25. *

638 90 4
                                        

Happy Reading !!

Hinata belum melakukan apapun saat melihat berita bahwa gedung Sunwoo group mengalami kebakaran hebat hingga menimbulkan kerugian yang tentu saja tidak sedikit jumlahnya.

Memijit pelipisnya yang berdenyut, menyadari bahwa Uchiha Sasuke begitu brutal dalam melakukan sesuatu.
Hinata menganggap jika lelaki itu selalu bertindak secara spontan, tanpa rencana dan tidak peduli dengan kerugian yang ada.
Seperti yang barusaja diberitakan di media, seratus persen Hinata yakin jika itu ulah Sasuke dan komplotannya.

Hinata masih melakukan kegiatan rutinnya di Gereja.
Masih melakukan acara bersih-bersih dan merawat tanaman di kebun saat pagi.
Masih sering berbelanja ke pasar bersama Sasori, yang kadang-kadang Kiba ikut juga.

Semenjak Hinata meminta Sasori bergabung dalam tim mereka, Kiba sering menginap di rumah Sasori yang berada di deretan rumah tinggal Hinata.
Semuanya masih tetap sama, tidak banyak perubahan berarti dalam kesehariannya, meskipun ia melakukan dua peran sekaligus.

Hinata dipaksa berhenti untuk menyelidiki Sai, ulah Sasuke yang tidak mau mendapat bantahan apapun darinya.
Dan tentu saja, itu menyebabkan perang besar yang menjadikan Sasori dan Kiba sebagai penontonnya, tambahan Ino dan Itachi yang juga turut serta disana.
Lengkap dengan sekantong berondong jagung rasa manis dan soda.
Mereka memang bukan manusia.

Satu bulan, setelah acara amal yang sama sekali tidak ada amal-amalnya, Hinata masih dalam masa buntu karena Sasuke yang begitu menyebalkan hingga memaksanya untuk berhenti melakukan apapun yang berhubungan dengan Sunwoo group atau bahkan Naruto dan ayahnya.

Jangan berharap Hinata akan menurut begitu saja, tentu tidak mungkin ia menjadi penurut hanya karena Sasuke memaksanya untuk berhenti dan diam di Gereja seperti gadis biarawati lainnya.
Sementara lelaki itu malah bertindak seenak jidatnya.

Menancapkan sekop kecilnya dengan sekuat tenaga, merasakan dorongan kuat untuk menghajar Uchiha Sasuke sampai sekarat.
Menepuk tangannya untuk menghilangkan bekas tanah yang menempel di telapak tangannya, Hinata harus memberi peringatan karena tindakan Sasuke yang serampangan tapi tetap terencana.

"Mati kau hari Uchiha Sasuke." Geramnya dengan suara desisan rendah yang terdengar menyeramkan.

Sasori dan Kiba yang kebetulan melihat Hinata dengan wajah bersungut-sungut itu nampak tidak heran sama sekali dengan sikapnya.

Mengunyah camilannya dengan wajah damai, "Dia mulai lagi." Kiba berkomentar.

Sasori mengangguk membenarnya, berlalu darisana dengan tampang polos tanpa dosa yang tergambar di parasnya.
Dua anak itu tidak akan ikut campur dalam masalah pribadi Hinata, lebih senang menjadi penonton daripada ikut ambil peran disana.

Untuk sementara ini, Hinata memang menghentikan misinya, tanpa memberitahu Gaara dan ayahnya.
Hinata benar-benar mengambil alih semuanya, tanpa melibatkan pihak dalam organisasi mereka.
Hanya Kiba dan Ino yang benar-benar tau tentang ini, Sasori sebagai tambahannya.

Tidak ada banyak orang yang bisa dipercayainya, bahkan jika itu Gaara atau bahkan ayahnya sendiri.
Hinata hanya mempercayai dirinya sendiri, sejak insiden besar yang membuatnya mengambil jalan ekstrem yang mengubah jalurnya.
Satu hal yang dipegangnya saat ini, jangan percaya pada siapapun, bahkan jika itu adalah orang terdekatmu.

Mengganti seragam susternya dengan pakaian santai yang membuatnya terlihat lebih muda dari umur sebenarnya.
Saat memakai sweater ungu muda bergambar bunga seperti ini, Hinata tidak ubahnya seperti anak Sma yang manis dan sedikit nakal.
Membiarkan rambutnya tergerai bebas, Hinata mengambil topi putih dengan merk terkenal di bagian depannya.

MR. MAFIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang