Part 7

148 28 11
                                    

Namgyeong, 972

SuA buru-buru mengejar Singnie dan meninggalkan tamunya di dalam rumah. Ia menyadari sejak awal sikap tidak suka yang ditunjukkan oleh siluman itu. Namun, bukankah tidak baik jika sudah mengundang seseorang, lalu tidak bersikap ramah? Lagipula ia menyukai ketika Singnie menunjukkan ketidak sukaannya itu. Membuatnya merasa bahwa Singnie berpikir bahwa ia adalah milik gadis siluman itu.

"Tunggu dulu!" SuA menahan tangan Singnie begitu ia berhasil mengejarnya. Jujur saja ia sedikit kesulitan mencapai gadis itu karena langkahnya lebih pendek. Akibatnya ia terengah setelah berlari kencang.

"Ada apa?" Singnie menatapnya dingin.

SuA tak bisa melanjutkan apa yang akan ia katakan karena sibuk mengatur nafasnya. Ia butuh waktu beberapa detik lagi hingga berhasil mengatakan beberapa patah kata. "Jangan pergi dulu! Kau juga belum makan."

"Aku tidak memiliki selera makan lagi," ucapan Singnie tersebut langsung dibantah oleh suara gemuruh di perutnya. Dan ia berusaha membantahnya lagi. "Itu suara guruh. Sepertinya akan hujan. Lebih baik aku segera pulang."

SuA tertawa mendengar penyangkalan Singnie barusan. "Kau cemburu padanya?"

Signie membuang muka, "Nah! Kau tahu!"

"Wae?" goda SuA.

"Kita akan menikah, tapi kau malah genit dengan gadis lain." Singnie tak lagi salah paham dengan kata itu karena salah seorang pengawal telah menjelaskannya dengan sangat detail. Tentu saja tanpa sepengetahuan SuA.

"Menikah?" Tawa SuA mendadak lenyap.

Ia menginginkan gadis itu. Ingin selalu berada dekat dengannya. Namun, untuk menikah ... bukan hanya candaan yang diomongkan di depan orang-orang, melainkan benar-benar menikah, ia masih belum memiliki keberanian untuk melakukannya.

Belum lama rasanya ketika ia kehilangan ayahnya. Bangsawan Kim. Satu-satunya orang yang paling dekat dengannya. Bukan karena sakit atau terlalu tua. Penyihir tidak mengenal hal-hal semacam itu. Ayahnya meninggal karena menikahi ibunya, lalu ditinggalkan.

SuA tidak ingin hal yang sama terjadi padanya. Ia percaya pada Singnie. Ia percaya Singnie tak akan melakukan hal yang sama seperti ibunya dulu. Tapi, bukankah ayahnya juga seperti itu? Menjadi bodoh dan memberikan seluruh kepercayaannya.

Bahkan jika itu adalah Singnie. Ia masih ingin hidup lebih lama. Ia tidak ingin berakhir seperti ayahnya.

"Eoh! Menikah." Singnie mengangguk. "Aku bahkan sudah mengatakannya pada Tuan Park. Meski itu bukan sesuatu yang seperti aku pikirkan sebelumnya. Namun, ketika aku mengetahuinya dari Kyung Chan, aku merasa melakukan hal yang tepat telah mengatakannya pada Tuan Park. Aku mau menikah denganmu."

"Tapi ... tidakah ini terlalu cepat?" SuA berusaha berkelit. Setidaknya sedikit mengukur waktu.

"Lalu kapan waktu yang tidak terlalu cepat itu?" Tanya Singnie lagi. Terdengar menuntut karena memang kenyataannya ia tidak sabaran.

SuA menghela nafas berat dan suaranya melemah. "Aku tidak tahu."

Singnie mengangguk. Kekecewaan tersirat jelas di wajahnya. "Kalau begitu, kau bisa temui aku nanti setelah tahu waktunya."

Singnie melepaskan pegangan SuA darinya kemudian pergi meninggalkan gadis itu. Kali ini SuA tak memiliki keberanian untuk mengejarnya. Ia takut Singnie akan menuntut tentang pernikahan lagi sementara ia tak bisa menjawabnya. Ia terlalu takut untuk menikah, sementara ia juga tak ingin kehilangan gadis siluman itu.

Setelah Singnie pergi, SuA kembali masuk ke dalan rumahnya. Menemui Handong yang masih melanjutkan makan. Kekosongan yang ditinggalkan SuA membuat perut gadis itu kembali bergejolak. Ia telah menandaskan separuh dari seluruh makanan di meja dalam waktu singkat. Begitu melihat SuA masuk, ia buru-buru menjadi tuan putri yang anggun.

The Last WolfTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang