Hampir ku tidak up malam ini kalo gak nyampe vote 20
😏
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jiyongie, aku ingin kembali bersama Ha Joon. Jadi lepaskan aku."
"Mwoo? Tapi sayang, kau itu milikku. Bahkan kita sudah bertunangan."
"Kita hanya bertunangan, belum menikah. Nikah pun bisa bercerai, apalagi hanya pertunangan."
"Tapi sayang, kau sendiri yang bilang padaku tidak akan meninggalkanku. Kenapa sekarang kau ingkari?"
"Karena Ha Joon lebih baik darimu. Selamat tinggal, Jiyongie. Aku pergi!"
"Andwae, sayang! ANDWAE!!!"
Pagi yang cerah dikejutkan oleh teriakan Jiyong yang terdengar dalam kamar yang dihuni oleh dirinya dan Seungri. Kekasih Lee Seungri ini membuka matanya, retina coklatnya membesar. Napasnya memburu, detak jantungnya berdebar kencang. Itu bukan mimpi buruk, tapi bagi Jiyong itu sangat menakutkan.
Begitu dia tersadar sepenuhnya, Jiyong menoleh ke sisi kanan kasurnya. Kosong. Dia mendudukkan dirinya di kasur, matanya mencari-cari keberadaan orang yang baru saja mengusik mimpinya. Kamar itu kosong. Hanya ada dirinya.
"Sayang, kamu di mana? SAYANG!!!"
Ceklek
Pintu kamar terbuka dengan cepat. Jiyong dapat melihat siapa yang baru saja masuk ke kamarnya. Hatinya mencelos, hampir saja dia jantungan.
"Wae hyung? Gwaenchanha?"
Seungri menghampiri Jiyong yang masih duduk di kasurnya. Dengan berdiri di tepi kasur, Jiyong langsung memeluknya, membenamkan wajahnya di perut Seungri.
"Hei, are you okay? Hyung, kau sakit?"
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku!" suara Jiyong terdengar kurang jelas karena terbenam di perut kekasihnya.
"Itu hanya mimpi, sayang. Aku tidak akan ke mana-mana." Jari jemari Seungri membelai lembut mahkota hitam halus milik Jiyong. Seungri tahu kekasihnya masih dalam keadaan gelisah.
"Kau dari mana?" Jiyong mengangkat wajahnya hingga iris mereka saling bertemu.
"Di dapur. Menyiapkan sarapan untukmu. Ayo, turun dan kita makan dulu."
Seungri melepaskan tangan Jiyong dari pinggangnya dan menariknya, membuat Jiyong beranjak dari kasur. Kaki rampingnya dipaksa jalan mengekori Seungri. Matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa dari Seungri pagi ini. Kakinya berhenti melangkah membuat Seungri menoleh ke belakang.
"Wae?"
"Kau mau ke mana sudah berpakaian seperti ini?" Jiyong melihat Seungri dengan pakaian formalnya.
"Bukankah kita sudah membahasnya semalam?"
"Jadi kau serius?"
"Apa aku terlihat main-main?"
Jiyong bergeming dari tempatnya. Dia teringat pembicaraan dirinya dengan Seungri dan ketiga lainnya. Jiyong memang menyanggupi keinginan Seungri. Tapi sejujurnya dia masih berharap Seungri mau berubah pikiran.
"Jangan bilang kau berubah pikiran lagi?"
"..."
"Hyung, kau sudah janji padaku!"
Jiyong mendekati Seungri, kedua tangannya menggenggam pinggang tunanganya. Menatap lamat mata indah milik Seungri.
"Arra, aku sudah mengijinkannya. Aku hanya khawatir saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
La Guardia (END)
ActionSeseorang menginginkan kematian Seungri yang merupakan CEO perusahaan raksasa dan pemimpin Phoenix. Namun usaha itu selalu digagalkan oleh salah satu pengawalnya. Hal itu juga yang menimbulkan benih cinta di antara keduanya. Apakah cinta mereka akan...
