Keesokan pagi Citra bersiap-siap untuk kembali bekerja. Dia harus sudah tiba pada jam tujuh pagi, karena pada saat itu adalah waktu Eric untuk sarapan. Terlebih dahulu ia sarapan lalu berangkat naik angkutan umum.
Sesampainya disana.
Tok Tok Tok
"Masuk!" sahut Eric dari dalam kamar
Citra membuka pintu. Di lihatnya Eric sudah rapi memakai sweater dan celana pendek.
"Tuan, waktunya sarapan." pinta Citra, namun Eric sedikitpun tak tertarik melihat nampan yang ia pegang.
"Pagi ini menunya nasi goreng. Ayo tuan, saya suapi." bujuk Citra pada Eric yang tidak mau membuka mulutnya
"Apa perlu saya gerakkan sendok ini terbang seperti pesawat, agar tuan mau makan?"
"Memangnya aku ini anak kecil?" bibir Eric sedikit mengerucut.
"Ya, anda memang terlihat seperti anak kecil yang sedang susah di bujuk untuk makan." Citra terkekeh.
"Kamu meledekku?" bibir Eric semakin mengerucut.
Aish, dia imut sekali.
"Tuan, ayo buka mulutmu." Citra mengarahkan sendok ke bibir Eric, akhirnya mau tidak mau Eric menerima suapan darinya.
"Nah begitu, anak pintar."
"Berhenti meledekku."
"Hehe."
Sementara di balik pintu, Helena tersenyum melihat putranya yang mau menurut. Entah mengapa ia merasa bahagia melihat putranya begitu dekat dengan Citra. Lantas ia kembali menutup pintu.
Selesai sarapan, Citra membantu Eric meminum segelas susu. Kemudian ia letakkan piring dan gelas itu ke nampan lalu ia bawa kembali ke dapur. Lalu ia kembali ke kamar Eric.
"Tuan, bagaimana kalau kita ke taman depan?"
"Terserah kamu sajalah." Eric pasrah, dia sudah lelah menolak permintaan gadis itu.
Citra mengantar Eric ke taman depan rumah, terlihat banyak bunga yang bermekaran.
"Udaranya sangat segar kan tuan?" ucapan Citra hanya di balas pandangan mata oleh Eric
"Bunganya cantik sekali."
Citra memetik bunga mawar putih, lalu ia selipkan bunga itu ke telinga Eric.
"Wah, tuan.. kau cantik sekali.. bahkan kau terlihat lebih cantik dariku.."
Gadis ini benar-benar aneh. Padahal aku sudah bersikap cuek padanya. Tapi dia masih saja baik padaku.
"Tuan, bagaimana kalau kita menyanyi?"
Dahi Eric mengernyit. Dia sangat heran dengan sikap gadis itu yang begitu ceria dan seolah sangat akrab dengannya.
"Menyanyi saja sendiri."
"Baiklah. Saya akan menyanyi. Dengar baik-baik ya tuan. Ehem."
You are beautiful, beautiful, beautiful..
Kamu cantik cantik dari hatimu..
Citra menyanyi sambil membentuk tangannya menjadi lambang hati di depan Eric. Sedangkan Eric terdiam melihat tingkahnya.
"Tuan, bagaimana? Suaraku bagus kan?"
"Jelek sekali."
Bibir Citra cemberut dengan pendapat Eric, namun sedetik kemudian ia kembali tersenyum.
"Terima kasih atas pujiannya tuan. Saya tahu anda hanya bercanda, haha."
"...."
Setelah cukup lama menghabiskan waktu di taman, Citra kembali mendorong kursi roda Eric ke kamar.
"Rasanya seru sekali, lain kali tuan juga ikut menyanyi ya."
"....."
"Tuan jangan khawatir, saya akan mengajari anda sampai anda bisa menyanyi dengan benar. Saya akan menjadi guru musik tuan, tapi tenang saja, tuan tidak perlu bayar."
Jadi guru musik katanya?
***
Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Pada jendela kamar yang terbuka, Eric menikmati angin malam yang menerpa kulitnya meski dingin begitu terasa.
"Eric." samar-samar Eric mendengar ada yang memanggilnya. Hatinya terasa berdenyut ketika sadar dia hanya berhalusinasi. Tidak mungkin Tiara ada disini. Tiara telah...
"Eric." Eric cepat-cepat menoleh. Terkejut karena itu benar-benar sosok Tiara. Eric merindukan Tiara, sangat. Sosok putih bercahaya itu tidak membuat Eric takut. Justru dia ingin memeluk sosok itu.
"Tetap disitu, jangan mendekat." Eric diam membeku. Tiara melarangnya mendekatinya?
"Kenapa Tiara? Aku rindu kamu. Aku ingin peluk kamu." terlihat jelas Eric benar-benar sedih.
"Eric." sosok Tiara menangis. Airmatanya turun dengan sendirinya. Jujur, dia juga merindukan Eric. Merindukan kasih sayang yang Eric berikan untuknya. Tapi, kini semuanya berbeda. Dia dan Eric tidak berjodoh. Mereka beda alam.
"Dengar Eric, lupakan aku. Jangan buat dirimu menderita karena aku. Dua tahun kamu habiskan waktumu untuk memikirkan masa lalu. Sekarang waktunya Eric, waktunya kamu bahagia dengan yang lain." Tiara tersenyum. "Jangan tutup dirimu terus menerus. Biarkan aku tenang disana. Aku mohon.."
"Tiara, aku cuma sayang sama kamu."
"Cukup Eric. Buka hatimu untuk seseorang. Aku mohon, jangan biarkan aku tersiksa disini. Aku mohon, lepaskan aku Eric, relakan aku."
"Tapi.."
"Terima kasih sudah mencintaiku selama ini Eric. Aku pergi." setelah mengucapkan itu, sosok Tiara benar-benar hilang.
"Tiara." kini airmata tak lagi dapat Eric bendung. Airmatanya meluncur deras membasahi pipinya. "Apa kamu disana tersiksa, Tiara?" tanya Eric pada dirinya sendiri. Dia masih menatap tempat dimana tadi Tiara menemuinya.
"Apa dengan cara melupakan dan mengikhlaskanmu bisa membuat kamu tenang disana, sayang?"
Eric memejamkan matanya, menahan rasa sesak ketika Tiara menemuinya secara langsung. Justru Tiara memintanya melupakannya. Melupakan semua kenangan yang telah terjadi.
"Tiara, dimana pun kamu berada sekarang. Kamu pasti dengar apa isi hatiku." selama ini Tiara selalu hadir dalam mimpinya, itu pun sebentar dan Tiara hanya tersenyum. Senyum yang membuat Eric semakin merindukannya.
"Aku akan coba merelakanmu, Tiara. Tapi tidak untuk melupakan. Kamu, perempuan kedua yang aku cinta setelah ibu." pada kenyataanya, Eric memang harus mengikhlaskan kepergian Tiara. Dan sekarang adalah waktunya.
"Semua kenangan kita, akan tersimpan rapi disini." Eric menunjuk dadanya, rasa sesak itu semakin terasa. "Semoga kamu tenang disana, sayang." Eric berhasil mengucapkannya, beriringan dengan airmata yang lolos setelahnya.
Tbc
06 Juli 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Late Love
FanfictionEric Anderson mengalami nasib tragis dalam kisah asmaranya. Lalu suatu hari seorang gadis datang dalam hidupnya dan setia menemani hari-harinya dengan penuh kesabaran. Akankah gadis itu mampu membuat dirinya jatuh cinta lagi? Disclaimer : Ini hanya...
