Part 5

183 31 18
                                    

Namgyeong 972

Biasanya SuA tidak begitu suka pergi ke keramaian apalagi pusat kota. Tapi, semenjak Singnie menjadi hakim di Namgyeong, setiap hari yang ia lakukan adalah berkunjung ke kantor pemerintah. Alasannya adalah untuk membantu Singnie dengan tugas-tugasnya karena gadis itu sama sekali tidak bisa baca tulis dan ia khawatir para pejabat pemerintah akan memperalatnya untuk kepentingan mereka.

Padahal tentu saja itu tidak benar. Ia datang bukan untuk membantu, melainkan karena memang ingin bertemu gadis siluman itu. Ia akan berangkat pagi-pagi sekali dengan menggunakan tandunya meski ia lebih suka kuda karena cepat dan mudah, lalu sengaja pulang larut malam karena ia juga harus mengajari Singnie menulis dan membaca hanja. Ia sudah berjanji akan mengajarinya konfusius, dan mustahil gadis itu mempelajarinya jika buta huruf.

Kantor hakim kota berada di rumah dinasnya. Tepatnya pada bangunan utama. Beberapa orang pejabat pemerintah dipekerjakan untuk membantu tugas hakim sehingga SuA tidak bisa leluasa mengobrol dengan Singnie karena ada orang lain disana. Juga ada para penjaga yang berseliweran untuk memastikan keamaan sang hakim. Sulit mendapatkan waktu berdua saja. Karena itu SuA sengaja menunggu hingga sangat larut, barulah ia pulang. Tentu saja ia ingin menginap. Namun, itu akan menjadi bahan cemoohan. Tak hanya membuat buruk namanya, tapi juga Singnie.

Sialnya, Namgyeong adalah salah satu kota besar yang nyaris menyaingi Gaegyeong. Pekerjaan Singnie tak ada habisnya. Mulai dari urusan yang sangat penting hingga yang paling sepele. Tumpukan dokumen selalu menyambutnya setiap hari. Juga banyak kasus yang harus ia selesaikan.

"Menjadi hakim tidak enak!" Singnie merosot di kursinya. Membuat beberapa pejabat yang ada disana menoleh lalu menahan tawa melihat tingkahnya. "Aku lebih suka mencakar dan menggigit."

Tak hanya SuA yang kecewa karena tidak memiliki waktu berdua dengan Singnie. Begitu juga dengan gadis siluman itu. Terlebih ia terbiasa berkeliaran di hutan bersama hewan-hewan buas lain. Duduk seharian di kursi terasa seolah bisa membunuhnya.

"Aku lebih suka jadi prajurit!" Keluhnya.

"Kau menyesal ditempatkan disini?" Tanya SuA. Berpikir Singnie ingin kembali ke ibu kota. Kembali menjadi pengawal raja.

"Aniyeo! Akan lebih baik menjadi prajurit saja disini." Jawabnya cepat. Kemudian ia menatap seorang pengawal yang berdiri di ujung ruangan. "Mau bertukar tempat denganku?"

Pengawal itu balas menatapnya bingung. Ia melirik Pejabat Park dan Pejabat Nam secara bergantian. Berharap seseorang seseorang bersedia menjelaskan padanya.

"Jika anda merasa lelah, sebaiknya mengambil libur sejenak," ujar Pejabat Park, pria yang tampak paling ramah disana. "Anda bisa mempercayakan pekerjaan disini pada kami."

"Aku boleh melakukannya?" Singnie kembali bersemangat.

"Tentu saja!" Tuan Park tersenyum dengan keramahannya yang tiada tara. "Itulah gunanya kami disini. Lagipula tunangan anda juga sepertinya sudah lelah. Jika anda ingin beristirahat, tidak masalah. Jika anda ingin libur beberapa hari juga tidak apa."

SuA mendekat untuk membisikkan sesuatu pada Singnie, "Mereka sengaja begitu agar mendapat keuntungan. Jika terjadi masalah, kau yang akan disalahkan."

"Begitu?" Singnie kembali merasa murung dan menunduk.

"Mereka selalu seperti itu!" Bisik SuA lagi.

"Apa aku akan jauh darimu jika disalahkan?" Tanyanya lagi.

SuA memikirkan sesaat ketika menurutnya itu tidak ada hubungannya. "Kurasa tidak."

"Kalau begitu tidak apa kan?" Singnie menepuk meja ketika ia berdiri. "Kajja! Aku ingin jalan-jalan!"

The Last WolfTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang