan ini hanya karena rasa bersalah. Berhenti saja, aku tak menginginkannya."
"Tidak, tidak. Bukan itu penyebabnya." Air wajah pemuda rupawan itu berubah kelam beberapa saat, namun ia segera menutupinya dengan ekspresi jahilnya yang familiar, sampai-sampai Katie ingin menjerit. "Sampai kau mau mendengarkanku, aku akan menempelimu seperti bintang laut."
"Asal kau tahu saja, " Katie memutar matanya malas. Gadis itu ingin membuka mulut untuk menyela Ansell dengan ketus, tapi tekatnya berubah menjadi debu ketika manik mata pemuda itu balas menatapnya dengan memohon. Ia mengumpat dalam diam, Kalau Ansell Jeon sudah dalam mode kelinci kecil menggemaskan yang seolah merengek mengatakan 'tolong gendong aku' bagaimana ia bisa bilang tidak? "sudahlah. Terserah kau saja."
Katie kembali berjalan. Langkahnya terasa ringan, sehingga ia ingin sekali berlari dan bersembunyi di bawah meja terdekat. Tiba-tiba sebuah genggaman hangat di pergelangan tangannya membuatnya menoleh dan mendecak dengan tidak sabar. "Ada apa lagi?"
"Ini," Ansell membawa tangan kanannya yang semula ia sembunyikan di balik tubuhnya ke hadapan Katie. Di tangan pemuda itu terdapat tiga tangkai bunga matahari kecil. "Untuk mu."
Katie mengerjap beberapa detik sebelum berjengit heran. "Bunga matahari? Untukku?"
"Iya." Ansell mengalihkan wajahnya, tiba-tiba merasa kikuk setengah mati di bawah tatapan mata gadis cantik dihadapannya itu. Tidak bisakah Katie menerimanya saja tanpa perlu penegasan tambahan? Bagaimanapun rasanya memalukan. "Kalau kau tidak mau yasudah buatku saja."
Katie bersumpah ia tidak bermaksud begitu, tapi nyatanya satu tawa ringan terlepas dari bibirnya. Melihat wajah lawan bicaranya yang kesal, ia berdeham untuk mengusir sisa-sisa tawanya walau senyum masih menari-nari di sudut bibirnya. Ditariknya bunga bekelopak kuning itu dari tangan si pemuda. "Kalau sudah untukku, berarti untukku." Gadis itu menggerdikkan bahu dan kalimat lain melucur begitu saja dari mulutnya bahkan sebelum otaknya sempat memproses. "Cantik. Terimakasih banyak."
"Sungguh? Kau menyukainya?"
"Eh?" Gadis itu melenguh. Bahkan dirinya sendiri tidak mengerti apa yang ia lakukan barusan. Bukannya ia harus meneguhkan hati dan bersikap tangguh? Ia melirik bunga di genggamannya. Gagal sudah, pikirnya. Hari ini, untuk hari ini saja ia akan membiarkan perasaan sialan itu menang. "Ya, tentu. Selama kau tidak memetiknya tanpa izin."
"Kau bercanda?" Ansell Jeon memberi sorot mata terluka padanya lalu menggeleng kuat-kuat. "Aku sudah meminta izin pada calon kakekku."
"Oke." Katie tersenyum kecil sebelum memicingkan matanya pada Ansell. "Tapi bukan berarti aku mau mendengarkanmu sekarang, ya. Jangan harap."
Ansell menghela nafas. "Iya, iya mengerti."
Katie berusaha menyembunyikan tawa. Ia berbalik, berniat meninggalkan pemuda itu disana. Bagaimanapun ia butuh waktu sendirian. Saat Ansell Jeon kembali ke sisinya, Katie mendengus. "Sekarang apa lagi?"
"Tidak ada." Ansell tersenyum riang, ia merangkul pundak Katie dengan gestur akrab yang seharusnya sudah membuat gadis itu terbiasa, namun nyatanya Katie masih berjengit kaget. "Seperti yang sudah ku katakan, aku akan menempelimu hari ini."
Katie ingin menyela, tapi ia tahu tidak ada gunanya. Mengabaikan kupu-kupu yang berterbangan diperutnya, serta kepalanya yang mulai berdenyut, gadis itu memilih diam saja. Bagaimanapun, sedari awal hari itu memang sudah melelahkan dan menguras emosinya. Ia menoleh untuk melirik wajah rupawan lawan bicaranya, sebelum membuang muka. Sudahlah, hari itu sudah pasti akan jadi hari yang panjang.
♡♥♥♥♡
(´∀`)♡ Alloha! Kembali lagi bersamaku disini...
Apa ada yang menungguku? (ngarepbgt)
Untuk beberapa chap aku mau bikin yang ringan2 dulu, biasanya laut tenang sebelum badai (aku lupa baca dimana, apa aku halu doang ya) wkkwk
Jangan lupa komen, vote dan ekhem follow aku ya 😉 sebagai suntikan semangat untukku 🐥
Luvv, 💜
KAMU SEDANG MEMBACA
Juliet's Little Answer
FanfictionWell, Berniat melarikan diri sejenak dan melupakan segala rutinitasnya yang memusingkan serta kisah cintanya yang baru saja berakhir dengan tragis, justru membuat Katie terjebak dalam kisah lain bersama si pemuda menyebalkan dan kurang ajar yang sia...
