Cahaya surya menyapa seluruh bumi pertama kali di musim semi ketika musim dinging berakhir. Pria bertubuh sintal ini terbangun dengan kepala pening. Tersadar jika dia sudah berada di kamar utamanya lagi.
Dengan memijat pelipisnya, Seungri berusaha mengingat-ingat apa yang sudah terjadi semalam. Kilas ingatan hadir dalam pikirannya. Terakhir yang dia ingat dirinya yang mabuk di depan Jiyong dan semakin tersadar kala ingatan bersama Ha Joon muncul.
Dia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, bisa bernapas lega karena ternyata jubahnya masih rapi membalutnya. Bertepatan dengan itu, seseorang masuk ke dalam kamarnya dan membawa senampan yang Seungri sendiri tidak tahu isinya.
"Selamat pagi, Tuan Lee! Anda sudah bangun?" sapa Jiyong dan dia meletakkan nampan itu di atas nakas.
"Bukannya kau yang kusuruh istirahat di sini? Kenapa aku yang tidur di sini?" Seungri mendudukkan dirinya dan bersandar pada headboard kasurnya.
"Aku sudah tidak apa-apa, tuan." Jiyong mengangkat mangku yang ada di atas nampan dan menyerahkan pada Seungri. "Silahkan tuan. Saya sengaja membuatkan sup gingseng untuk menghilangkan rasa pengar anda."
Seungri menerima mangkuk itu, memperhatikan isi mangkuknya, setelahnya dia kembali melihat Jiyong.
"Kau yang membuatnya?"
"Iya, tuan. Maaf kalau rasanya tidak enak."
Tak ada lagi basa-basi, Seungri langsung meminum habis isi mangkuk itu. Pandangan Jiyong tak putus memperhatikan Seungri meski sedetik pun. Seungri menyukainya. Dia sendiri tidak tahu harus senang atau apapun itu. Pasalnya selama ini belum ada pengawalnya yang memperhatikan dirinya seperti itu.
"Enak. Aku suka itu," sanjung ketua Phoenix ini seraya menyerahkan mangkuk kosong ke tangan Jiyong.
"Gamsahamnida. Sebaiknya tuan mandi, karena hari ini anda harus melihat Noise."
Seungri membenarkan ucapan Jiyong, bahwasanya dia harus mengunjungi Noise kali ini, karena sebelumnya dia sempat gagal bertandang ke perusahaannya yang baru.
"Aku mandi dulu, kau jangan ke mana-mana. Tetap di sini sampai aku selesai."
"Ne, tuan."
Tak butuh waktu lama, Seungri segera menghilang dari balik pintu kamar mandi dan Jiyong tetap berdiri tak jauh dari pintu masuk kamar Seungri. Dia memperhatikan setiap sudut ruang di kamar itu. Semenit kemudian dia melamunkan sesuatu hingga tanpa sadar Seungri sudah keluar dari kamar mandi mengenakan jubah mandinya.
"Sedang melamun?" tegur Seungri, Jiyong pun tersadar.
"Ye? Ah, maaf Tuan Lee."
"Gwaenchana. Hal manusiawi."
Jiyong menundukkan kepalanya ketika sang majikan berjalan ke sana kemari demi rasa sopannya. Sebenarnya jika bisa memilih, Jiyong lebih memilih menunggui tuannya di luar kamar.
"Jiyong, kemarilah!"
"Ye?" Jiyong masih diam di tempatnya.
"Kubilang kemari." Tidak sabar melihat Jiyong yang hanya terpaku diam, Seungri memilih menarik tangan Jiyong dan membawanya mendekat kasur.
"Duduk!"
"Tuan ...."
"Duduk saja!"
Seungri sedikit memberi tekanan pada kedua bahu Jiyong, memintanya untuk duduk di tepi kasur. Jiyong tidak mengerti apa yang diinginkan tuannya.
"Buka bajumu."
"Nde?" Sudah pasti Jiyong terkejut dengan perintah Seungri.
"Aishh, apa kau tuli? Aku bilang buka bajumu."
KAMU SEDANG MEMBACA
La Guardia (END)
ActionSeseorang menginginkan kematian Seungri yang merupakan CEO perusahaan raksasa dan pemimpin Phoenix. Namun usaha itu selalu digagalkan oleh salah satu pengawalnya. Hal itu juga yang menimbulkan benih cinta di antara keduanya. Apakah cinta mereka akan...
