Happy Reading !!
Tangannya yang mencengkram kuat tanpa benar-benar mencekik leher lelaki itu, Hinata menatapnya dengan sangat tenang, meski keinginannya untuk membunuh pria itu semakin besar.
Sedikit saja, seandainya ia benar-benar memperkuat cengkramannya, bisa dipastikan ini akan menjadi pembunuhan pertama Hinata setelah resmi menjadi seorang biarawati.
Hinata tidak pernah membiarkan emosi menguasainya, tapi keberadaan lelaki itu disini membuatnya sangat marah dan terganggu.
"Sudah kubilang. Jangan berani muncul di hadapanku, atau aku akan membunuhmu!"
Desisan bersuara rendah yang terdengar mengancam, membuat lelaki dihadapannya tersenyum melihat bagaimana Hinata yang kini memperlakukannya dengan sangat kejam.
Tidak ada lagi sapaan ramah dengan wajah cantik yang tersenyum kearahnya, tidak ada bola mata yang menatapnya penuh cinta, tidak lagi.
Naruto terlalu bodoh, berharap hal mustahil setelah melakukan hal menjijikkan yang membuat Hinata mengubah pandangannya.
Tersenyum sendu."Tenang, Hinata. Kau bisa membunuhku, setelah aku membicarakan ini pada rekan bisnisku." Katanya santai, mengerling pada Sasuke yang nampak tenang ditempatnya.
Hinata tidak kunjung melepaskan cengkramannya, hingga membuat Sasuke menghela napas melihatnya.
Sebenarnya Sasuke tidak masalah jika Hinata membunuh Naruto sekarang juga, tapi ia ingin mendengar apa yang akan dikatakan lelaki.
Meraih tangan Hinata. "Lepaskan, suster Hinata." Katanya dengan suara halus.
Mengerling pada Sasuke, dibalas anggukan ringan tanpa suara, hanya senyum manis yang muncul di wajah Sasuke.
Menghembuskan napasnya kasar, menyentak tangannya dari leher Naruto, berbalik tanpa kata dan kembali duduk di sofa ruang tamu Sasuke.
Naruto melihatnya dengan tatapan takjub dan getir, kenapa rasanya sangat menjengkelkan begini? Pikirnya miris.
"Duduklah. Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Tanyanya santai, setelah duduk di samping Hinata.
Hinata membuang mukanya, rasanya mual saat harus berada di satu ruangan dengan lelaki itu.
Bajingan!
Menarik lepas tangannya yang digenggam Sasuke, Hinata memilih pergi darisana untuk mencari angin segar yang lebih baik untuk pernapasannya.
Membiarkan kedua lelaki dewasa itu membicarakan apapun yang ingin mereka bicarakan.
Hinata tidak peduli! Tidak sama sekali.
Saat Hinata keluar dari pintu depan, ia berpapasan dengan Itachi yang baru datang entah darimana.
Sasuke memberi kode pada Itachi untuk mengawasi Hinata, meski ia yakin jika gadis itu tidak akan pergi tanpa membawa tasnya yang masih tergeletak di sofa ruang tamu.
"Kau tidak perlu mengikutiku, aku tidak akan kabur!" Sahutnya, saat menyadari lelaki itu ada di belakangnya, berjarak dari tempatnya berdiri.
Itachi tidak menyahut, memilih bersikap formal pada Hinata, mungkin juga waspada.
Gadis itu bisa meledakkan granat, Itachi hanya memastikan keamanan semuanya.
Berbalik badan untuk mengamati lebih jeli pada sosok Itachi yang sepertinya tidak asing dalam ingatannya.
Dimana Hinata pernah melihatnya?
"Itachi-san, apa kau sudah lama menjadi anak buah Sasuke?" Tanyanya.
Itachi tetap berdiri tegak dengan gaya formalnya yang kaku. "Bukan urusan anda!" Jawabnya.
Hinata mendengus remeh, "Kaku sekali. Apa yang Ino sukai darinya?" Gumaman yang disengaja sedikit keras.
Raut wajah Itachi berubah, sesaat setelah Hinata menyebut nama Ino diantara mereka.
Hinata memang sengaja melakukannya, setelah berusaha keras mengingat-ingat dimana ia pernah melihat lelaki itu sebelumnya.
Ino pernah mengatakan padanya, bahwa gadis itu mengencani seseorang, meski Ino tidak menyebutkannya dengan jelas.
Hinata tidak sengaja melihatnya, gambar wallpaper layar ponsel Ino.
KAMU SEDANG MEMBACA
MR. MAFIA
FanfictionHyuuga Hinata, si gadis biarawati mantan anggota agen CIA dengan keahlian khusus sebagai penembak jitu. Bagaimana jika ia harus dihadapkan pada mafia beriman sejenis Uchiha Sasuke yang bisa sangat merepotkan. "Tuhan tidak akan menghukum orang yang b...
