Happy Reading !!
Menopang dagu pada sandaran kursi yang di dudukinya, Hinata terlihat kagum sekaligus heran saat melihat ayahnya yang sedang bermain dengan si kembar.
Terlihat sangat sehat, tidak seperti seseorang yang perutnya barusaja di belah seminggu lalu.
"Ayah baik-baik saja?" Tanyanya untuk yang kedua kali sejak 30 menit yang lalu.
Hyuuga Hiashi terkekeh, menoleh pada anak gadisnya. "Tentu saja." Singkatnya.
Tidak masuk akal, pikirnya.
Hinata barusaja pulang dari kantor agensi, mampir sebentar ke mansion untuk melihat bagaimana keadaan ayahnya yang seminggu lalu melakukan operasi pergantian cip untuk yang ketiga kalinya.
Dalam beberapa hari ke depan, Neji yang akan mengambil alih sampai ayahnya benar-benar pulih.
Tapi, tentu saja tidak perlu banyak waktu untuk membuat seorang Hyuuga Hiashi kembali pulih seperti sebelumnya.
Bahkan sekarang, ayahnya itu terlihat sangat sehat dan bugar.
Sekarang Hinata mulai meragukan, apakah ayahnya benar-benar manusia normal?
"Kenapa tidak menginap saja?"
Suara Tenten bertanya padanya, setelah menempatkann sepiring besar potongan buah untuk ayah mertua dan anak kembarnya.
Mengambil garpu di pinggiran piring, menusuk potongan apel dan mulai mengunyahnya.
Menggeleng, "Aku punya pekerjaan, nee-san." Jawaban asal-asalan yang membuat Tenten menghela napas.
"Anak-anak sangat menyukaimu, Hinata. Sesekali menginaplah disini. Oke?"
Mengerling jenaka, tatapannya tampak usil. "Apa kalian mau bulan madu lagi?"
Wajah Tenten merona saat mendengar pertanyaan Hinata yang frontal. "Tentu saja tidak."
Hinata terkekeh geli melihat kakak iparnya yang bertingkah seperti pengantin baru.
Hinata pikir, Neji sangat beruntung karena memiliki Tenten sebagai istrinya.
Seorang pria berhati dingin dan keras kepala seperti kakaknya, memang membutuhkan perempuan penuh pengertian dan kasih sayang seperti kakak iparnya.
"Ayah, aku pergi sekarang."
"Kenapa tidak menginap saja?"
Menggeleng remeh dengan senyum ringan yang mengembang santai.
"Hiro Hika, bibi pergi dulu. Jadi anak yang baik, oke?"
Menciumi kedua pipi gembil anak kembar Neji yang sekarang memeluk lengan Hinata dengan ringan.
"Nee-san, aku pergi."
"Hu-um, hati-hati di jalan."
Bukannya Hinata tidak betah di rumah, ia hanya tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya.
Masih segar ingatan perdebatannya dengan Neji beberapa jam yang lalu, dimana kakak lelakinya itu memaksanya untuk tidak melakukan apapun.
Neji meminta Hinata untuk berhenti, memaksa lebih tepatnya.
Memukul setir dengan ekspresi kesal, Hinata sudah biasa menantang maut, seharusnya Neji sadar akan hal itu.
Seseorang yang meracuni ayahnya, pasti juga akan mengincarnya.
Ditambah dengan pesan misterius yang diterimanya, Hinata yakin dengan dugaannya.
Sekarang, Hinata tidak yakin dengan siapa yang harus dipercayainya.
"Tidak bisa begini." Gumamnya.
Satu-satunya orang yang diharapkannya untuk bisa dipercaya adalah Sasuke.
Lelaki setengah sinting yang muncul pertama kali dalam benaknya.
Menepuk kepalanya, Hinata tidak bisa berpikir dengan benar sekarang.
Seperti seseorang membuatnya meminum sesuatu yang membuat tenggorokannya tercekik.
Uchiha Sasuke sedang mempelajari cetak biru sebuah bangunan yang beberapa waktu lalu dikirimkan Itachi padanya.
Dengan kacamata baca berframe tipis yang bertengger manis diwajahnya, lelaki dewasa itu terlihat seperti seorang dosen tampan yang menjadi incaran para mahasiswa.
Pemilik grand tower tertinggi di Distrik industri Chiba itu memang di didik sebagai pebisnis sejak usia dini.
Tidak heran jika kemampuannya dalam bernegosiasi sangat disegani oleh lawan bisnisnya yang lain.
Sasuke bukan orang penyabar, itu kabar buruknya.
Sasuke melirik jam tangannya, merasa tidak fokus dengan pekerjaannya.
Gangguan itu membawanya keluar dari ruang kerjanya setelah mengambil jaket hitamnya.
Berlari menuruni anak tangga, menyadari jika pasangan konyol itu masih belum keluar dari ruang bawah tanahnya.
Sepertinya mereka sedang menikmati mainan baru yang tinggal disana.
Melenggang tanpa peduli, tidak perlu mencegah keduanya yang sedang bermain-main dengan tahanan yang berada di penjaranya.
Siapapun yang mengusiknya, akan berakhir dalam keadaan yang tragis, tidak peduli jika itu adalah calon walikota dan anak buahnya.
Ino berkacak pinggang dengan wajah garang, "Baiklah. Teruslah diam dengan tampang bodohmu itu." Sarkasme yang membuat Itachi menggelengkan kepala.
Ino menatap tajam pada Naruto yang masih keukeuh dengan kebisuannya.
Sasuke tidak membunuhnya, membiarkan bajingan itu membusuk di penjara ruang bawah tanahnya.
Menyiksanya secara perlahan-lahan, hingga membuatnya memilih untuk mati daripada menjalani hukuman yang diberikan Sasuke padanya.
Tidak. Sebenarnya Sasuke tidak akan langsung turun tangan, karena ada tangan kanannya yang akan mengurusi hal ini.
Tapi, jika sampai tahanannya berulah, itu saatnya Sasuke mengambil alih situasi.
Ada Ino dengan otak kreatifnya, Itachi dengan emosi tenang namun mematikan miliknya, dan Nagato dengan kekejaman tanpa kenal ampunnya.
Hinata sudah bertemu dengan dua tangan kanannya, tapi gadis itu tidak harus bertemu dengan Nagato, si malaikat pembunuh yang disembunyikan Sasuke di suatu tempat.
"Akan aku pastikan, jika Hinata akan membunuhmu dengan tangannya sendiri."
Menyeringai sinis, melenggang santai meninggalkan Naruto yang tetap bungkam tanpa mengatakan apapun padanya.
Itachi melemparkan tatapan membunuhnya, meraih tangan Ino dan berjalan keluar darisana.
Keberadaan Naruto tidak diketahui oleh Hinata, itu menjadi jawaban atas pertanyaan Hinata dalam otaknya.
Selain Naruto, ada Minato dan Sai yang dikurung disana.
Tentu saja tidak satu tempat, orang gila seperti mereka bisa berbuat sesuatu yang membuat Sasuke merugi.
Seorang penjahat lebih membenci ejekan daripada kematian.
Ino adalah orang paling aktif yang berusaha keras membuat para bedebah itu membuka mulutnya, tentang siapa yang saat ini mengincar Hinata dan keluarganya.
Termasuk dalang di balik kematian Hyuuga Hikari, ibu kandung Hinata.
Dunia hanya mengetahui bahwa Hikari meninggal karena penyakitnya, tapi cerita lain ada di baliknya.
Ino bisa membayangkan, akan seperti apa reaksi Hinata jika ia bisa membuktikan kecurigaannya.
**
Mobil Sasuke terparkir di halaman depan gereja, di samping mobil Hinata yang juga berada disana.
Lelaki itu tampak bodoh sekarang, tidak tau apa yang sebenarnya ia inginkan.
Mendatangi Hinata pada jam dini hari adalah acara paling konyol untuknya secara pribadi.
Kecuali jika Sasuke memiliki rancangan lain, seperti bercinta contohnya.
Itu baru terdengar masuk akal.
Menyeringai sinis, sebesar apapun keinginannya untuk meniduri Hinata, Sasuke tidak akan melakukannya disini, tidak di rumah tinggal Hinata yang berada di bagian samping gereja.
Otaknya yang religius melarangnya untuk melakukan itu pada anak gadis seseorang.
Hinata kehilangan kemampuan tidurnya, insomnia yang mengganggunya sejak beberapa bulan ini semakin parah setiap harinya.
Rasanya sangat sulit hanya untuk memejamkan mata dengan tenang.
Keluar dari rumahnya, dengan sweater rajutnya yang hangat.
Mengernyit heran saat melihat mobil Sasuke yang terparkir di samping mobilnya, berjalan menghampirinya.
Orang gila mana yang begitu religius untuk melakukan sembahyang dini hari seperti ini?
Mengetuk kaca jendela, "Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya setelah jendela mobil Sasuke terbuka.
"Masuklah." Katanya singkat.
Menurut, masuk ke mobil Sasuke dengan wajah heran yang tidak bisa disembunyikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MR. MAFIA
FanfikceHyuuga Hinata, si gadis biarawati mantan anggota agen CIA dengan keahlian khusus sebagai penembak jitu. Bagaimana jika ia harus dihadapkan pada mafia beriman sejenis Uchiha Sasuke yang bisa sangat merepotkan. "Tuhan tidak akan menghukum orang yang b...
