Crazier

668 176 66
                                        

Ini buruk.

Sangat buruk.

Katie mendapati dirinya melenguh, mendecih, merengek, dan mengumpat puluhan kali dalam enam puluh menit terakhir yang ia lalui bersama Ansell Jeon. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Ansell sebelum pemuda itu muncul di depan pintu kamarnya tempo hari, sejak itu yang ia tahu pasti adalah pemuda itu telah menaikan statusnya dari badebah menyebalkan menjadi badebah sangat menyebalkan.

Sejak menjemputnya untuk berpergian bersama ke Tuscany pagi ini, sudah tidak terhitung berapa kali Ansell menggodanya dengan bahasa badebah, dan Katie masih tidak menyangka dari mana ia memiliki kesabaran untuk tak memukul pemuda itu dengan sepatunya.

"What the hell is wrong with you?!"

Katie menoleh, memandang Ansell yang sedang mengemudi di sisinya dengan kening berkerut. Ia meremas jemari dipangkuannya, ia bersumpah sekali lagi pemuda itu mengeluarkan kalimat menyebalkan seperti 'kau tampak ingin menelanjangiku' atau 'Kau sexy saat sedang marah' atau 'Perlu ku peluk agar mood mu membaik?' maka ia akan meninjunya tepat di perut.

"Nothing. Hanya menyenangkan saja menggoda mu." Ansell melirik gadis itu dari ujung matanya dan terkekeh, tidak perlu menjadi jenius untuk menebak bahwa Katie sedang memukulinya di dalam pikiran. "Lagipula, kenapa kau sensitif sekali hari ini?"

Katie nyaris menjerit, ia memiliki seribu satu jawaban untuk pertanyaan itu, dan ia jelas juga punya seribu satu alasan untuk tak mengutarakannya - itu jelas membuatnya frustasi. Ia menarik nafas dan menghelanya dengan keras, menyentil pelipis pemuda itu,  membuatnya mengaduh. "Berhenti bertingkah seperti kocoak busuk, sebelum aku mengamuk, Jeon."

Ansell tergelak, ia melepaskan satu tangannya dari kemudi dan menepuk puncak kepala Katie, membuat gadis itu merengek sebelum mengumpat dan menghempas tangannya.

"Ugh dasar sialan." Katie bersungut, ia melirik si pemuda yang kini kembali fokus mengemudi walau sudut matanya masih mengerut karena tersenyum. Ia melenguh, tidak seperti biasanya, Ansell Jeon tampak tak ada beban, pemuda itu tersenyum dan tertawa dengan ringan. Walau terdengar dangkal, tapi Katie lega dan senang melihatnya demikian.

"Hathaway, tolong berhenti memandang, demi tuhan aku jadi tak fokus."

Shit

Dengan segera Katie mengalihkan pandangannya, nah sekarang mau di letakkan dimana wajahnya? Pemuda itu tahu bahwa ia memandanginya seolah-olah tak ada hari esok.

"Aku tak memandang."

"Oke anggap saja begitu," Ansell meliriknya sekilas sebelum beralih dengan senyuman yang membuat Katie ingin terjun bebas dari mobil. Ia menyerigai, dan terkekeh ringan "Kalau aku jadi kau, aku pasti tak tahan juga untuk tak memandangiku."

Katie mendesah lelah, ia tak tahu dari mana pemuda itu mempunyai energi untuk terus menerus menggodanya, ketika tempo hari ia masih merenung dengan wajah pias dan kantung hitam di matanya. Sebagian dari hatinya, yang tentu saja bermusuhan dengan akal sehatnya, mulai berharap akan melihat Ansell Jeon seperti itu sepanjang waktu, bahkan walau harus dengan mengornankam kesabarannya.

Bodoh, imbesil, lemah.

"Terserah."

Satu kata singkat, dan Katie memilih memejamkan matanya, dalam hati terus menerus berharap bisa terlelap. Persetan dengan pemandangan yang membentang indah disekitar mereka, ia tahu hatinya yang bebal pasti tetap akan membuatnya hanya menatap satu objek.

Ansell Jeon.

~♥~~♥~

Verona memang indah, tetapi Tuscany jelas memiliki sesuatu yang tampak seperti negeri dongeng baginya yang tinggal di kota besar dengan pemandangan monoton berupa gedung-gedung Pencakar langit. Katie bisa melihat hamparaan ladang rumput hijau, pekebunan anggur dikejauhan, para pekerja yang menunggang kuda, dan bunga-bunga yang memenuhui halaman di bawahnya, ia bisa melihat semuanya dari tempatnya berdiri. Ia menyanggah lengannya pada pembatas balkon, menarik nafas dan tersenyum ketika samar harum anggur menyapa penciumannya.

Juliet's Little AnswerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang