Tiada hari tanpa bucin. Suatu kalimat yang dengan jelas mendeskripsikan seorang Azidan Guinandra. Bagaimana tidak, ketika pacarnya OSPEK, dia yang sibuk bangun pagi dan menyiapkan perlengkapan. Ketika pacarnya ada kelas pagi, rapat sampai malam, dan kegiatan lainnya, dia juga yang akan sibuk jadi ojek pribadi gadis itu.
Semuanya bukan karena gadisnya yang meminta, tapi sepenuhnya keinginan Azidan. Memang definisi bucin sesungguhnya 'kan? Untunglah pacarnya ini tipe gadis yang penurut. Apapun perkataan Azidan selalu didengarnya dengan baik dan tidak pernah membantah. Kadang Azidan juga heran, selama hampir 4 tahun mereka pacaran, belum pernah sekalipun berantem hebat. Bahkan gadis itu ngambek atau semacamnya pun tidak pernah. Dan itu membuat Azidan takut dan selalu bilang,
"Kamu kalau mau marah jangan ditahan, please, aku gapapa kalau kamu marah!"
Pemuda itu takut suatu saat gadis itu akan tiba-tiba meledak seperti bom waktu.
Gadis itu dengan sabar selalu menjawab, "Apa yang harus aku marahin, Kak Zidan? Masa baik aku marahin!"
Lihat, jawabannya saja begitu. Bagaimana bisa seorang Azidan tidak bucin?
Iya, gadis yang membuat Azidan bucin total adalah Audinna Dwi Argawijaya.
Tidak asing dengan nama keluarganya 'kan?
Gadis itu adalah sepupu dari Yudha.
Kejadian tempo hari di mana Audi datang untuk mencari Dirga itu berujung pada sesi perkenalan pacar Azidan kepada seluruh penghuni GunBu. Karena sialnya, saat Azidan mau mengantar Audi pulang, tiba-tiba ia berpapasan dengan Aziel di basement. Alhasil, Audi ditarik masuk lagi oleh Aziel untuk ikut makan malam dengan anak-anak.
Yudha pun kaget mendengar fakta bahwa sepupu jauhnya adalah pacar Aziel sejak SMA. Mengingat dia dengan keluarga intinya sejak lama tinggal di Jerman, dan jarang bertemu dengan keluarga jauhnya di Bandung.
"Gue baru tau kalau Azidan dulu SMA-nya di Bandung sebelum pindah ke sini," ujar Bara tiba-tiba.
"Zidan 'kan kelas 3 pindah ke Jakarta, jadinya kalian LDR?" tanya Aziel ke Audi. "Kok lo mau aja LDR-an sama dia? Nggak takut dia selingkuh?"
Gadis itu menggeleng pelan. "Nggak. Soalnya Kak Zidan pernah janji bakalan ngedance telanjang dada di tengah lapangan sekolah kalau dia selingkuh, Kak."
"HAHAHAHAHA. PANTES AJA DULU ADA CEWEK CANTIK YANG DEKETIN, DIA LANGSUNG KERINGAT DINGIN!" heboh Jendra.
"Diem lo!"
"Gila sih, Bang Zidan, bucin lo maksimal!" ucap Arsa yang mengacungkan kedua jempolnya.
"Jangan bilang ini lo ambil kuliah di Jakarta karena mau ketemu Zidan?" tanya Dafa tiba-tiba.
"Nggak juga sih, Kak. Soalnya kakak gue dari SMA emang udah di Jakarta dan keterima kuliah di sana juga, yaudah gue disuruh buat ke Jakarta aja," jawab gadis itu santai.
"Satu kampus juga sekarang?" tanya Aziel.
"Iya. Satu jurusan sama Kak Zidan kok," jawab Audi sambil mengangguk cepat.
Azidan yang saat itu sedang minum entah kenapa terbatuk tiba-tiba. Padahal tidak ada angin tidak ada hujan, tidak ada banjir juga.
"Asik, ya, Bang Dan, kuliah sekalian konsultasi sama kakak ipar," ucap Arsa dengan wajah menyebalkannya.
Sedangkan Azidan hanya berusaha tertawa kecil seperti sedang menyembunyikan kecanggungan. Ada apa dengan pemuda itu?
Audi langsung pulang setelah itu, Azidan memaksanya pulang sebelum terlalu malam. Soalnya nggak akan selesai kalau terus meladeni pertanyaan anak-anak GunBu, bias-bisa gadis itu tidak pulang karena ditahan oleh Kakaknya, Aziel.
KAMU SEDANG MEMBACA
GUNTUR BUANA✔️
Novela JuvenilGuntur Buana adalah sebuah rumah yang begitu megah, berdiri di tengah-tengah Jakarta yang begitu padat dengan tajuk sebagai 'kost eksklusif' khusus laki-laki. Penghuninya berisi sekumpulan pemuda dengan karakter yang berbeda-beda, berbagi kehidupan...
