1 1

11.3K 1.6K 42
                                        




"Hai!" Donghyuck mengernyit ketika mendapatkan sambutan yang begitu antusias dari Renjun.

Senyum pemuda itu begitu lebar, seolah mampu merobek bibir mungilnya tersebut.

Tidak peduli dengan ekspresi kebingungan Donghyuck, Renjun justru mengapit lengan lelaki itu kemudian membawa mereka berjalan menuju mobil. Donghyuck yang merasa belum berpamitan dengan orang tua Renjun menahan lengan si manis.

"Aku belum berpamitan dengan Ayah dan Ibumu."


"Tidak perlu. Aku sudah berpamitan tadi." Ujar Renjun sembari kembali menarik lengan Donghyuck. Sudut bibirnya berkedut saat mengingat bahwa semenjak menjalani perjanjian ini dirinya dan Donghyuck sudah biasa menggunakan kata aku dan bukan saya.

Entah sejak kapan mereka sepakat untuk meruntuhkan dinding formalitas sebagai rekan kerja. Ini terjadi secara alamiah, sampai Renjun tidak menyadari bahwa setiap harinya mereka semakin dekat saja.


"Ada kabar baik?" Tanya Donghyuck yang mau tidak mau ikut tersenyum, tertular oleh senyuman manis Renjun.

"Hari Minggu nanti keluarga Jisung akan datang ke rumahku untuk melamar Chenle." Jawab Renjun dengan mata yang berbinar.

Donghyuck tahu itu adalah kabar baik. Kabar yang paling dinantikan oleh Renjun dan juga dirinya. Terlebih kabar baik ini berasal dari sang sepupu yang sudah berbagi suka dan duka dengan Donghyuck selama ini.

Namun, entah kenapa ada sesuatu yang mengisi rongga dadanya. Membuatnya penuh. Membuatnya sesak. Kalau Jisung dan Chenle akan segera meresmikan hubungan mereka, lalu dia dan Renjun bagaimana? Berpisah?

"Hyuck?" Renjun mengibaskan telapak tangan di depan wajah Donghyuck. Melihat senyum Donghyuck yang memudar, membuat Renjun sedikit khawatir. Ada apa dengan lelaki ini?

"Baguslah," ungkap Donghyuck sembari menyalakan mesin mobilnya.

Sepanjang perjalanan, Donghyuck hanya mendengarkan ocehan Renjun mengenai bagaimana Jisung meminta izin kepada Ayahnya untuk melamar Chenle. Donghyuck sama sekali tidak menanggapi, hanya tersenyum sebentar bila diperlukan. Tidak sedikitpun kelegaan yang terbesit setelah drama diantara Jisung dan Chenle berakhir. Justru sekarang Donghyuck semakin cemas.

Setelah ini, perjanjiannya dengan Renjun berakhir. Setelah ini, Donghyuck mungkin tidak bisa berdekatan dengan Renjun. Ia tidak bisa lagi menikmati ocehan Renjun, menikmati senyuman manis pemuda itu. Tidak bisa menjadi sandaran Renjun lagi. Uh, Donghyuck belum siap melepaskan itu semua.



"Nanti kita mau makan siang dimana, Hyuck?" Tanya Renjun sebelum keluar dari mobil Donghyuck begitu mereka tiba di area parkir Neo Group.


Meskipun mereka bertambah dekat, tetap saja keduanya menjaga jarak jika berada di area kantor. Berhati-hati agar rekan-rekan kerja mereka tidak curiga dengan hubungan keduanya.

"Aku akan makan lewat pesan antar saja. Kerjaanku masih menumpuk." Jawab Donghyuck sembari tersenyum masam.

"Oh .." Renjun mengangguk mengerti. Meski sebenarnya secercah kekecewaan hinggap di benaknya.

Sebenarnya, Renjun ingin mengajak Donghyuck makan siang untuk sekadar merayakan keberhasilan rencana mereka. Tapi, mau bagaimana lagi? Renjun tidak mungkin meminta Donghyuck mengabaikan pekerjaannya hanya untuk makan siang bersamanya, kan?

"Yasudah," Renjun mulai membuka pintu mobil. Melambaikan tangan ke arah Donghyuck dengan senyum yang masih terpahat di wajahnya. "Sampai bertemu pulang kantor nanti, Hyuck!"


pretend ; hyuckren ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang