1 2

11.6K 1.7K 201
                                        



"Pagi, foxey!"


Senyum Donghyuck menyambut Renjun yang baru saja bergabung di meja makan. Bukannya membalas sapaan Donghyuck, Renjun memilih membuang muka. Pemuda manis itu juga mengurungkan niat untuk sarapan bersama anggota keluarganya yang lain.


Alasan Renjun melakukannya cukup sederhana, karena Donghyuck berada di sana. Menikmati sarapan bersama keluarganya.


Keberadaan Donghyuck di meja makannya cukup mengejutkan Renjun. Jika pemandangan ini ditemukan olehnya beberapa waktu yang lalu, mungkin Renjun bisa memakluminya. Pasalnya, dalam dua hari belakangan ini Donghyuck menghilang, menghindarinya, tidak ada kabar. Dan begitu menampakkan diri, lelaki itu tersenyum seolah tidak merasa bersalah sama sekali. Benar-benar membuat Renjun kesal setengah mati.


"Renjunie, sini sarapan dulu" ajak Wendy saat anak tertuanya ini tidak kunjung duduk bersama mereka.


Dengan senyum yang dipaksakan Renjun menggeleng, "Tidak Ibu. Aku akan langsung berangkat ke kantor. Sarapannya nanti disana saja."


"Kenapa, hm? Tapi Donghyucknya juga masih sarapan disini." Tukas Wendy menunjuk Donghyuck dengan dagunya.


Renjun melirik Donghyuck sekilas. Lelaki itu menunda suapan kimchi bokkeumbap nya. Menatap Renjun penasaran, yang juga terlihat siap beranjak dari bangkunya jika Renjun memang hendak berangkat ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu.

"Yasudah, biarkan saja dia menghabiskan sarapannya. Aku berangkat ke kantor sendiri, kok." Ujarnya kembali memalingkan wajah ke arah sang Ibu.

"Yasudah kalau begitu aku berangkat." Pamit Renjun. Pemuda manis itu bahkan mengabaikan kebiasaannya ketika berpamitan kepada kedua orang tuanya dengan memeluk dan mencium pipi keduanya. Renjun sengaja melakukannya, agar tidak lagi ditahan oleh Ibu, Ayah, bahkan Donghyuck.

Ah, menyebut nama Donghyuck di dalam hati saja sudah membuat Renjun uring-uringan sendiri.

Renjun melangkah meninggalkan meja makan, mengabaikan seruan sang Ibu yang memanggil namanya.

Udara bebas baru bisa Renjun nikmati ketika dia sudah berada di luar rumah. Dadanya membusung, mengisi paru-parunya dengan pundi-pundi udara yang cukup.

Entah mengapa, Renjun merasa asupan oksigen yang dikumpulkannya tadi sangat kurang ketika berhadapan dengan Donghyuck. Membuat dadanya terasa sesak dan sakit. Terutama jika mengingat bagaimana dua hari terakhir ini Donghyuck menghindarinya. Ia sendiri sampai bingung, memang apa arti Donghyuck baginya sampai Renjun harus merasa seperti ini?


"Foxey!"



Renjun merasa pergelangan tangannya ditarik ketika akan membuka pintu mobil. Kedua bola matanya membulat begitu mendapati Donghyuck sebagai si pelaku utama.


"Apa?"


Suara Renjun terdengar dingin menyapa telinga Donghyuck. Namun, lelaki itu tidak mempedulikannya. Justru senyumnya melebar begitu melihat wajah masam si kekasih bohongan.


"Berangkat bersamaku saja," ajak Donghyuck tanpa menghapus senyum yang justru menyebalkan di mata Renjun.


Dengan semua yang telah Donghyuck lakukan, mengapa lelaki itu masih bisa tersenyum?



"Saya bisa berangkat sendiri," tolak Renjun.


Hah, lagi-lagi Renjun membangun dinding formalitas yang menohok Donghyuck. Andai saja Donghyuck tidak menjauhi Renjun, mungkin saja jarak di antara mereka tidak akan melebar seperti ini.



pretend ; hyuckren ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang