Ketegangan

672 79 0
                                        




Ketegangan : Akhir dari Segalanya?








Sudah hampir larut, pertanda acara juga akan berakhir. Tetapi belum ada satupun tamu yang berniat untuk pulang. Tentu saja, kebanyakan tamu adalah para gadis, yang punya kewajiban mengantar adalah makhluk-makhluk GunBu.

Ketika acara sudah resmi di tutup, di sisi lain yang mungkin hampir tak terlihat, ada seorang gadis yang tidak sengaja bertatap muka dengan seorang pemuda yang sangat dihindarinya.

Delya mematung saat tidak sengaja bertemu dengan Adamar. Detik selanjutnya ia ingin langsung berbalik untuk pergi, tetapi Adamar dengan cepat menahan lengannya.

"Del tunggu!"

Dengan cepat sang gadis melepaskan cengkraman itu. "Mau apa lagi, Adamar? Lo nggak capek bikin keributan terus? Kalau Ezra lihat, yang kasihan itu lo!"

Perkataan gadis itu ada benarnya. Bukan hanya masalah antara dia dan Adamar, tetapi ia juga menghindar karena Ezra. Emosi pemuda Adiwangsa itu tidak bisa dikontrol jika menyangkut Adamar dan Delya.

"Tapi, gue cuma berusaha buat jelasin semuanya. Kalian nggak kasih gue kesempatan buat itu," ujar Adamar dengan wajahnya yang sudah pasrah.

"Gue juga tahu kalau lo kemaren sempat mau bawa Wina 'kan ke sini?" lanjut Delya, berusaha menahan tangannya yang bergetar. Rasa takutnya pada Adamar masih ada. Tetapi ia berusaha untuk meluruskan.

"Gue nggak msalah dengan itu, dan gue juga udah bilang ke Wina. Urusan kita udah selesai, tapi bukan berarti kita bisa akrab kayak dulu lagi," gadis itu kembali berusaha untuk menjauh tetapi lagi-lagi Adamar menahannya.

"Adamar! Ini tuh acara orang—"

BUGH!

Ucapan Delya terpotong saat tiba-tiba seseorang datang menghampiri bak secepat kilat dan menghantam wajah tampan Adamar dengan kepalan tangannya. Ya, siapa lagi kalau bukan Ezra.

"EZRA!" pekik Delya yang langsung menyita perhatian banyak tamu yang masih berada di sana.

"Akhirnya, udah lama banget gue nahan pengen nonjok lo, ya," ujar Ezra yang tidak peduli bahwa Delya sudah berusaha menahannya. Pemuda itu mendekati Adamar yang sudah jatuh tersungkur dan menarik kerah bajunya.

"Lo nggak nganggep kata-kata gue ancaman, ya? Gue bilang jangan ganggu Delya lagi, kenapa masih aja sih?!" satu pukulan kembali ia daratkan pada wajah Adamar.

Pemuda yang merupakan bungsu Guinandra itu bisa tidak sadarkan diri kalau saja Arsa dan Langit tidak dengan cepat menarik Ezra.

"Lepas, anjing! Gue mau kasih pelajaran itu orang!" protes Ezra yang terus meronta-ronta untuk lepas dari Arsa dan Langit.

"Heh, anjing! Inget lo masih di acara orang, jangan ngerusak suasana!" bentak Langit.

"Apaan?! Dia yang ngerusak suasana!"

Aziel langsung bertindak dan mendekati mereka."Udah, Ezra. Tahan emosi lo," ucap Aziel masih cukup tenang tetapi jelas tatapannya sangat dingin. Berhasil membuat Ezra diam.

Pemuda Adiwangsa itu langsung melepaskan diri dari Arsa dan Langit, kemudian menarik Delya untuk pergi dari sana. Setelahnya, Andaru dan Rama dengan sigap membantu Adamar untuk berdiri sekaligus mengobati luka kecil di wajah Adamar akibat pukulan keras dari Ezra tadi.

"Sorry banget, Bang," ucap Aziel menunduk kecewa pada Galih.

Galih penepuk pelan pundak Aziel. "Gapapa, lagi pula acaranya udah selesai kok. Cuma sangat disayangkan aja karena tamu-tamu belum pulang," balas Galih tenang. "Lagian, kita nggak bisa nebak juga apa yang terjadi 'kan. Udah gapapa, jangan merasa bersalah. Biar nanti gue yang ngomong sama Adamar, lo ajak ngomong Ezra, ya."

GUNTUR BUANA✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang