"Ayo sayang, aku akan memuaskan hasratmu."
Leonel tersenyum puas. Gadis itu akan meminta sesuatu padanya, tanpa dipaksa. Namun pemikirannya salah, Citra berlari ke kamar mandi meninggalkan Leonel disana.
"Oh, sayang.. kau jangan naif. Gairahmu tidak akan mereda tanpa bantuan seorang pria."
Cukup lama Citra didalam kamar mandi, Leonel semakin geram. Dia merasa gadis itu tak menginginkannya sama sekali.
Ceklek
Citra telah keluar dari kamar mandi dengan keadaan basah kuyup. Baju yang di kenakannya basah dan mencetak lekukan indah didalamnya. Citra terus bergerak gelisah, tangannya terus menggerayangi tubuhnya sendiri, bersama manik matanya yang sangat terbakar akan gairah yang meluap-luap. Leonel terkekeh seraya berjalan mendekati Citra. Tatapan Citra terlihat sangat pasrah.
"Perlu bantuanku, sayang?" Tanya Leonel dengan menyeringai.
Citra menggeleng lemah. Namun tangannya tak berhenti menggerayangi tubuhnya sendiri dengan mendesah pelan. Dia mundur perlahan menjauhi Leonel. Dia memang dikuasai obat perangsang, namun akal pikirannya masih berjalan, bahwa ia tidak boleh terjebak dengan pria itu.
"Ck! Kau sombong sekali." Decak Leonel. Dia segera membekap tubuh basah Citra, sungguh ia tak sabar untuk merusak gadis itu sekarang, merusak dan pada akhirnya hanya dialah yang mampu memperbaiki.
"Aahh... jang-an." Ucap Citra dengan tersendat-sendat, antara menahan gairah dan takut dengan apa yang akan dilakukan Leonel selanjutnya.
"Dengar sayang. Gairahmu tidak akan mereda tanpa bantuanku." Bisik sensual Leonel ditelinga Citra.
Krieeett
"Maaf bos. Kami mengganggu." Lapor dua bodyguard yang tiba-tiba membuka pintu yang lupa dikunci.
"Apa kalian tidak bisa mengetuk pintunya dulu!" Kesal Leonel
"Maafkan kami bos. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Kami sudah memintanya untuk pergi, tapi dia tetap bersikeras untuk menemui anda."
Leonel kembali menatap Citra. Dengan berat hati, dia menunda permainannya.
"Tunggu sebentar ya sayang. Aku akan segera kembali." Ucap Leonel kemudian keluar menemui seorang pria yang mencarinya.
"Kau siapa?" Tanya Leonel
"Kau tidak perlu tahu siapa aku."
"Apa tujuanmu datang kemari?"
"Aku mencari seorang gadis." Jawab pria itu sambil menunjukkan foto Citra
Leonel terkejut.
"Oh.. gadis itu sudah menjadi milikku. Kakaknya punya hutang sebanyak dua milyar dan gadis itu menjadi penggantinya." Ujar Leonel dengan senyum liciknya
"Aku akan menebus hutangnya. Sekarang dimana gadis itu?"
"Aku sudah tidak peduli soal uang sekarang. Gadis itu membuatku tertarik."
Pria misterius itu merasa geram sambil mengepalkan tangannya.
"Kau seorang bos kan? Harusnya kau bersikap profesional." Tegasnya
Leonel tertohok. Saat ini bukan lagi perkara uang. Keangkuhan Citra yang membuatnya terobsesi dan tertantang untuk memilikinya.
"Baiklah. Kau boleh membawanya pergi. Tapi kau harus menebus dua kali lipat."
"Tidak masalah." Pria itu memotong ucapan Leonel
"Setelah itu kau harus berterima kasih padaku." Ujar Leonel diiringi dengan smirk yang membuat pria misterius itu mengernyit bingung, namun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Citra disekap. Begitu pintu dibuka oleh salah seorang penjaga, pria itu terkejut mendapati keadaan gadis yang dia cari.
Citra mengerang. Dia tersiksa dengan gairah ini. Apa dia akan menyerah begitu saja? Gejolak di tubuhnya sangat menghantam sisi kewanitaannya. Dengan lunglai dia merosot di ranjang dengan menggeliat disana. Pria itu sangat tersiksa melihat adegan didepannya.
"Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku mohon, tolong aku.. tuan.."
Pria itu sangat tersiksa melihat adegan didepannya. Dia melepas masker dan jaket hitam yang dipakainya. Kemudian berjalan mendekat ke ranjang. Pria itu adalah Eric. Entah bagaimana dia bisa menemukan gadis yang dia cari, juga belum ada yang tahu kalau dia sudah sembuh.
"Citra, apa yang terjadi padamu?" Tanya Eric panik, namun gadis itu seperti kehilangan akal sehat. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah butuh pelampiasan untuk menuntaskan hasratnya.
"Sialan." Eric mengumpat setelah sadar apa maksud ucapan Leonel sebelum dia pergi.
"Sekarang apa yang harus ku lakukan?" Eric memandang Citra yang terus menggeliat diatas ranjang, seakan memohon untuk segera dijamahnya.
Eric yang tidak punya pilihan, akhirnya melepas baju dan celananya. Kemudian melepas pakaian Citra. Membuat tubuh keduanya lebih ringan dan bisa menempel tanpa ada pakaian tebal yang menghalangi. Dia lelaki normal. Tubuhnya panas. Nafasnya memburu karena jantungnya berpacu cepat. Dia langsung menindih tubuh Citra, memulai sesuatu yang akan membuat mereka terjebak ke dalam lubang masalah yang semakin dalam.
Tbc
29 September 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Late Love
FanfictionEric Anderson mengalami nasib tragis dalam kisah asmaranya. Lalu suatu hari seorang gadis datang dalam hidupnya dan setia menemani hari-harinya dengan penuh kesabaran. Akankah gadis itu mampu membuat dirinya jatuh cinta lagi? Disclaimer : Ini hanya...
