24🥀

14 2 0
                                        

Happy Reading)

"Bisa ikut aku Rak? " ajak perempuan itu, yang jaraknya hampir 1 meter jauhnya saat ia bertanya

" Kenapa ngga mau deket sama gua? Jiji? " sindirnya halus, sambil menaikkan sebelah alis dan matanya

" Engga, sebelah kamu banyak meja sama bangku aja. Jadi susah " elaknya, sambil berusaha mendekat

" Oh, gue kita jiji. Ikut kemana emang nya? "

" Loteng "

" Kapan? "

" Nanti pulang sekolah, yaudah duluan " ucapnya sambil lari keluar. Ia ingat pesan Farell untuk tidak boleh dekat dekat, apalagi lama lama dengan Raka. Ia terlalu jahat katanya

Lalu, ia menyusul teman teman nya yang ada di kantin, sambil berlari "Eh maaf mas, aku engga sengaja" ucapnya gugup dan sedikit ketakutan.

Di depannya ada pria yang sedang membawa tumpukan buku yang banyak, dan ia menabraknya. Sungguh sial

Sambil memunguti ia meruntuk dalam hati, kenapa dirinya sangat croboh. Ia tidak mau memandang wajah seseorang yang di tabraknya. Sungguh hatinya tidak enak

"Ngapapa kali" jawabnya nyaring. Tepat di atas kepala Hellen. Ia berani mendongak dan menatap wajahnya.

Ekspresinya datar lalu berdiri, dan memberikan buku yang sudah tertata dari tangannya ke tangan berikutnya.  "Mau kemana? Buru buru banget kayaknya"

"Kekantin. " sedikit bingung dan canggung ia menjawab pertanyaan yang tadi di lemparkan Bintang.

" Mukanya gausah gitu kali, gue udah putus sama Olin. Udah ya gausah gaenakan "

" Eh? hm" jawabnya kikuk. 'Gatanya, aku gapernah tau juga' pengen banget kata kata itu terucap. Tapi susah, mulutnya yang udah alim dari lahir mah beda, gabisa ceplas ceplos.

"Mau temenin gue ke perpus ga? "

" Maaf, aku udah di tunggu Essa sama Berly " ucapnya sambil lari pergi. Sungguh ia takut sekarang dengan Bintang

Ia takut Bintang akan seperti Raka. Dan menghancurkan hati sahabatnya lagi. Ia terlalu naif jika tidak tahu bagaimana gelagat temenya saat di sebelah Bintang.

Saking takut dan paniknya, lagi lagi ia harus menabrak seseorang. Dia menabrak dada bidang yang sama sama sedang berlari. Bedanya ia berlari pelan dan kecil.

"Aku minta maaf" tunduku sambil menyatukan jari pertanda maaf

"Minta maaf lo g berguna, bikin dada gue kotor aja gara gara bekas lo" tandasnya lantang, sambil berusaha menghilangkan jejak Hellen di dadanya

"Mau nya apa? " ucap Hellen yang merasa tidak enak.

" Pergi lo dari kehidupan gue, ganggu aja. Hidup lo itu ngga berguna. Bikin sakit mata kalo liat "

" Sakit mata ya?! Matalo yang bengek atau otak lo yang di jari kaki? " ucap perempuan dari arah belakang Hellen

" Geng cupunya udah kumpul, eh. Kurang satu lagi ya yang galak. Haha, "

RUMIT Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang