LIMA BELAS
Alana sangat membenci keteledorannya hari ini. Ia lupa membawa payung ditengah cuaca yang sedang tidak menentu, hasilnya gadis itu harus menerima resiko kehujanan disaat menunggu di halte bus. Tadinya Alana ingin memesan ojek online agar secepatnya sampai rumah, tapi setelah melihat tarifnya niat itu langsung ia urungkan.
Sudah hampir setengah jam Alana menunggu bus tapi ia juga belum melihat tanda-tanda kehadiran angkutan itu. Padahal Alana sudah kedinginan.
Tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depannya, menampilkan sosok Erza di kursi pengemudi. Wajah lelaki itu terkejut ketika melihat Alana.
"Al, lo ngapain?"
"Huh?"
"Masuk, Al. Baju lo udah basah gitu, gue anterin yuk!"
Alana menggeleng. Ia bukannya sombong, tapi gadis itu hanya tidak mau dibilang memanfaatkan Erza. Apalagi hubungan mereka dimasa lalu tidak berujung baik.
Erza akhirnya keluar mobil, sedikit memaksa Alana yang sangat keras kepala itu. "Ayuk, Al! Gue anterin, lo mau sampe kapan disini?"
"Engga deh. Bentar lagi datang kok bus nya." Erza berdecak, apa yang salah sih jika ia hanya ingin membantu Alana dikeadaan yang seperti ini?
"Jangan gitu dong, Al. Kita kan temen, yuk?"
Teman. Betul kata Erza, bagaimana pun mereka sekarang berteman. Selain itu Alana sudah sangat kedinginan hingga kepalanya mulai merasa pusing akibat terkena air hujan.
"Bener gapapa?" Alana sekali lagi memastikan. "Gapapa. Ayuk masuk!"
Sial, ternyata di dalam mobil Erza malah jauh lebih buruk karena pendingin mobil lelaki itu berada tepat di depannya.
Erza menyadari gelagat aneh Alana di sampingnya, gadis itu terus mengusapkan tangannya dan menghembuskan nafas berkali-kali. Hingga ia menyadari jika Alana sedang kedinginan.
"Matiin aja AC nya, Al. Gapapa kok." Alana langsung menoleh menatap Erza, apa gerak-geriknya terlalu mencolok hingga Erza menyadari kegelisahannya?
"Eh? Engga itu--"
54
"Matiin aja. Sama nih pakai jaket gue."
Ini yang Alana tidak suka dari Erza, lelaki itu terlalu baik. Sepertinya satu kebaikan bagi Erza tidak cukup hingga ia terus memberikannya lagi dan lagi.
"Za...gapapa loh bener. I'm fine."
Tanpa mendengarkan ucapan Alana, Erza memberikan jaket berwarna putihnya kepada gadis itu. Alana
memang sering kali harus dipaksa, padahal Erza tidak merasa direpotkan atas gadis itu sama sekali. "Baju lo basah gitu, Al. Nanti sakit, pakai aja."
Akhirnya Alana kembali luluh. Untuk kali ini mungkin ia harus mengesampingkan ego nya dan mencoba mengakui jika memang sedang membutuhkan bantuan dari Erza.
Sepanjang perjalanan, Alana tidak menyadari kemana lelaki itu membawanya. Hujan deras yang turun membuat Alana tidak terfokus dan hanya menatap jendela dengan pikiran kosong. Hingga mobil Erza berhenti disebuah restoran yang familiar meski Alana tidak pernah memasukinya.
Mata Alana langsunh melotot, ia menatap Erza dengan penuh tanya. "Kesini mau ngapain, yah? Lo ada perlu?"
Erza mematikan mesin mobilnya, lalu mengemasi barang-barang seperti ponsel dan dompet miliknya. "Makan. Yuk, Al?"
"Hah?"
"Lo udah ujan-ujanan. Terus gak makan, nanti sakit loh." Kata Erza.
Alana menyeritkan alisnya dengan ekspresi tidak percaya. "Za, lo ajak gue makan disini?"
Erza mengangguk dengan sangat santai.
"Za, gue mau langsung pulang. Tadi gue juga udah sarapan kok." Alana benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikir Erza, maksudnya untuk apa lelaki itu mengajaknya makan?
"Abis makan langsung gue antar pulang."
"Gak deh, gue pulang aja. Kalau lo mau makan dulu yaudah, gue naik bus aja dari sini."
Erza mendesah kecewa, ia menatap Alana dengan wajah memelas. "Yah, Al...gue udah sampai sini juga? Cuman makan doang kok, gak sampai satu jam."
Alana sedang memutar otaknya, kira-kira apa kata yang tepat untuk menolak ajakan Erza ya?
"Za..disini mahal. Gue gak ada uang." Betul, Alana harus memberitahu tentang hal ini. Padahal sebenarnya ia mampu membayar sendiri karena sekarang Baskara rutin mengirimkannya uang.
"Gue yang barang."
55
Zonk! Alana langsung sweetdrop. Alih-alih ingin menolak tawaran Erza ia malah terdengar minta ditraktir.
"Ini uang gue kok, Al. Bukan uang nyokap, sekali aja? Yah?"
Lagi-lagi Alana luluh oleh tawaran Erza. Ia melangkah beriringan memasuki restoran dengan Erza.
Banyak pengunjung yang menatap Alana dengan tatapan yang sulit dimengerti. Sial! Alana baru menyadari jika tampilannya sekarang persis seperti tikus got. Celananya basah, rambut lepek, berbanding berbalik dengan Erza.
Mereka menempati meja yang ada di dekat jendela. Sebenarnya Alana tidak tahu harus bagaimana, jadi ia lebih memilih diam sambil menunggu makanan yang sudah Erza pesan.
Alana menghembuskan nafas kasar, andai saja ia membawa payung dan tidak kehujanan. Pasti dirinya tidak perlu repot-repot seperti ini.
Ketika sedang tenggelam dengan lamunannya, Alana terlonjak oleh sentuhan Erza pada helai rambutnya. Alana memundurkan tubuhnya untuk sedikit menjauh.
"Lo kok sampai kehujanan gini sih, Al? Kenapa gak naik taxi atau apa gitu?" Sungguh Alana sedikit tidak nyaman dengan interaksi ini, tapi ia tidak tau bagaimana caranya menunjukan kepada Erza.
"Yah mau gimana lagi." Sahut Alana singkat.
Erza seperti acuh dengan ketidaknyamanan Alana, ia masih terus mencoba menggerakan tangannya pada helai rambut gadis itu meski Alana terus bergerak menjauh.
"Za, gak usah pegang-pegang deh ah! Emang gue kucing?" "Hahaha tapi lo gemesin sih emang kayak kucing!"
Meskipun sekarang Erza sudah menarik tangannya, Alana tetap saja merasa sedikit kesal. Untungnya staff restoran datang tepat waktu sambil membawa pesanan mereka, dan tanpa basa basi Alana langsung makan dengan cepat. Tujuannya hanya satu, ia ingin segera pulang.
"Za, kamu disini?"
Mendengar suara itu, Alana hampir tersedak makanannya. Itu suara Baskara, sosok tinggi itu masih mengenakan pakaian formal yang lengkap dengan rambut tersisir rapih.
"Iya paman. Paman abis meeting?"
"Hmm. Tadi saya habis evaluasi manajemen restoran aja sih, kalau tau kamu kesini mendingan kamu yang urus."
Alana bergedik ngeri, apalagi ketika Baskara melemparkan tatapan tajam ke arahnya. Bahkan ia tidak berani mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya, gadis itu persis seperti patung.
Erza terkekeh. "Aku kesini juga gak sengaja, cuman mau ajak makan Alana aja."
56
Baskara menepuk pundak Erza. "Ajak makan cewek tuh di tempat lain, jangan restoran keluarga kamu sendiri. Nanti digosipin."
Hah? Kuping Alana tidak salah dengar? Restoran keluarga Erza? Jadi lelaki menyebalkan ini mengajaknya makan di restorannya sendiri?
"Engga lah! Aku kan cuman supplies aja, kepemilikan tetep punya paman."
Sungguh tawa Baskara saat ini entah kenapa terdengar sangat menyeramkan di telinga Alana. "Yayaya. Jadi kamu dan Alana...?"
Alana tau maksud pertanyaan itu, ia mengunyah makanannya dengan cepat lalu menampik ucapan Baskara. "Temenan kok saya pak, tapi kebetulan nebeng aja."
Baskara menatap Alana lekat lalu beralih ke Erza. "Temenan doang yakin?"
"Maunya sih lebih hehehe."
Brengsek! Alana ingin tenggelam saat ini juga. Bisa-bisa Baskara akan mengamuk lalu mengatainya hal yang tidak-tidak. Apalagi di dalam perjanjian mereka tertulis jika Alana tidak boleh menjalin hubungan dengan siapa pun.
"Apaan sih, Za. Engga kok, Pak. Erza mah emang gitu suka ngaco." Ucap Alana lagi.
Baskara hanya tersenyum tipis. "Yaudah terserah kalian. Saya duluan ya!"
"Siap. Hati-hati Paman!"
Kepergian Baskara membuat Alana jadi lemas. Ia benar-benar tidak tenang dengan respon lelaki itu selanjutnya.
Hanya berselang tiga menit, Alana mendapatkan pesan dari Baskara. Cukup singkat namun membuat jantungnya berdebar.
Baskara
I'm so angry right now, baby girl.
