Part 21

111 22 9
                                    

Hanseong, 1301

Beberapa hari berlalu semenjak pelindung sihir dibuka. Tak ada satu manusiapun yang datang. Melewati jalan di depan rumah SuA saja tidak. Lama tidak terlihat membuat jalan itu mulai dilupakan oleh orang-orang. Mereka memilih rute lain dibanding melewati tempat dimana mereka akan bingung dan tersesat. Oleh karena itu semakin sedikit kemungkinan ada manusia yang datang ke tempat mereka.

Handong pergi mencari SuA untuk memberitahukan bahwa mereka harus segera melakukan cara lain untuk mendapatkan penyihir baru. SuA adalah pemimpin mereka, jadi ia harus meminta pendapat gadis itu terlebih dahulu tentang hal yang ada dalam pikirannya.

SuA berada sendirian di salah satu paviliun sedang membuat kaligrafi untuk mengisi waktu luang. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Singnie disana, jadi Handong segera memanfaatkan kesempatan itu untuk bicara pada SuA.

"Agassi," Handong mengintip dari pintu geser yang dibuka sedikit. Memastikan bahwa benar-benar tidak ada Singnie didalam. Bukannya takut bertemu siluman itu. Ia hanya lelah terus-terusan menjadi kambing congek di antara mereka berdua.

"Eoh, Dong-ah!" SuA melambaikan tangannya meminta Handong untuk mendekat. "Kemarilah!"

Handong masuk dan memastikan pintu itu kembali tertutup rapat. Ia duduk di depan SuA dan merasakan bulu kuduknya meremang. Ada yang salah disini, terlebih ketidak hadiran Singnie di tempat dimana SuA berada bukanlah hal yang lumrah.

"Kau ingin mengatakan sesuatu?" Tebak SuA, dan tentu saja itu benar.

Handong berusaha menyingkirkan firasat aneh tak beralasan itu dan beringsut mendekat, membuat bantal duduknya ikut terseret bersama bokongnya. "Eoh! Aku ingin mengatakan sesuatu."

SuA menyingkirkan peralatan kaligrafinya ke samping kemudian membereskan tinta dan batu tulis dari atas meja hingga tak ada apapun lagi di atasnya. "Kau bisa mengatakannya."

"Agassi, aku ingin pergi ke Kaeseong," ucap Handong langsung.

"Wae?" Sesuatu menyeruak dari dalam lemari dengan suara berisik.

Tentu saja itu adalah Singnie. Sejak awal ia ada disana. Bukan bersembunyi, melainkan tidur. Ia pikir terlalu merepotkan mengeluatkan kasur dari lemari, jadi ia tidur di dalam lemari saja. Ia terbangun setelahnya ketika mendengar suara Handong.

Handong mengusap wajahnya frustasi karena ternyata itu bukan sekadar firasat konyol. Itu adalah pertanda bahwa Singnie ada disana.

"Mengapa kau ingin pergi? Wae?" Singnie terus memberondong Handong hingga mendapatkan jawaban. "Mengapa kau pergi jika SuA ada disini? Bagaimana jika aku merebutnya.

Itu sebenarnya kurang tepat tentang siapa yang merebut siapa. Karena selama ini yang berusaha merebut SuA justru adalah Handong.

"Aku tahu suatu saat hari ini akan tiba," SuA menanggapinya dengan bijak. "Hari dimana kau akan pergi untuk membangun klanmu sendiri. Aku tidak bisa menahanmu karena kau yang berhak atas hidupmu sementara disini begitu membosankan. Hanya saja ... jika suatu saat kau lelah dan ingin kembali, aku selalu ada disini."

Handong menghela nafas lelah. SuA atau Singnie tak ada bedanya. Apakah sesuatu diucapkan dengan kebodohan atau terdengar bijak, keduanya salah. Ia tidak pergi untuk meninggalkan tempat itu.

"Aku hanya ingin mengunjungi keluarga Jung dan menanyakan keadaan mereka," Handong menyebutkan nama sebuah keluarga penyihir besar yang tinggal di ibu kota. "Sudah lama kita tidak mengunjungi mereka, sekaligus aku ingin meminta saran tentang kondisi kita yang suda lama tidak memiliki penyihir baru. Atau jika beruntung, aku bisa menemukan seseorang yang ingin belajar sihir dalam perjalanan nanti."

The Last WolfTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang