Echoes

672 183 74
                                        

Bahkan walaupun ia telah kehilangan segala ekspektasi manis tentang cinta, ia tak punya alasan apapun untuk tak tersenyum kala Granny dan calon suaminya yang Katie panggil Grandpa Alano bercerita tentang masa muda mereka lima puluh tahun yang lalu.

Katie tak mau mengakuinya, tapi sedikit banyak ia mulai merasa bahwa cinta tak sekejam itu, well mungkin tidak berlaku baginya. Ia punya sejuta alasan untuk mengeluh soal cinta, dan belakangan ini alasan itu bertambah dua kali lipat karena pemuda tertentu.

Ansell Jeon. Pemuda itu bersungut, menggerutu soal kakek kandungnya yang sangat kasihan di surga dengan suara kecil. Katie berusaha keras untuk tak mengomelinya karena merusak suasana, tetapi pemuda itu tak bisa disalahkan, walau berkata pedas seharian penuh tentang konsep cinta sejati milik neneknya, di pengujung hari Katie akan mendapatinya tersenyum ketika Granny tertawa bahagia dalam rengkuhan calon kakek barunya.

"Sepertinya dicampakkan oleh gadis yang kami cintai sudah ada dalam garis keturunan keluarga." Ansell Jeon meringis kecil, jarinya yang lincah mengetuk-ngetuk meja dihadapan mereka. Kalimat itu nyaris berupa bisikan, tapi Katie yang duduk di sisinya bisa mendengarnya dengan jelas. "Menyebalkan."

"Bisakah kau berhenti menggerutu, Jeon?" Katie berusaha untuk tak tersenyum ketika mendapati Ansell mengerucutkan bibirnya karena sebal, pemuda itu menyeruput jus stroberi merah mudanya dengan rakus, paduan yang lucu dengan head to toe hitam yang ia kenakan. "Minum saja jusmu, dan tutup mulut. Kau merusak suasana tahu."

"Kau menjadi semakin baik dalam hal bicara pedas yang membuatku sebal." Ansell mengalihkan pandangan padanya dengan satu tangan menopang pipi. Pemuda itu tampak tak perduli walaupun semua orang di meja makan itu menatap arah yang berbeda, atensinya hanya terpaku pada gadis pirang di sisinya. "Dari mana kau mendapatkannya?"

"Dari kau." Katie merengek ketika pemuda itu menyerigai dengan bangga tanpa mengalihkan pandangan darinya, ia bisa merasakan pipinya yang memanas. "Kau membawa pengaruh buruk bagi kosa kataku." dan hatiku, lanjutnya dalam diam.

"Oh ya?" Pemuda itu memberi ekspresi terkejut yang dibuat-buat, membuat Katie tak tahan untuk menendang kakinya di bawah meja -  membuatnya mengaduh dan meringis. Ansell meliriknya dengan tajam, namun detik berikutnya mereka berdua terkekeh kecil bersama.

"Sepertinya ada hal lucu yang terjadi diantara cucuku dan Katie. Ansell, sayangku, apa kau keberatan membaginya dengan kami?"

Ansell menegak ketika namanya disebut oleh neneknya. Ia melirik Katie melakukan hal yang sama dengannya dengan wajah kosong, kini semua orang mengalihkan atensi pada mereka berdua. Ia meringis, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah, ya. Tentu. Maksudku nanti, sekarang aku mohon maaf tapi ada yang harus ku bicarakan dengan Katie."

Katie berjengit ketika Ansell menggamit tangannya dan menariknya pergi, dari ujung matanya ia melihat Irene dan Darren yang menahan tawa melihat mereka. Apa Ansell Jeon sudah gila?

"Hey! Hey! Apa yang kau lakukan?" Katie berhenti mengikuti langkah Ansell, membuat pemuda itu berbalik kearahnya, masih dengan jemari yang bertaut dengan miliknya. "Itu tadi adalah tindakkan paling tidak sopan yang pernah ku lakukan."

"Tidak, tidak, Kate." Ansell mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, halaman besar penuh dengan bunga berwarna warni, dan gemericik air dari kolam ikan dengan patung cupid kecil tidak jauh dari mereka. "Berani taruhan, mereka sedang bicara tentang betapa manisnya kita disana."

Katie menautkan alisnya, memandang penuh tanda tanya pada Ansell. "Kenapa begitu?"

"Ini Italia, Kate." Ansell beralih dan mendapati dirinya menatapi gadis itu, yang mana adalah perbuatan bodoh karena ia sudah melihatnya ratusan kali. Pagi itu Katie memakai dress musim panas berwarna putih, surai pirangnya diikat menjadi satu kepangan panjang yang tersampir dari bahu kanannya. Pipinya yang merona dan matanya yang cemerlang, sebuah gambaran sempurna untuk membuatnya terpaku. Ia berdeham, "Penuh dengan pujangga dan apapun bisa dianggap bentuk romantisme."

Juliet's Little AnswerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang