Beberapa minggu terakhir memang semuanya sangat sibuk, entah Javin dan Gibran yang sibuk membuat konten. Si para mahasiswa sibuk organisasi, sekaligus Arjuna dan Bagas yang mengejar untuk ujian skripsi tahun ini. Aziel, Satya, dan Galih yang juga sibuk dengan pekerjaannya. Mereka jadi kurang punya waktu untuk selalu makan malam bersama lagi.
Si penghuni termuda yaitu Adamar, Ezra dan Aji yang sering kali ditinggal makan sendirian di ruang makan yang begitu besar dengan meja bundar 3 buah itu. Terlebih, Adamar yang selalu menghindari untuk bertatap muka dengan Ezra memilih untuk pulang larut malam dan pergi lagi pagi-pagi buta. Jadi hanya tersisa Ezra dan Aji. Ada sesekali, Theo ikut makan menemani mereka, tetapi sama saja dengan para mahasiswa lain, Theo juga lebih sering pulang larut malam.
"AJI, DI MEJA MAKAN ADA MAKANAN NGGA?" teriak Ezra dari lantai dua kepada Aji yang di lantai dasar.
"GIMANA MAU ADA MAKANAN, DARI TADI SORE ISI RUMAH CUMA KITA BERDUA DOANG!" balas Aji.
Iya, sejak kedua anak SMA itu pulang sekolah, satupun dari anak GunBu lain tidak ada yang pulang. Bukan sesuatu yang baru lagi sebenarnya, karena beberapa hari terakhir sudah begitu. Jadi dua anak itu bisa memaklumi. Tapi sedihnya, mereka seperti anak terlantar karena tidak ada yang menyiapkan makanan. Soalnya kalau mereka masak, dapur akan hancur lebur.
Ezra yang sudah turun ke dapur menghela napas ketika melihat dapur yang begitu sunyi, begitu juga Aji yang berdiri di sampingnya.
"Apa kita pesan makan aja? Tapi ini tuh akhir bulan, harus hemat," keluh Ezra.
"Yaudah, masak mie instan aja dah, rusak-rusak deh usus," balas Aji.
Tidak lama, terdengar suara mendekat ke arah dapur. Rupanya itu Azidan pulang dengan dua bucket ayam KFC beserta minumannya. Wajah Aji langsung berseri-seri.
"Nih, makan buat kalian, ya," ucap Zidan lalu pemuda itu langsung berbalik dan seperti akan pergi lagi.
Aji bingung dan bertanya, "lho, Bang, mau kemana? Nggak mau makan bareng?"
"Nggak bisa, gua masih harus ngurus sesuatu di kampus, soalnya udah H-3 event. Makan aja semua, itu buat kalian!" teriak Zidan yang sudah berjalan jauh.
Lagi-lagi dua anak SMA itu menghela napas. Terharu dengan pemberian Zidan tapi tetap saja tidak ada satupun dari anak GunBu sekarang yang punya waktu luang untuk makan malam bersama.
Kalau biasanya mereka akan menjadi yang tukang ribut saat makan, kali ini mereka makan dengan sunyi. Ya wajar, orang hanya berdua. Benar-benar sunyi yang bahkan hanya terdengar suara jangkrik. Wajah keduanya sudah murung, meskipun tetap makan dengan lahap.
"Waw, pesta ayam nih!" Sebuah suara membuat Aji dan Ezra menoleh cepat.
Itu Rama pulang!
Pemuda jangkung itu mendekati meja dan mengambil sepotong ayam lalu melahapnya.
"Kok baru balik, Bang? Ada acara?" tanya Aji.
Rama mengangguk masih sambil melahap ayamnya. "Tadi ada softskill."
"Makan tuh duduk, Bang! Sini!" ujar Ezra sambil menunjuk kursi di sebelahnya.
Rama langsung menggeleng cepat. "Ini gue mampir doang kok, masih ada rapat," jawab Rama sambil melirik jam tangannya. "Gue ambil satu lagi, ya, hehe."
Dan pemuda jangkung itu juga berlalu begitu saja, kembali meninggalkan dua bocah SMA dengan wajah murung mereka.
"Abisin aja deh ini ayam, buat kita 'kan kata Bang Zidan tadi?" ucap Ezra malas.
KAMU SEDANG MEMBACA
GUNTUR BUANA✔️
Teen FictionGuntur Buana adalah sebuah rumah yang begitu megah, berdiri di tengah-tengah Jakarta yang begitu padat dengan tajuk sebagai 'kost eksklusif' khusus laki-laki. Penghuninya berisi sekumpulan pemuda dengan karakter yang berbeda-beda, berbagi kehidupan...
