Part 16

127 21 13
                                    

Seoul, 2020

SuA menatap Min Ji yang sejak tadi termenung di halaman belakang. Ia tidak pernah bisa melihat orang yang dalam kesulitan. Hanya diam dan tidak membantu, itu bukanlah gayanya. Dan tak melakukan apapun ketika melihat ada seseorang yang membutuhkan bantuan karena kebodohan membuat ia merasa tidak tenang. Ia harus melakukan sesuatu.

Terlebih, permintaan dari seorang kawan lama benar-benar tak bisa ditolaknya. Ia harus membantu Min Ji apapun yang terjadi, bagaimanapun caranya.

Tapi, apa yang bisa ia lakukan untuk menyingkirkan kebodohan? Min Ji menyiksa diri sendiri dengan menolak memberitahu Yoo Hyeon bahwa mereka bukanlah saudara kandung sementara ia memiliki perasaan terhadap adiknya itu. Ia mungkin bisa lepas tangan jika Yoo Hyeon tidak memiliki perasaan yang sama. Namun, ia melihat sendiri bagaimana Yoo Hyeon juga menyiksa diri dengan mengurung diri di kamarnya tanpa melakukan apapun termasuk makan karena ia memiliki perasaan yang menurutnya tidak pantas terhadap Min Ji. Sebenarnya, masalah akan selesai jika Yoo Hyeon tahu. Meski harus ada yang dikorbankan yaitu kekecewaan setelah mengetahui bahwa ayah yang ia sayangi selama ini bukanlah ayah kandungnya.

Hal seperti ini selalu membuat SuA geram. Bukan bagaimana orangtua yang memperlakukan anak yang bukan darah daging mereka sebagaimana anak mereka sendiri, melainkan tentang tidak memberitahu sejak awal. Apa yang begitu mereka khawatirkan? Toh kasih sayang tidak ada hubungannya dengan kebenaran. Mereka masih bisa menyayangi anak-anak itu setelah mengatakan bahwa mereka bukanlah orangtua kandungnya. Kecuali untuk alasan egois dimana mereka tak ingin dianggap sebagai orang lain. Bukankah itu berarti cinta yang mereka berikan sejak awal tidaklah tulus karena mengaharapkan sesuatu? Dianggap sebagai orangtua kandung.

"Cham!" SuA menarik sudut bibirnya, mengejek ketika Min Ji kaget karena ponselnya berbunyi. Polisi macam apa yang kaget hanya karena sebuah ponsel? "Cinta buta membuatnya menjadi orang tolol."

Sayangnya tak ada mantra yang bisa menyingkirkan kebodohan. Kecuali mencuci otaknya hingga ia benar-benar lupa ingatan. Atau keberuntungan.

"Keberuntungan!" SuA bersorak dalam hati ketika ia miliki sesuatu untuk membantu Min Ji. Setidaknya ia memiliki keberuntungan untuk dibagi. Hanya saja meski mampu mendatangkan keberuntungan, tak ada yang tahu kapan keberuntunhan itu tiba. Kau hanya harus sabar menantikannya.

SuA bergegas menuju ruang bawah tanah, tempat ia menyimpan benda-benda sihirnya. Ia mengambil beberapa barang yang diperlukan lalu meraciknya dengan mantra tanpa mempedulikan hantu Tuan Park yang masih bergentayangan disana. Pria itu tak pernah mengusiknya lagi, hanya terkadang menunjukkan diri atau menjatuhkan beberapa benda karena bosan.

Setelah selesai dengan apa yang ia kerjakan, SuA kembali ke atas untuk menemui Min Ji dan menemukan Handong dan putri kesayangannya, Ga Hyeon sedang merisak Min Ji dengan mengolok-oloknya. SuA mempercepat langkahnya untuk menyelamatkan gadis malang itu.

"YA! Jangan mengganggunya!" Teriakan SuA yang melengking membuat para perisak itu ketakutan dan melarikan diri. SuA mendekat dan menghampiri gadis itu. Tidakkah ia mirip dengan leluhurnya yang payah? "Sepertinya kau lebih suka bengong disini dan dirisak oleh dua orang itu dibanding pergi bekerja."

Min Ji terlambat menjawab karena kaget dan berpikir SuA tadi meneriakinya. "Kebetulan ini adalah waktu liburku."

SuA mengangguk dengan ekspresi mencemooh. Gadis itu bahkan tidak sadar sedang diolok-oloh oleh Handong dan Ga Hyeon. "Tidak heran mereka menyebutmu pabo."

Min Ji memasang wajah tak mengerti. Bahkan yang seperti ini saja ia tidak mengerti. Bodoh sekali.

"Ah! Kau baru saja membongkar rahasiamu ketika kau mabuk, jika kau penasaran." SuA menjelaskan alasan mengapa gadis-gadis itu menyebutnya bodoh. "Karena itu mereka mengatakanmh bodoh. Meski aku setuju dengan itu."

The Last WolfTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang