Mereka mengelilingi kota jakarta. Untungnya matahari pagi yang masih muncul jadi ia tidak perlu kerepotan kepanasan
"Sebenarnya mau kemana sih?daritadi keliling keliling Mulu. Mending Lo turunin gue aja disini mau pulang" ucap Alya pada Dikta yang sejak tadi mengendarai motor tak tentu arah
"Kamu aslinya bawel ya Al,"jawab Dikta yang sedang fokus mengendarai motor
"Gausah nebak nebak. Tebakan Lo salah"
"Tapi kelihatannya gitu,pendiam cuma sama orang yang nggak dikenal atau baru tapi kalau udah dekat dan nyaman pasti kelihatan sifat aslinya"
"Diem,gue nggak mau jawab" sahutnya
"Berarti kamu sama aku nyaman ya Al,udah kelihatan kamu yang sebenarnya"
"pede Lo, emangnya Lo siapa? Sampai bisa buat gue nyaman"
"Kakak kelas kamu, tapi akan jadi teman kamu mungkin suatu saat nanti lebih dari itu"
"Gausah ngarep.gue nggak segampang itu Nerima orang baru apalagi yang ngedekatin cuma ada maunya"
"Berharap itu enggak ada yang salah Al,selama kita berharapnya ke Tuhan. Kalau berharap sama tuhan dijamin enggak bakal kecewa meski kenyataanya nggak seperti yang kita harapkan tapi Tuhan tahu yang terbaik buat kita. Beda lagi kalau berharapnya ke manusia Yang ada cuma kecewa"
"Kalau aku ngedekatin kamu karna memang tulus dari hati gimana?"
Alya diam ia sedang merangkai kata kata dikepalanya. ia juga tidak tahu harus menjawab apa jika memang Dikta benar benar tulus ingin mendekatinya menjadikannya teman tanpa ada maksud yang lain. Apa ia akan menerimanya?atau menghindarinya dengan menyuruhnya menjauh karna Alya tidak pantas disebutnya teman? Entahlah,daripada pusing memikirkannya biarkan waktunya saja yang menjawabnya nanti ia akan pikirkan lagi
"Udahlah mending tentuin tujuannya mau kemana?" Ucapnya mengalihkan pembicaraan yang sedang dibicarakan dengan alibi lain
"Kamu sukanya ngalihin pembicaraan ya. Emang sesusah itu jawab pertanyaan orang lain?"
Alya gelagapan atas pertanyaan dikta,"Enggak gitu,gue cuma enggak tahu aja apa yang mesti gue jawab. Kalau Lo nanyanya yang bikin gua pusing pusing mikir mending nanya yang lain aja"
"kalau aku nanya kamu udah punya pacar atau belum boleh?"
***
Hampir setengah jam mereka berkeliling tidak punya tujuan dan arah harus kemana. Dan sampailah mereka disini duduk didepan penjual es kelapa muda
Padahal yang dilakukannya hanya mengitari jalanan ibu kota tapi rasanya haus juga karna matahari sudah mulai menyengat. Membuat tubuhnya bercucuran keringat
"Pak, es kelapanya dua" ucap Dikta pada penjual es kelapa
"Loh masnya udah pulang sekolah?" Tanya bapak penjual es kelapa itu mengingat hari masih siang dan melihat pakaian seragam yang melekat ditubuh mereka berdua
"Belum pak, anak pintar mah bebas pak mau pulang jam segini juga" jawabnya sambil terkekeh
Bapaknya juga terkekeh "oalah,jadi kalau enggak pintar belum boleh pulang?"
"Enggak boleh, harus jadi pintar dulu supaya bisa pulang duluan. Kan kalau enggak pintar enggak bisa jawab kuis"
Yang dimaksud Dikta itu ketika ingin pulang biasanya guru akan mengadakan kuis dan siapa yang menjawab paling duluan dan dengan benar akan pulang duluan
Alya yang sedari tadi hanya mengamati percakapan yang absurd itu hanya geleng geleng kepala mendengar jawaban Dikta
Si bapak penjual yang tidak mengerti apa yang dimaksud Dikta hanya diam dengan heran
KAMU SEDANG MEMBACA
TEMU
RomanceIni bukan cuma cerita tentang dua orang yang bertemu. Tetapi tentang banyak pertemuan yang harus di lewati. Bertemu dengan kebingungan,kekhawatiran,kegelisahan,kesedihan dan lain lainnya. Dan fase ini harus dilewati. Setiap orang mempunyai cerita h...
