14. Sebuah Harapan

13K 249 6
                                        

Eric merebahkan tubuhnya disamping Citra dan memeluknya usai aktivitas beberapa saat lalu. Dia tidak bermaksud untuk tidur, melainkan untuk mengumpulkan kembali tenaganya selepas lelah bercinta. Bukankah lebih baik jika dirinya yang mengambil mahkota berharga itu daripada pria sialan bernama Leonel? Eric pun sudah berjanji sebelum dia mengambil semuanya, setelah ini dia akan bertanggung jawab. Namun hanya Tuhan yang tahu, apakah semuanya akan berjalan mulus sesuai yang ia harapkan?

Dengan hati-hati Eric memakaikan pakaian Citra, setelah ia selesai memakai bajunya sendiri. Pakaian yang Citra kenakan telah diganti dengan pakaian minim sejak ia dibawa ketempat itu. Apalagi dress itu telah basah karena Citra mengguyur dirinya dibawah shower berharap gairah itu akan mereda, namun sia-sia saja yang ia lakukan. Beruntung Eric memakai jaket, akhirnya memakaikan jaket miliknya pada tubuh Citra. Setelah urusannya dengan Leonel selesai, Eric segera membawa Citra pergi, dan ketika dia berjalan menuju pintu keluar, Leonel kembali menghampirinya.

"Kau sudah selesai?"

Eric tak merespon ucapan Leonel, sudah bisa dipastikan saat ini dirinya menahan amarah dan Leonel bisa melihatnya melalui tatapan tajam Eric padanya.

"Aku sudah mengatakannya kan? Kau harus berterima kasih padaku." ucap Leonel dengan seringai tipis

Mengabaikan perkataannya, Eric kembali melangkah menuju pintu keluar dan membawa Citra masuk kedalam taksi.

***

Masih memakai masker hitam untuk menyembunyikan identitasnya, Eric menekan bel pintu rumah Tiffany, tante Citra. Karena sudah malam, semua orang sudah ternyenyak dalam tidur mereka, kecuali satu orang.

Pintu dibuka, Peter tersentak kala mendapati adik sepupunya yang ada dalam gendongan Eric. "Ci.. Citra."

Tanpa menghiraukan Peter yang masih syok, Eric melangkah masuk begitu saja dan membaringkan Citra di sofa dengan hati-hati.

"Bagaimana, Citra bisa ada padamu? Kau.." Peter menggantung ucapannya

Eric yang merasa curiga dengan reaksi Peter, memutar tungkainya menghadap ke arah Peter yang kebingungan.

"Apa kau kakaknya Citra?" tanya Eric

"I iya." jawab Peter gugup

"Apa kau yang menjual Citra demi menebus hutang?" tanya Eric lagi

"Be benar. Bagaimana kau bisa.."

Belum sampai Peter melanjutkan kata-katanya, Eric sudah membungkamnya dengan bogem mentah. Peter yang mendapat serangan dari Eric secara bertubi-tubi langsung tersungkur ke lantai.

"Kakak macam apa kau brengsek!! Bagaimana kau bisa tega menjual adikmu!!" teriak Eric sambil mencengkram ujung baju dileher Peter

"Aku terpaksa melakukannya. Kalau tidak, aku akan dihajar habis-habisan." Jawab Peter dengan muka babak belur.

Sebelumnya anak buah Leonel telah memukulnya dua kali, sekarang dia harus menerima pukulan lagi dari Eric lengkap sudah. Tiffany, Bryan dan Sora yang mendengar keributan mereka pun keluar ke ruang tamu. Terkejut mendapati Citra yang sudah kembali.

"Ada apa ini? Kau siapa? Kenapa memukul putraku?" tanya Tiffany melihat Eric mencengkram ujung baju Peter

Eric pun melepas cengkramannya untuk menjawab pertanyaan Tiffany.

"Lebih baik nyonya tanya saja kepada putra nyonya ini. Apa yang sudah dia lakukan kepada adiknya."

Eric memandang Citra sayu, kemudian pergi begitu saja dan bergegas masuk kedalam taksi yang menunggu diluar.

"Peter, sebenarnya apa yang kau lakukan? Apa maksud ucapan pemuda tadi? Jawab pertanyaan ibu?" tanya Tiffany dengan suara meninggi

"Aku minta maaf ibu. Sebenarnya aku sudah menjual Citra untuk melunasi hutangku dengan bos besar pemilik club malam yang terkenal itu."

Late LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang