2 0

9.8K 1.4K 76
                                        





"Xiaojun-ge?"

Sosok tampan yang berdiri di hadapan Renjun memperlebar senyumannya. Tanpa canggung Xiaojun mengulurkan tangan, mengajak Renjun berjabat tangan.


"Apa kabar?"

Renjun menelan ludah susah payah. Menahan desiran lemah di dadanya saat mendengar suara Xiaojun yang cenderung berat dan sedikit serak. Perlahan Renjun mengambil napas. Memberanikan diri meraih tangan Xiaojun sembari menarik kedua sudut bibirnya dengan kaku.


"Baik," jawab Renjun lirih. "Kau sendiri?" Ia balik bertanya.

"Seperti yang kau lihat," balas Xiaojun.

Renjun hanya mengangguk lantas menarik tangannya dari genggaman Xiaojun.


"Ah, jadi kau disini untuk—"

"Urusan pekerjaan," jawab Renjun cepat. "Kau juga?"


Xiaojun mengangguk dengan senyum yang masih terukir lebar. "Baru check-in tadi."

"Oh," Renjun menggumam lirih. Bola matanya bergerak risau. Memandang kemana pun asalkan pandangannya tidak bersibobrok dengan kedua manik gelap Xiaojun. Namun, Renjun cukup beruntung karena getar ponsel menginterupsinya.


Ada nama Donghyuck yang tertera disana, seolah meminta Renjun untuk segera menyusul ke mobil dan mengakhiri reuni dadakannya dengan Xiaojun.


"Ge, maaf. Aku harus pergi. Ada urusan."

"Oh, iya," Xiaojun mempersilahkan Renjun untuk pergi. Akan tetapi, baru dua langkah si manis itu menjauh, Xiaojun memanggil namanya. Memaksa Renjun berbalik ke arah lelaki itu.


"Lain kali kita mengobrol lagi ya, Ren." Ujar lelaki itu sebelum menerima panggilan dari ponselnya.


Renjun masih terpaku, sedangkan Xiaojun sudah berbalik terlebih dulu. Lelaki itu menjejalkan sebelah telapak tangannya ke dalam saku celana, sembari berjalan mendekati lift. Sesekali tawa Xiaojun terdengar. Membuat rasa hangat sekaligus nyeri menyelinap di relung terdalam Renjun.



"Iya, istriku sayang."

Ucapan Xiaojun kepada seseorang di seberang teleponnya, menciptakan senyum masam di wajah Renjun. Si manis itu mendesah pelan. Mulai menata hatinya kembali, sekaligus mengakui kenyataan bahwa lelaki yang pernah dicintainya itu sudah menjadi milik orang lain.






⭐️⭐️






Donghyuck menyadari ada yang tidak beres dengan Renjun sejak mereka berangkat menuju tempat proyek. Si manis itu memang lebih banyak diam seperti biasanya, tetapi juga tidak fokus menanggapi obrolan yang sengaja Donghyuck bangun. Ia akan menoleh dan tersenyum dalam panggilan ketiga, lantas kembali memandangi jalanan melalui kaca jendela dengan tatapan kosong.


Kening Donghyuck mengerut. Mengingat keseharian mereka, dari meeting yang ditunda Mark, hingga perjalanan makan siang ke Jalgachi. Tidak ada yang salah. Meski Renjun sempat protes karena pilihan tempat makan yang terlalu jauh, si manis itu cukup menikmati waktunya bersama Donghyuck.

Memang Renjun tidak secara gamblang mengakuinya, tetapi Donghyuck cukup tahu lewat binar di kedua mata serta senyum merekah Renjun selama perjalanan pulang perginya ke Jalgachi.

Kembali Donghyuck memandangi Renjun dari jauh. Sosok si manis itu terlihat dari kaca jendela, sibuk mengerjakan sesuatu dengan kening mengerut, sesekali menggigit bibir ketika bimbang. Sudah tidak ada lagi gurat gelisah maupun gundah. Renjun tidak banyak melamun lagi seperti di mobil tadi, membuat setitik kelegaan dirasakan oleh Donghyuck.


pretend ; hyuckren ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang