Part 20

97 24 31
                                    

Seoul, 2020

Minji menatap sosis yang disodorkan Si Yeon padanya dengan penuh haru. Ia hanya memintanya sekali dan gadis itu langsung memberikannya tanpa berpikir panjang. Bahkan Yoo Hyeon saja tidak pernah bersikap seperti itu padanya. Mereka lebih sering berebut makanan dibanding saling memberi.

Ia memang yang selalu membuatkan bekal untuk Yoo Hyeon setiap adiknya itu akan pergi sekolah. Bahkan hingga hari ini. Sejak tinggal bersama di Seoul mereka menjadi semakin dekat bahkan lebih dekat dari yang seharusnya. Meski sejak awal ia telah menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya, namun itu semakin menjadi-jadi ketika ia melihat Yoo Hyeon tumbuh menjadi gadis remaja. Bukan lagi anak-anak. Ia melihat Yoo Hyeon berganti pakaian. Ia tak sengaja masuk ketika Yoo Hyeon mandi. Ia yang terpaku pada bokong Yoo Hyeon yang sedang memungut sereal yang tumpah di lantai. Ia yang mulai memimpikan hal-hal erotis tentang Yoo Hyeon. Ia yang semakin menginginkan gadis itu. Ia yang merasa menjadi gadis bejat karena Yoo Hyeon adalah adiknya.

Puncaknya adalah ketika ia pulang larut malam dalam keadaan mabuk setelah mengikuti makan malam bersama rekan-rekan satu timnya. Ia cukup sadar untuk pulang sendiri dengan taksi, akan tetapi ketika melihat Yoo Hyeon yang menunggunya pulang membukakan pintu untuknya, ia langsung kehilangan akal sehatnya. Ia menyerang adiknya yang tampak mengantuk itu.

Yoo Hyeon tidak menolaknya. Bahkan dari gerakan tubuh dan respon yang diberikan gadis itu, ia bisa mengetahui bahwa Yoo Hyeon merasakan apa yang ia rasakan dan telah menahan diri lama sekali. Dan itu menjadi hal yang ia sesali malam itu. Mengetahui apa yang Yoo Hyeon rasakan terhadapnya, membuat ia menginginkan lebih sementara itu sangat tidak mungkin. Akan lebih baik jika dirinya seorang yang memiliki perasaan tidak pantas semacam ini. Namun, ia malah memulainya dengan Yoo Hyeon.

Keeseokan paginya, ketika ia terbangun setelah melakukan hal kotor terhadap adiknya sendiri, gadis itu sudah tidak ada lagi. Yoo Hyeon mengemas seluruh barangnya dan pergi dari rumah.

Dan ia bisa membayangkan bahwa ini akan lebih sulit bagi Yoo Hyeon. Ia tidak pernah menganggap Yoo Hyeon sebagai adik sementara tidak dengan gadis itu. Yoo Hyeon akan lebih merasa bersalah, adiknya itu akan lebih merasa terpukul.

Lagipula Yoo Hyeon bukannya tidak tahu bahwa mereka bukanlah saudara kandung. Gadis itu menolak untuk mengingatnya karena ia menginginkan keluarga normal seperti anak-anak lain. Ia cukup besar untuk mengerti. Ia berada di umur yang mampu mengingat. Hanya saja ia tak ingin melakukannya.

Itu bukanlah dugaan tanpa alasan. Yoo Hyeon selalu mengingat bagaimana Min Ji mengobati dan menghiburnya ketika kakinya terluka. Ia selalu menyebutnya dengan sentuhan ajaib Min Ji Eonni. Gadis itu mampu mengingat kejadian tersebut dan melupakan kejadian lain yang terjadi di hari yang sama. Pernikahan kedua orangtua mereka. Bukankah itu cukup membuktikan bahwa Yoo Hyeon hanya menyimpan kenangan yang ia inginkan dan melupakan sisanya?



Daejon, 2002

"Yoo Hyeon-ah!" Min Ji berlari begitu mendengar tangisan Yoo Hyeon, seorang gadis kecil yang kini sedang terduduk memeluk lututnya di tengah jalan berbatu.

Padahal Min Ji sudah memperingatkan untuk tidak berlarian. Tapi, dasar anak-anak. Sepertinya pantang bagi mereka untuk melakukan apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang. Hasilnya bisa dilihat sekarang. Bocah itu terjatuh dan melukai lututnya setelah berlari mengejar kupu-kupu.

Usianya lima tahun. Ayah Min Ji membawanya ke rumah ketika Yoo Hyeon baru saja dilahirkan karena tidak memiliki keluarga lain. Ibunya harus terbaring lebih lama di rumah sakit karena sempat mengalami kecelakaan ketika akan melahirkan. Min Ji tidak terlalu ingat detail kejadiannya, namun ia menyukai Yoo Hyeon yang saat itu terlihat sangat menggemaskan.

The Last WolfTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang