Seperti yang telah direncanakan, Jisung beserta keluarganya datang ke rumah Chenle di hari Minggu.
Acara pertunangan berlangsung cepat dan sangat sederhana. senyum Jisung dan juga Chenle tidak pernah lenyap sedetikpun sejak cincin melingkar manis di jari keduanya. Bahkan, kalau boleh Renjun nilai, tarikan di kedua sudut bibir Jisung melebar ketika Chenle telah menyandang status sebagai tunangan lelaki itu.
Kedua sudut bibir Renjun berkedut samar saat menatap adik dan calon adik iparnya itu. Perasaan lega jelas dirasakannya karena keinginannya saat ini telah tercapai, akhirnya keduanya bersatu. Meski begitu, ada perasaan lain yang menyelinap. Perasaan yang paling tidak diinginkan kedatangannya oleh Renjun. Yaitu, setitik rasa iri datang pada hati Renjun.
Andai waktu diputar kembali. Andai Renjun bisa memperbaiki semuanya. Mungkinkah dia dan Xiaojun akan bahagia seperti Jisung dan Chenle?
Renjun tersenyum masam. Itu mungkin saja. Namun, dia sadar yang namanya waktu tidak dapat diulang. Ia pun sadar bahwa kenyataannya Xiaojun tidak pernah akan menjadi miliknya, karena jiwa dan raga lelaki itu sepenuhnya dimiliki oleh perempuan lain yang kini menyandang status sebagai istri lelaki itu.
"Hei..."
Renjun terkesiap saat mendengar bisikan tepat di sebelah daun telinganya. Pemuda itu segera menoleh, mendapati sosok Donghyuck yang tengah memamerkan cengiran lebarnya. Mata Renjun mengerjap perlahan. Entah mengapa bola matanya bergerak menyusuri penampilan Donghyuck saat ini.
Lelaki itu mengenakan kemeja hitam berlengan panjang dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam. Lengan kemejanya dia gulung hingga batas siku, memperlihatkan arloji yang melingkari pergelangan tangannya. Pandangan Renjun merangkak naik hingga terpaku pada wajah Donghyuck. Kumis tipis lelaki itu dicukur bersih. Rambutnya disisir rapi ke belakang, menambah kadar ketampanannya yang cukup diakui Renjun hari ini.
"Aku tahu kalau aku tampan. Tapi, kau tidak perlu melihat sampai sebegitunya juga, Foxey."
Ucapan Donghyuck cukup menyadarkan Renjun. Pemuda manis itu segera mengubah ekspresi terpakunya. Berganti memasang wajah datar andalan yang entah mengapa malah selalu Donghyuck rindukan setiap harinya.
"Sejak kapan kau ada disitu?" Tanya Renjun setengah berbisik. Pandangannya mengedar, mengamati orang-orang disekitarnya. Syukurlah, tidak ada yang memergoki ketika keduanya berbicara begitu dekat seperti ini. Mereka terlalu sibuk mengobrol sembari menikmati makanan yang telah disediakan.
"Sudah sejak tadi," jawab Donghyuck sekenanya.
"Kau terlalu banyak melamun sih. Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?"
Renjun tidak segera menjawab. Pemuda itu justru membuang muka. Berusaha untuk menghindari tatapan Donghyuck yang berusaha menelanjangi pikirannya.
"Kau ... silahkan nikmati saja makanan yang tersedia," ujar si manis itu mengalihkan pembicaraan.
Baru saja hendak meninggalkan Donghyuck, lelaki itu lebih dulu meraih pergelangan tangan Renjun. "Kau yang ambilkan, ya?"
"Hyuck!—" Renjun baru hendak memprotes, tetapi jari telunjuk Donghyuck sudah lebih dulu menempel di bibirnya. "Sstt! Kau menolak mengambilkan makanan untuk kekasihmu sendiri?"
Renjun tidak menjawab, tetapi juga tidak membantah. Ketika pemuda itu meninggalkan Donghyuck, dia benar-benar mengambilkan sepiring makanan untuk kekasih bohongannya itu. Membuat bukan hanya Donghyuck, tetapi pemilik beberapa pasang mata yang mengamati ikut tersenyum melihat bagaimana bentuk perhatian Renjun kepada Donghyuck.
KAMU SEDANG MEMBACA
pretend ; hyuckren ✔️
Fanfiction[REMAKE STORY] ini cerita tentang donghyuck dan renjun yang harus menjalani hubungan pura-pura, supaya chenle -adiknya, mau menikah sama jisung . bxb | hyuckren | semi-baku enjoy !
