Sore itu, seorang Basudewa Harsa kembali menjadi manusia heboh (seperti biasanya), tetapi kali ini ada yang berbeda. Meski pemuda Nareswara itu terkenal menjadi biangkerok dan selalu menyebalkan ketika sifat usilnya kambuh, kala itu ia panik sendiri sambil mondar mandir di ruang tengah. Ya, meskipun tetap menyebalkan karena ia terus merengek ke Langit dan Radi.
"WOI INI GUE HARUS GIMANA?!" teriaknya kepada dua temannya yang sedari tadi hanya duduk dan asik bermain ponsel.
"Salah lo sendiri, ngapain pake ngasih-ngasih alamat!" balas Radi.
"Gue pikir dia nggak bakalan nekat mau dateng?!"
Langit berdecak pelan. "Yaelah, kayak nggak kenal itu cewek aja lo, bukannya dia rival lo di basket?"
Arsa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "ADUH! Gue kabur aja kali, ya?! Nanti kalau dia dateng tolong bilang kalau kalian nggak pernah kenal sama yang namanya Arsa."
"Dikira dia anak TK percaya gitu aja?" sahut Langit.
"Lagian lo parah banget, jersey tanding anak orang dua tahun lebih nggak dibalikin. Lo jadiin jimat apa gimana?" tanya Radi.
"MASALAHNYA TUH KEBUANG SAMA MAMI! Mampus gue mampus!" Arsa kembali panik sambil menggigit jari.
Radi sampai menatap wakannya tak percaya. "Astaga, Sa! Bisa-bisanya kebuang?! Lu anak mami banget sih! Masa jersey aja Mami lu yang ngurus!"
"POKOKNYA GUA MAU KABUR. TOLONG KERJA SAMANYA TEM--" belum selesai Arsa berbicara, ia tidak sengaja menabrak Theo dengan memasang wajah polos ke Arsa.
"Nah, ini dia Arsa! Sa, ini ada yang nyariin lo," ucapnya dengan penuh kepolosan sambil menunjuk gadis yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Theo.
Iya, siapa lagi kalau bukan gadis yang jersey-nya Arsa pinjam. Semuanya berawal dari dua tahun lalu saat Arsa masih kelas 2 SMA dan akan tanding basket. Saat itu ia lupa membawa jersey-nya, jadi terpaksa meminjam punya adik kelas yang saat itu membawa. Baju tanding sekolah mereka unisex dan gadis itu adalah satu-satunya yang membawa baju tanding waktu itu. Terus-terusan lupa mengembalikan, berakhir Arsa lupa dan, ya, bajunya hilang. :)
Arsa menatap Theo dengan senyum kaku yang dipaksakan, lalu perlahan melirik seorang gadis yang masih berseragam SMA. Gadis itu memang berperawakan cukup mungil, tetapi wajah dan sifatnya sudah cukup membuat Arsa ketakutan.
Namanya Rhea.
Gadis yang sejak menginjakkan kakinya di sekolah terpaksa bernasib sial karena harus berurusan dengan Arsa terus. Mereka satu klub basket dan selalu ribut perkara hal kecil sehingga berujung menjadi rival. Tidak hanya itu, Rhea cukup terkenal menjadi ketua geng di sekolah saat kelas 2, sering terlambat upacara, dan langganan guru BK. Mau tak mau hal itu membuatnya bertemu Arsa terus lantaran pemuda itu adalah Wakil Presiden Osis, dan guru BK mereka adalah pembina Osis.
Antara takdir baik dan takdir buruk kalau kata Arsa.
Kalau sekarang ini sih jelas takdir buruk, pikir Arsa dalam hati.
"Hehehe, ADUH LUPA KALAU GUE HARUS JEMPUT KAK ASYA HEHEHE, duh kalau telat nih bisa ngomel dia," celoteh Arsa mengalihkan dan perlahan akan pergi. Tetapi Rhea dengan cepat menghadang.
"Nggak usah cari-cari alasan, Kak! Mana jersey gue!" tagihnya.
Rupanya dari belakang muncul Dirga dengan wajah bingungnya melihat kehadiran seorang gadis berseragam SMA. Dengan memalui sorot mata bertanya, ia melirik Langit dan bertanya dalam diam. Entah bagaimana Langit bisa paham, pemuda itu menjawab dengan gelengan pelan dan menunjuk ke arah Arsa.
KAMU SEDANG MEMBACA
GUNTUR BUANA✔️
Fiksi RemajaGuntur Buana adalah sebuah rumah yang begitu megah, berdiri di tengah-tengah Jakarta yang begitu padat dengan tajuk sebagai 'kost eksklusif' khusus laki-laki. Penghuninya berisi sekumpulan pemuda dengan karakter yang berbeda-beda, berbagi kehidupan...
