Eric Anderson mengalami nasib tragis dalam kisah asmaranya. Lalu suatu hari seorang gadis datang dalam hidupnya dan setia menemani hari-harinya dengan penuh kesabaran. Akankah gadis itu mampu membuat dirinya jatuh cinta lagi?
Disclaimer : Ini hanya...
Eric menghabiskan waktu cukup lama didalam diskotik. Selang beberapa menit, seorang lelaki yang seumuran dengannya datang menghampiri. Lelaki itu kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang, meninggalkannya diatas meja bar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ayo kita pulang." ajaknya sambil menarik paksa lengan Eric
"Aku masih ingin disini." Eric menepis sambil membenamkan wajahnya di meja bar.
"Ayolah, mau sampai kapan kau disini?" Jey bersikeras menarik lengan Eric sampai akhirnya ia mau berdiri.
Sebelum mereka pergi, bartender itu menoleh, memandang tubuh Eric yang berjalan sempoyongan. Jika tidak dirangkul oleh Jey, pasti dia sudah berkali-kali menabrak orang-orang yang tengah berjoget di lantai dansa. Ia menggelengkan kepala, menatap kepergian sang pemuda yang tengah mabuk berat. Menarik nafas panjang, bartender itu tahu tanpa perlu bertanya. Pelanggan yang suka mabuk berat tanpa memperhatikan sekitarnya itu, pasti seorang patah hati atau dikhianati. Pengalaman telah memberinya pelajaran, dalam menilai setiap pelanggan yang datang untuk meminta minuman racikannya. Jey sebelumnya sudah dihubungi Eric dari beberapa jam yang lalu, agar datang untuk menjemputnya. Hari ini dia tidak akan pulang ke rumah, tapi menginap di apartemen sekretarisnya.
"Citra... kamu dimana? Maafkan aku.. Tolong kembalilah." sudah berkali-kali Eric bergumam ditengah perjalanan. Jey yang mendengarnya tidak menanggapi dan tetap fokus menyetir. Dalam hati sebenarnya ia sangat khawatir jika bos sekaligus sahabatnya ini akan melakukan tindakan nekad lagi seperti di masa lalu.
***
2 minggu kemudian...
Citra berjalan santai diatas trotoar jalan raya sembari menikmati pepohonan yang rindang. Ia bekerja menjadi seorang barista di salah satu cafe yang ada di kawasan ibukota. Tak terasa, kedua langkah kakinya sudah tiba di cafe tempat ia bekerja. Citra mendorong pintu cafe dan melihat sudah ada beberapa karyawan yang telah tiba dan sibuk membersihkan meja serta menata kursi. Pikirannya yang tadi kalut, kini berubah menjadi tenang setelah mencium aroma biji kopi yang di haluskan. Citra menghirup dalam aroma kesukaannya lalu tersenyum lega. "Lupakan sejenak permasalahanmu, ayo mulai bekerja!" Seru Citra untuk dirinya sendiri.
Jalan raya di kawasan ibukota sudah di padati oleh kendaraan umum maupun pribadi. Jam telah menunjukkan pukul 10 pagi dan tulisan di pintu cafe telah di balik menjadi tanda open. Para karyawan di cafe telah memakai seragamnya dengan rapi dan masih terlihat sibuk. Para pelayan masih ada yang mengelap meja dan menata kue-kue di etalase besar. Sedangkan para koki sibuk di dapur membuat beberapa makanan setengah jadi serta para barista yang ikut sibuk mempersiapkan bahan-bahan mulai dari bubuk kopi, cream, dan lain sebagainya. Citra pun tak kalah dibuat sibuk. Ia melanjutkan pekerjaan rekannya menghaluskan biji kopi dan meletakkannya sesuai dengan label masing-masing merk kopinya. Semangatnya kembali dan keceriaan terlihat sangat jelas di atas raut wajahnya. Dan selama bekerja disana, ia juga mendapat teman baru. Dari Vio lah Citra mengenal kopi dan mampu menyeduh kopi dengan benar.